Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Nestapa Sujarno, Warga Desa Pagung, Semen Kediri yang Rumahnya Rusak akibat Longsor

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 30 Maret 2026 | 01:54 WIB
Sujarno memperlihatkan tembok bagian belakang rumahnya yang jebol setelah tertimpa material longsor pada Sabtu (28/3) sore. (ASAD M.S/JPRK)
Sujarno memperlihatkan tembok bagian belakang rumahnya yang jebol setelah tertimpa material longsor pada Sabtu (28/3) sore. (ASAD M.S/JPRK)

 JP Radar Kediri - Suasana tenang pada Sabtu (28/3) sore lalu di rumah Sujarno, Dusun Getuk, Desa Pagung, Semen, berubah jadi mencekam. Suara gemuruh dari arah belakang rumah, dibarengi material longsor yang berjatuhan, membuat rumahnya tertimbun hanya dalam hitungan detik.

Sujarno memang tinggal di daerah rawan bencana. Rumahnya di Dusun Getuk, Desa Pagung, Kecamatan Semen, tepat berada du di bawah tebing setinggi sekitar sepuluh meter. Tebing tersebut sekaligus menyangga jalan desa.

Sebenarnya, tebing di belakang rumah Sujarno sudah diperkuat dengan tembok penahan tanah (TPT). Namun, hujan yang berlangsung sekitar tiga jam sore itu membuat TPT di sana ambrol. 

Baca Juga: Para Relawan Penjaga Perlintasan Kereta Api Tanpa Palang Pintu yang Tetap ‘Bertugas’ saat Lebaran: Sempatkan Terima Tamu bila Tak Ada Kereta Melintas

Tak ayal, material longsor langsung menimpa tembok dapur rumah Sujarno. Kerusakan menyisakan lubang setinggi tiga meter dengan panjang sekitar dua meter.

 “Saat kejadian saya sedang tidur,” aku Sujarno. Suasana mendung di sore hari membuat rasa kantuknya tak tertahankan. Pria kelahiran 1990 silam itu pun langsung tertidur.

 Saat material longsor menimpa dapurnya, Sutriani, istri Sujarno, sedang memasak di dapur. Dia menggoreng telur untuk sang anak bungsu yang sedang sakit. 

Baca Juga: Keluar-Masuknya Melipir, Malamnya Pernah Sulit Tidur, Ini Kisah Mereka Yang Harus Beradaptasi karena ‘Berteman’ Proyek Tol Kediri-Tulungagung

 Sekitar pukul 17.00, tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh dari arah belakang. Insting bencana di benak Sutriani langsung menyala. Benar saja, dalam hitungan detik tembok belakang dapur langsung ambrol dan material tanah serta bebatuan masuk ke dalam rumah.

 “Istri saya lari keluar sambil membawa telur di teflon saking paniknya. Saya juga langsung terbangun dan berlari,” kenang pria berusia 36 tahun itu.

 Sejurus kemudian pria yang akrab disapa Jarno itu baru berani mengecek bagian belakang rumahnya. Bapak dua anak itu lantas menyelamatkan sepeda motor dan kulkas yang ada di bagian belakang rumah.

Baca Juga: Mengenal Amira sang Digital Artist Kediri dengan Segudang Prestasi, Biayai Diri sejak SMP dari Orderan Gambar

“Saat itu (bencana longsor) posisi sedang gerimis,” imbuh Siti Kastutik, kakak Jarno yang rumahnya tepat berada di samping Jarno.

Tak hanya sekali. Tebing ambrol sebanyak tiga kali. Material tebing yang ambrol melebar dari barat ke timur. Longsoran ketiga itulah yang merusak tembok dapur rumah Jarno.

“Waktu itu panik semua. ‘Awas, awas longsor!’,” lanjut Siti mengulangi teriakan warga Sabtu sore lalu. Dia ikut panik karena tebing di belakang rumahnya tidak terpasang TPT.

 Meski tembok dapur Jarno ambrul dan beberapa peralatan dapur tidak terselamatkan, dia mengaku sangat bersyukur. Sebab, dua anak dan istrinya selamat. Mereka pun langsung mengungsi ke rumah kakaknya.

Baca Juga: Kisah Suyati si Pemilik Rumah yang Dihantam Bus Harapan Jaya saat Laka Beruntun di Muning Kediri

Sekitar pukul 08.00 kemarin, warga langsung kerja bakti membersihkan material longsor. Tebing yang ambrol ditutup dengan terpal. Tembok rumah Jarno yang rusak juga dipasang penyangga kayu agar tidak roboh.

“Alhamdulillah dibantu warga. Pemerintah juga membantu sembako, terpal, dan kompor. Dari desa juga mengirim semen dan pasir,” paparnya.

Sembari fokus memperbaiki rumah, kini Sujarno masih dihantui rasa takut akan bencana longsor susulan. Apalagi, TPT mulai retak dan berpotensi ambrol. Karenanya, dia berharap pembenahan tidak hanya dilakukan pada tebing yang longsor saja. Melainkan juga sisi lainnya yang harus diperkuat.

“Beberapa tahun sebelumnya juga pernah ambrol dua kali. Jadi memang rawan. Semoga dibongkar sekalian dan dibenahi,” harapnya. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kecamatan semen #kabupaten kediri #kediri #korban longsor #Desa Pagung #tanah longsor #longsor #bencana alam