JP Radar Kediri - Remaja ini memang kesulitan dalam hal membaca ataupun mengeja. Namun, dia punya cara lain untuk menuangkan ide-idenya, yaitu melalui gambar. Kemampuannya itu bahkan membuahkan prestasi di level internasional.
Kios di lantai dua Pasar Pahing ini sangat mencolok. Berbeda dengan kios di sekitarnya, yang juga sama-sama difungsikan sebagai kafe. Tak ada lampu temaram dengan tema minimalis. Melainkan dinding yang penuh dengan lukisan aneka warna. Menariknya lagi, gambar itu tak cuma dekorasi. Tapi jejak perjalanan seorang anak yang menemukan cara berbicara melalui gambar.
Kafe kios itu bernama Nobi Kitchen. Pemiliknya adalah Nafiah Wulandari. Perempuan asal Blitar yang sudah belasan tahun tinggal di Kediri. Sementara, gambar-gambar di dinding kafe adalah karya Fabian Maulana Alkafi, remaja 14 tahun yang juga anak si pemilik kafe.
Baca Juga: Nestapa Sujarno, Warga Desa Pagung, Semen Kediri yang Rumahnya Rusak akibat Longsor
Lalu, apa istimewanya gambar-gambar itu? “Itu karya anak saya yang menyandang disleksia,” ucap Nofi, panggilan akrab Nafiah Wulandari.
Disleksia adalah gangguan belajar yang membuat penyandangnya kesulitan membaca, mengeja hingga menulis. Penyebabnya, bukan rendahnya kecerdasan ataupun penglihatan. Melainkan murnsi soal terganggunya pemrosesan informasi. Akibat perbedaan cara kerja otak dalam memproses bahasa. Ironinya, kondisi ini akan berlangsung seumur hidup.
Untungnya, Fabi-panggilan Fabian-punya cara untuk ‘berbicara’. Yaitu melalui gambar-gambar yang dia buat. Lukisan yang terpampang di dinding kafe orang tuanya adalah bukti perjalanan Fabi dari awal belajar hingga sekarang ini.
“Karena di kosan sudah tidak muat, jadi saya bawa ke sini. Pengennya kan kami punya mini galeri. Ya udah, yuk gabung dulu sama ibu, saya bilang begitu,” cerita Nofi.
Bagi Nofi, melukis awalnya bukan soal prestasi. Aktivitas itu justru berangkat dari kebutuhan terapi. Fabi mulai menggambar saat menjalani terapi disleksia di usia 8 tahun. Saat itu, tak hanya kesulitan membaca dan mengenali huruf, anaknya kerap kesulitan mengelola emosi.
“Anak disleksia itu sulit mengenali huruf, apalagi yang konsonannya kompleks. Jadi dirangsang lewat warna dan gambar,” jelas Nofi.
Dari situlah Fabi mulai akrab dengan crayon dan kertas. Perlahan, media kanvas dikenalkan oleh sepupunya. Sejak itu, rutinitas melukis menjadi bagian dari keseharian. Setiap minggu, ia diberi satu kanvas kecil untuk diisi dengan imajinasinya. Bunga sakura menjadi salah satu objek favoritnya.
Perjalanan Fabian tidak selalu mulus. Sebelum diagnosis disleksia diketahui, ia sempat bersekolah di sekolah reguler. Tekanan sosial membuatnya merasa berbeda. Ia sering menolak berangkat sekolah, bahkan sempat berhenti saat pandemi Covid-19.
“Dia merasa tertekan, sulit mengontrol emosi, mudah marah. Dari situ saya sadar harus mencari bantuan,” kenang Nofi.
Berbagai upaya dilakukan, mulai dari konsultasi ke puskesmas hingga rumah sakit. Hingga akhirnya Fabian masuk sekolah inklusi yang lebih memahami kebutuhannya. Perkembangan mulai terlihat. Tahun pertama, ia belajar mengenal huruf. Tahun berikutnya, mulai berani tampil di depan kelas.
Seiring waktu, kepercayaan dirinya tumbuh terutama lewat seni. Sejak 2022, Fabian mulai rutin mengikuti lomba menggambar. Awalnya dari tingkat nasional, ia berhasil meraih juara dua dalam lomba yang diadakan sebuah yayasan dengan tema kupu-kupu sebagai simbol penyembuhan.
Prestasi itu menjadi semangatnya, Fabian mulai menjajal kompetisi internasional. Seperti dalam salah satu lomba di Bulgaria, ia mengangkat tema tentang keajaiban Indonesia melalui lukisan Raja Ampat. Tak disangka, karyanya meraih medali perunggu dan menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang masuk karya terbaik.
“Di luar negeri itu standar mereka kreativitas. Bukan seberapa bagus karya atau seberapa sempurnanya karya. Tapi lebih ke imajinasinya anak itu seperti apa,” terang Nofi.
Kesuksesan itu berlanjut. Fabian kembali meraih perunggu dari Turki dengan tema warisan budaya. Serta penghargaan juri dari Taiwan lewat karya bertema laut dan lingkungan. Bahkan pada kompetisi di Jerman, ia mengangkat tema personal tentang hubungan dengan guru dan teman-temannya. Karya yang lahir dari pengalaman emosionalnya sendiri.
Hingga kini, melukis sudah menjadi bagian dirinya. Dalam kondisi tertentu, Fabian bisa menyelesaikan hingga delapan lukisan dalam sebulan. Namun, Nofi tetap menjaga keseimbangan, terutama dengan pendidikan. Saat ini, Fabian menjalani home schooling agar bisa lebih fokus mengembangkan bakatnya.
Meski karya-karyanya sudah mulai dilirik, Nofi memilih tidak terlalu mengekspos sisi komersial. Baginya, yang utama adalah memberikan wadah kreativitas serta menjaga semangat dan kesehatan mental anak.
“Saya selalu bilang, ikut lomba jangan untuk menang. Kalau terlalu ambisi, nanti kecewa dan bisa kehilangan bakatnya,” tuturnya.
Lebih dari sekadar prestasi, melukis menjadi bahasa bagi Fabian untuk mengungkapkan perasaan. Nofi bercerita tentang salah satu lukisan sang putra yang menggambarkan dua jerapah dengan judul “Ibu dan Aku”. Ada pula gambar bebek di tengah hujan dengan payung dan bunga, yang ia maknai sebagai perlindungan orang tua di saat ia merasa takut.
“Dia dulu pernah takut hujan, takut petir segala macam. Jadi dia mengibaratkan dirinya jadi bebek ini, makanya dikasih judul nelangsa. Terus payungnya ini bapaknya, bunganya ini ibu. Jadi menurutnya setakut apapun dia selama ada bapak sama ibu dia akan berlari ke sini. Lewat gambar saya jadi tahu isi hatinya,” ujar Nofi haru.
Kini, selain melukis, Fabian juga mulai belajar meracik minuman di kafe sang ibu. Semua menu minuman merupakan hasil kreasinya sendiri. Sebuah cara lain untuk menumbuhkan kemandirian.
Bagi Nofi, memiliki anak dengan disleksia bukanlah kekurangan, melainkan keistimewaan yang perlu dipahami. Ia percaya, setiap anak punya jalannya sendiri untuk bersinar.
“Yang penting dia tidak merasa sendiri, punya tempat untuk pulang,” katanya.
Memang, di balik goresan warna Fabian tersimpan cerita tentang perjuangan, penerimaan, dan harapan. Bahwa keterbatasan bukan akhir, melainkan awal dari kemungkinan yang tak terduga. (fud)
Editor : Andhika Attar Anindita