Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jalan Berliku Listianingsih ‘Menghidupkan’ Cabor Senam di Kota Kediri Datangi Sekolah hingga Antar Jemput demi Menjaring Atlet

Emilia Susanti • Kamis, 9 April 2026 | 23:59 WIB
Listianingsih, pelatih senam Kota Kediri.
Listianingsih, pelatih senam Kota Kediri.

 

Wanita ini mengawali kiprah dari atlet senam artistik.  Kini, beralih menjadi pencetak atlet. Perjuangan berat pun harus dia jalani demi membuat cabor ini tetap eksis di Kota Kediri.

EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri

Namanya Listianingsih. Namun, cukup dipanggil Lis. Dia adalah sosok yang telah merasakan asam manisnya dunia senam.

Wajar, Lis telah menggeluti dunia senam sejak belia. Ketika masih duduk di kelas 2 sekolah dasar. Kala senam artistik belum terlalu dikenal.

Baca Juga: Tiga Bupati Godok Pembangunan Flyover Mengkreng Kediri: Didanai Pusat, Kebutuhan Anggaran Sekitar Rp 700 Miliar

Harapan Lis juga sederhana ketika menerjuni cabor ini. Ingin bisa sekolah. Karena itulah dia rela merantau ke Gresik.

“Saya lolos seleksi dari pengprov (Pengurus Provinsi Persatuan Senam Seluruh Indonesia, Red) Jatim.  di sana dijanjikan sekolah gratis, makan gratis, tempat tinggal gratis, jadi saya mau. Karena saya juga dari keluarga yang ekonominya minus, jadi harapan saya waktu itu ya bagaimana caranya bisa sekolah,” kenang wanita kelahiran 1980 ini.

Perjuangannya tentu berat. Hari-harinya penuh dengan latihan. Agenda kompetisinya pun banyak. Namun, Lis tetap menekuninya.

Membuatnya dia bisa mensyukuri pilihan itu. Lantaran bisa menempuh sarjana dengan mudah. Yakni berbekal dengan sederet prestasinya sebagai atlet senam artistik.

“Saya mengikuti kompetisi sampai pra-PON (Pekan Olahraga Nasional, Red). Saya lolos tetapi nggak turun karena senior dari SEA Games yang turun (berlaga di PON, Red) waktu itu,” cerita wanita yang kini tinggal di Desa Blabak, Kabupaten Kediri ini.

Pensiun dari atlet dia mencicipi peran baru. Yakni sebagai pelatih senam. Mulanya, dia memiliki kesempatan untuk berkarir di tingkat provinsi.

Namun, dia mendapat panggilan dari Suyono, pelatihnya yang sekarang sudah almarhum. Sosok Yono inilah yang pertamakali mengenalkan dan mengajarinya tentang senam.

“Lulus kuliah, saya diajak untuk mengembangkan senam di Kota Kediri. Akhirnya saya kembali ke Kediri,” ingatnya sembari menyebut dirinya kembali ke Kota Kediri pada 2007 silam.

Bukan pekerjaan mudah mencetak atlet senam. Lis memulai semuanya dari nol. Sebab, cabang olahraga (cabor) senam belum terlalu dikenal di Kota Kediri tahun itu.

Baca Juga: Terdakwa Rekayasa Rekrutmen Perangkat Desa Akui Gunakan Uang untuk Kepentingan Pribadi, Salah Satunya untuk Biaya Kampanye Istri

Wanita berusia 46 tahun itu harus berjuang keras. Bahkan rela door-to-door ke setiap SD yang ada di Kota Kediri.

Bukan hanya menjual kata-kata, dia juga mempraktikkan langsung gerakan-gerakan senam di depan murid.

“Saya peragakan langsung itu. Terus saya jelaskan detail apa itu senam, gerakannya bagaimana? Terus nanti prestasi yang bisa didapat itu apa? Jadi itu saya jelaskan semua,” urainya sembari menyebut upahnya dengan menjadi pelatih saat itu hanya Rp 25 ribu.

Namun, tantangannya tidak haya itu. Demi atletnya latihan, dia juga harus menjemput. Juga mengantar atletnya pulang.

Upaya yang berujung hasil. Dia mampu mengantar atletnya meraih emas dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim.

“Medali emas pertama saya jadi pelatih di 2019,” ungkapnya.

Artinya, Lis membutuhkan waktu kurang lebih 10 tahun untuk bisa mencetak atlet-atlet berprestasi. Sayangnya, saat cabor yang digelutinya mulai naik daun, dirinya jatuh sakit. Itu terjadi sekitar 2022 lalu.

“Saya drop dan rest selama dua tahun,” kenang ibu dua anak itu.

Dia menceritakan sakitnya itu bermula dari asam lambung. Saat itu aktivitasnya memang sedang padat-padatnya.

Ada 60 atlet yang dia tangani. Sementara berbagai kompetisi juga harus dihadapi. Dia pun kelelahan serta stress berat. Berujung jatuh sakit dan harus istirahat.

Baca Juga: Peluang Genjot Kediri City Tourism, Dorong Becak Listrik Jadi Daya Tarik Pariwisata

“Ya pasti ada kangennya (dengan senam, Red),” ceritanya.

Namun demikian, dia tetap harus istirahat dari aktivitas beratnya itu. Hingga akhirnya, berbagai komplain mendatanginya. Banyak wali murid dari atlet-atlet yang keluar dari latihan.

Atlet senam perlahan menyusut. Situasi yang membuatnya bangkit lagi. Dia merasa harus sembuh untuk menghidupkan cabor senam lagi.

“Tapi awalnya saya cuman datang aja ke latihan. Ya duduk-duduk aja, lihat anak-anak latihan. Terus setelah porprov kemarin, senam (artistik) saya pegang lagi. Alhamdulillah dari 20-an anak setelah saya tinggal, sekarang sudah ada 35-an atlet,” bebernya saat ditemui di sela-sela rapat MGMP di MTs Negeri 1 Kota Kediri.

Kini, Lis telah kembali. Meski begitu, tantangan yang dihadapinya belum berakhir.

Bersua dengan generasi alpha, banyak hal baru yang harus dihadapi. Salah satunya karakter anak dan orang tua.

“Anak sekarang nggak bisa dikerasi. Lalu, misalnya ada anak yang niat, ternyata orang tuanya tidak mendukung. Ada orang tua yang mendukung, anaknya yang tidak mau. Jadi nyari yang dua-duanya mau dan niat itu yang susah,” keluhnya.

Namun demikian, dia tetap akan bersikeras untuk membuat eksis cabor senam.

Baca Juga: Harus Hadapi Tantangan Gaet Suara Anak Muda, PKB Kota Kediri Tunggu Ketua Terpilih Usai Muscab

Dia ingin cabor yang mengutamakan kelenturan fisik ini menjadi dikenal dan menjadi cabor unggulan.

“Harapannya untuk atlet-atlet dari Kota Kediri yang sudah berprestasi, yang menjadi pelatih, bisa kembali ke Kota Kediri,” inginnya. (fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
#koni kota kediri #pelatih senam #senam artistik #persani #mantan atlet