Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Panjang Bek Persik Kediri Yoga Adiatama Menembus Liga 1, Semua Mimpinya Ditulis di Dinding Kamar

Emilia Susanti • Jumat, 3 April 2026 | 05:30 WIB
Yoga Adiatama mendapat tackle dari pemain Madura United.
Yoga Adiatama mendapat tackle dari pemain Madura United.

 

Tak mudah bagi Yoga Adiatama menjadi bek kiri andalan Persik Kediri. Jalan yang dia lalui penuh riak dan ombak. Termasuk, harus rehat sejenak gara-gara cedera ACL yang dia diderita.

EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri 

Ekspresi wajahnya tak terlihat sedih. Meskipun cedera anterior cruciate ligament (ACL) membelitnya saat ini. Membuatnya harus mengakhiri kompetisi musim ini lebih awal.

“Saya sudah menerima keadaan. Saya terus jalani terapi agar bisa kembali (bermain) musim depan. Itu target saya,” ucap sang pemain, Yoga Adiatama.

Cedera kali ini menjadi yang paling berat sepanjang karirnya. Karena itu, dia menanganinya dengan serius. Sangat bersungguh-sungguh. Dibuktikan dengan progres hariannya yang selalu dicatat di gawai. Tentang berapa besar derajat tekukan lutut kirinya saat menjalani terapi.

“Saya catat semuanya. Saya catat kapan saya cedera, kapan operasi, kapan mulai terapi, dan sebagainya,” ceritanya sambil menunjukkan handphone.

Mencatat memang menjadi kebiasaan pemain 26 tahun ini sejak di bangku sekolah. Bahkan, anak tengah dari tiga bersaudara ini punya kebiasaan menulis semua mimpinya. Termasuk mimpi untuk berkontestasi di kompetisi kasta tertinggi di Tanah Air. Kompetisi ini sekarang dinamai Super League. Lengkapnya BRI Super League.

“Dulu saya tulis itu di tembok kamar,” kenangnya. Sayang, tembok itu telah berganti karena rumah direnovasi. Tulisan tersebut pun tak ada lagi.

Tulisan mimpi-mimpi itu dia lakukan sejak SMA. Atau, sepuluh tahun silam. Menariknya, Yoga kecil ternyata tidak bermimpi jadi pemain sepak bola. Dia hanya senang bermain dan masuk tim sepak bola sekolahnya saat SD dulu. Ada perasaan nyaman dan suka di lapangan hijau. Perasaan yang dia sampaikan ke orang tuanya.

“Mungkin kelas 4 atau 5 SD, saya lupa. Saat itu saya masih belum tahu SSB (sekolah sepak bola, Red). Saya baru masuk SSB itu SMP, hitungannya telat,” ceritanya sembari menyebut SSB Buldozer di Ciamis, Jawa Barat sebagai labuhan awalnya.

Pada awalnya, Yoga merasa tidak betah. Ingin keluar. Tetapi, orang tuanya menegur. Sebab, berbagai perlengkapan sepak bola sudah dibeli. Termasuk kerja keras orang tua mengantar jemput setiap kali berlatih.

Teguran itu mengubah cara pandang Yoga. Mulai bertekad menjadi pemain profesional. Dan perlahan menuliskan satu per satu mimpinya di tembok kamar.

“Saat harus ke PSIS (PSIS U-19), saya ditangisi keluarga saya, tetangga saya juga,” kenangnya saat menceritakan momen pertamanya merantau.

Momen itu adalah pengalaman pertama harus tinggal jauh dari orang tua. Yaitu pada 2019 silam.

Mulanya, Yoga kesulitan beradaptasi. Namun, dia selalu mengingat perjalanan yang telah dilaluinya. Karena itulah dirinya tak mau berhenti berusaha. Dia pun tetap menulis targetnya.

Seiring berjalannya waktu, nasib baik terus mendatanginya. Dia pun begabung dengan tim senior PSIS Semarang. Walaupun masih menjadi tim pelapis. Namun demikian, dia tetap bermain, yakni untuk PSIS U-20. Di kelompok usia tersebut, timnya berhasil meraih juara tiga. Sehingga, namanya pun semakin dilirik.

Selanjutnya, dia mendapat panggilan seleksi untuk menjadi tim sepak bola Jawa Barat untuk pekan olahraga nasional (PON). Dia pun lolos. Lalu setelah itu, dia mendapat tawaran untuk bergabung dengan PSGC Ciamis. Tim yang saat itu berkompetisi di Liga 3. Nembela timnya selama satu musim.

“Kemudian saya lanjut ke Sulut United. Saya kontrak selama satu tahun. Saat di sana, saya sebenarnya dapat tawaran dari Persija. Tetapi karena tidak diizinkan dari tim, saya nggak bisa (gabung ke Persija, Red),” ungkapnya.

Dia pun akhirnya membela Sulut United selama dua musim. Setelahnya, dia mendapat tawaran untuk bergabung dengan Persela Lamongan. Dia pun mengambil kesempatan tersebut lantaran Sulut United degradasi ke Liga 3. Semusim tampil impresif, dia akhirnya mendapat tawaran dari tim-tim kasta tertinggi.

“Persik Kediri yang pertama hubungi, setelah saya diskusikan dengan keluarga, akhirnya saya ambil,” kenangnya.

Debut di kompetisi kasta tertinggi, Yoga menyadari penuh bila persaingan di tim utama akan sulit. Apalagi, di skuad Macan Putih, ada Yusuf Meilana. Yakni pemain asli Kediri yang selalu menjadi andalan di posisi bek kiri.

Meski begitu, dia pun tetap berlatih dengan giat. Bersaing dengan Yusuf Meilana menjadi kesempatan baginya untuk belajar menjadi lebih baik lagi. Siapa sangka, kesempatan berharga mendatanginya. Kala itu, Yusuf Meilana baru saja membela tim Indonesia All Star untuk Piala Presiden. Sehingga, Yusuf melewatkan sesi latihan di tim Macan Putih. Yoga Adiatama pun disiapkan untuk mengisi posisi tersebut.

“Sebenarnya saya ada masalah di ankle kanan. Itu sakit banget, buat jalan sakit. Itu kalau nggak salah dua hari sebelum pertandingan. Dan itu saya nggak bilang siapa-siapa, saat pelatih kiper tanya, saya bilang nggak apa-apa. Alhamdulillahnya, pagi saat pertandingan, kaki saya sudah mendingan,” ceritanya panjang.

Ya, saat itu, dirinya mengaku menyembunyikan kondisinya. Dia terang-terangan tidak ingin melewatkan momen debutnya. Apalagi saat itu Persik Kediri melawan Bali United. Sehingga, dia memilih untuk menahan rasa sakitnya serta menyembunyikan kondisinya dari pelatih dan pemain lainnya. Hanya beberapa orang yang tahu.

“Saya baru cerita setelah pertandingan kalau kaki saya sakit,” katanya.

Menariknya, dia berhasil membuktikan performa terbaiknya. Hingga akhirnya, dia mendapatkan banyak menit bermain di Persik Kediri. Bahkan sudah lebih dari seribu menit. Catatan menit bermain yang sudah ditulisnya di list impiannya.

“Saya tulis target saya di Persik adalah main seribu menit,” akunya.

Namun demikian, perjalanannya di Persik Kediri harus terhenti sejenak. Saat ini, dia harus fokus untuk sembuh dari cedera.

“Target saya musim depan harus bisa bermain lagi,” tandasnya sembari menyebut dirinya juga bermimpi untuk mengenakan jersey Merah-Putih.(fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
#Yoga Adiatama #persik kediri #persik #pemain persik kediri #pemain persik cedera