Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mohammad Zainuri, Juru Pelihara Situs Calon Arang yang Tertua di Kabupaten Kediri Bikin Riset Mandiri demi Cari Data Valid

Diana Yunita Sari • Selasa, 7 April 2026 | 20:21 WIB
Mohammad Zainuri juru pelihara (Jupel) tertua yang dinaungi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri (Diana Yunita Sari)
Mohammad Zainuri juru pelihara (Jupel) tertua yang dinaungi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri (Diana Yunita Sari)

JP Radar Kediri - Usianya sudah 70 tahun. Merupakan juru pelihara tertua yang ada di Kabupaten Kediri. Perannya sebagai tokoh agama menjadi penyeimbang dalam tugasnya menjaga situs yang kerap dianggap punya  nilai mistis dan magis.

Angin berdesir di antara rimbunnya batang tebu di Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah. Di tengah lahan hijau itu, berdiri sebuah situs yang diyakini sebagai jejak peninggalan Calon Arang, tokoh legendaris era Prabu Airlangga.

Di tempat inilah Mohammad Zainuri menghabiskan hari-harinya. Bukan sekadar penjaga, pria 70 tahun I ni adalah juru pelihara (jupel) situs tersebut. Bahkan, tercatat sebagai yang tertua di antara jupel yang dinaungi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri.

Baca Juga: Kisah Fabian Maulana, Remaja Penyandang Disleksia Asal Kediri yang Raih Penghargaan Menggambar Internasional

“Dulu, waktu saya kecil, di sini hanya batu berserakan. Tidak teratur,” ucap kakek enam cucu ini, sambil dengan telaten menyapu dedaunan. Sesekali tangannya membersihkan batu-batu purba dari tempelan lumut hijau.

Di memori masa kecilnya, dia ingat  betul sering diajak sesepuh desa nyadran setiap bulan Sura. Membawa lengkong, wadah makanan dari pelepah pisang) sebagai bentuk syukur.

Namun, jalan menjadi Jupel tidaklah mulus bagi Zainuri. Sebelum resmi menjadi pegawai honorer pada 2017, ia adalah sosok yang dikenal religius di desanya. Ia sering menjadi imam salat, khotbah, dan memimpin tahlil. Ketika Kepala Desa menunjuknya menjaga situs, Zainuri sempat ragu dan meminta waktu untuk merenung.

Ada beban moral yang ia pikul. “Tempat seperti ini kan kalau menurut teman-teman muslim yang 'keras' bisa dianggap musyrik,” ujarnya lirih.

Baca Juga: Kisah Edi Saputro, Jupel Situs Candi Tondowongso Kediri  

Namun, setelah pertimbangan matang bahwa menjaga sejarah adalah bagian dari merawat peradaban ia akhirnya setuju. Pekerjaan di sawah pun ia ia kerjakan sambil mengabdi pada situs seluas peninggalan masa lalu itu.

Zainuri sadar, cerita tentang Calon Arang memiliki banyak versi yang simpang siur. Agar tidak salah memberi informasi kepada pengunjung, ia melakukan ‘riset’ mandiri. Ia mengumpulkan kepingan cerita dari tiga sumber berbeda yaitu seorang guru sejarah, sesepuh desa, dan Jupel Situs Semen di Pagu.

“Tiga orang ini tidak saling kenal dan beda profesi. Sudut pandangnya pun beda; ada yang fokus ke mistis, sejarah, hingga sisi keimanan. Tapi intinya sama, ada tokoh Mpu Baradah dan Calon Arang di era Airlangga,” jelasnya.

Bagi Zainuri, Calon Arang bukan sekadar sosok penyebar pagebluk-wabah-seperti dalam film. Ia melihatnya sebagai tokoh perempuan yang memperjuangkan hak.

“Jauh sebelum ada Kartini, sudah ada tokoh seperti beliau yang memperjuangkan hak wanita,” tuturnya.

Bukti fisiknya? Umpak-umpak batu berukuran besar yang ia jaga. Umpak itu adalah alas tiang yang menandakan bahwa dulu di sana berdiri bangunan megah, sebuah padepokan tempat Calon Arang mendidik murid-murid wanitanya.

Baca Juga: Setelah Enam Dekade, Radio ‘Humor’ Itupun Berhenti Mengudara, Ini Kata Pendengar Setia RWS!

Sayangnya, jejak sejarah itu tak utuh. Zainuri bercerita dengan nada getir tentang hilangnya arca-arca kecil di sana. Perusakan terjadi dalam dua gelombang besar yaitu saat gejolak 1965 dan konflik warga pada 2017 silam. Kini, dengan legalitas tanah yang sudah resmi milik pemerintah, tugas Zainuri adalah memastikan sisa-sisa sejarah itu tak lagi dijarah.

Ia bercerita bahwa sebelumnya ia oernah menemukan sebuah pusaka saat menggali tanah untuk dijadikan pembuangan sampah, pusaka tersebut dibenarkan oleh ahli arkeolog bahwa berasal dari masa lalu. Saat ini pusaka tersebut dijadikan acara rutin yaitu Kirab Budaya oleh Desa Sukorejo.

Tantangan terberatnya kini bukan lagi soal stigma musyrik, melainkan menghadapi peziarah yang nekat. Situs ini sering didatangi bus-bus besar dari Bali.

Baca Juga: Nestapa Sujarno, Warga Desa Pagung, Semen Kediri yang Rumahnya Rusak akibat Longsor

“Kadang ada yang nekat ingin menginap. Padahal aturannya tidak boleh, hanya boleh untuk ziarah saja,” katanya.

Kini, dengan gaji honorer yang kini lebih layak dibanding saat awal bergabung (Rp 300 ribu), Zainuri merasa cukup. Di sela-sela kesibukannya, ia tetaplah sang imam yang santun, yang membuktikan bahwa menghargai batu peninggalan tak lantas melunturkan keimanan

Editor : Andhika Attar Anindita
#desa sukorejo gurah #kabupaten kediri #juru pelihara candi #situs Calon Arang #situs calon arang kediri