AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri
Dua hari lagi menjelang Lebaran. Sunarto sibuk memoles rumah. Kuas cat bergerak pelan mengikuti gemulai tangannya. Polesan cairan kental warna abu-abu menyaput dinding yang terlihat kusam.
Di tembok yang sama, kusam bukanlah satu-satunya yang harus dilawan sang penghuni. Ada pula retak-retak di sana-sini. Yang juga harus segera dia tambal. Agar terlihat lebih layak bila didatangi tetangga yang bersilaturahmi saat Idul Fitri.
Baca Juga: Cara Dapat Diskon Tarif Tol 30% Lebaran 2026: Berlaku untuk Arus Mudik dan Balik
Sesekali Sunarto menghentikan aktivitasnya sejenak. Menyapa tetangga yang terpaksa menghentikan sepeda motor barang sebentar. Memberi kesempatan pengendara lain yang melintas dari arah berlawanan.
Jalan di gang itu memang hanya selebar bentangan dua setang sepeda motor. Bila berpapasan, salah satunya harus mengalah. Berhenti dulu, memberi jalan yang lain.
Nama tempat ini adalah Gang Tambangan. Lokasinya di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota.
Berada tepat di tepi jalan nasional, yang menghubungkan Kota Kediri dengan kota-kota lain seperti Jombang, Mojokerto, hingga Surabaya.
Gang Tambangan, nama tempat ini, bukan muncul secara sembarangan. Diambil dari sejarah gang puluhan tahun lalu. Hingga era 1990-an, ada tempat penyeberangan perahu di ujung gang yang berbatasan dengan Sungai Brantas.
Menandai gang ini sebenarnya cukup mudah. Lokasinya berada di antara gedung Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kediri dan kantor Kadin Kota Kediri.
Tapi, itu dulu. Ketika belum ada proyek pembangungan jalan tol Kediri-Tulungagung. Kini, kantor Kading sudah lenyap karena tergilas proyek strategis nasional era Presiden Jokowi tersebut. Menyisakan gang dan permukiman padatnya.
“Pas di sebelah kamar ini sudah lokasi proyek,” tunjuk Sunarto ke arah sisi rumah yang berbatasan langsung dengan lokasi alat berat.
Di gang sepanjang sekitar 30 meter itu, terdapat 11 rumah. Jumlah kepala keluarga (KK) mencapai dua kali lipatnya.
Baca Juga: Lebaran Usai, Timbunan Sampah di Kediri Tembus 3.700 Ton, Sehari Hasilkan 125 Ton
Nah, ruang hidup yang sempit kini terasa makin terjepit. Akses jalan utama di depan gang itu kini terhalang proyek. Warga hanya bisa keluar-masuk dengan melipir melalui jalur seadanya di depan kantor PMI.
“Sementara ini jalannya ya situ saja. Rencananya mungkin nanti dikasih jalan (setelah pembangunan selesai, Red). Cuma memang sekarang masih seperti ini,” ucap Nunik, 40, warga lainnya.
Lebih dari setahun ia dan keluarganya hidup berdampingan dengan suara mesin dan getaran tanah. Suara bising alat berat dan getaran pun sudah jadi makanan sehari-hari. Mereka mencoba terbiasa. Meski rasa khawatir tak sepenuhnya pergi.
“Ini sebenarnya banyak yang retak-retak dindingnya, tapi ditambali sendiri. Genting juga mlorot-mlorot ya diperbaiki sendiri karena bilangnya (dari pihak proyek) menunggu proyek selesai. Tapi selesainya kapan kan nggak tahu,” ungkap Nunik, soal alasannya memperbaiki sendiri kerusakan rumahnya.
Dengan jaminan janji itu, Nunik dan warga lainnya pun memilih tetap melanjutkan hidup. Sembari memperbaiki apa yang bisa diperbaiki sendiri.
Atau, mengusahakan kenyamanan sendiri di tengah bising proyek pembangunan.
Atas ‘ketidaknyamanan’ itu, warga sekitar mendapat kompensasi. Bentuknya berupa beras dan minyak goreng. Pemberiannya berlangsung sebulan sekali.
“Anak saya yang usia 8 tahun itu dulu sampai hampir 2 bulan susah tidur terus, waktu awal-awal. Selalu ketakutan rumahnya rubuh,” kenangnya.
Cerita serupa juga disampaikan Siti Maimunah, ketua RT setempat. Di gang sempit itu, puluhan warga sudah tinggal sejak lama. Jauh sebelum ada proyek jalan tol.
Baca Juga: Update Proyek Tol Akses Bandara Dhoho Kediri: Pengerjaan Terus Dikebut, Baru Mencapai 42 Persen
Kata Siti, sebenarnya ada akses jalan lain. Ada di ujung gang yang tembus Masjid Baiturrahman, Semampir. Namun karena akses jalan yang rusak, warga jarang melewati.
Memilih menggunakan jalan utama yang terhubung dengan Jalan Mayor Bismo. Meski harus dengan melipir lewat depan kantor PMI.
“Sama orang PMI diuruk biar bisa lewat. Kalau enggak gitu, mobilnya PMI juga nggak bisa masuk,” kata Siti.
Ia menyebutkan, dampak proyek tak hanya pada akses jalan. Tetapi juga kondisi fisik rumah warga. Selain dinding dan atap, beberapa lantai rumah warga juga pecah.
Meski begitu, warga memilih bertahan. Mereka percaya, perbaikan akan dilakukan setelah proyek rampung– sebagaimana yang dijanjikan.
“Karena kalau belum selesai tapi sudah dibetulkan, nanti rusak lagi,” ujarnya.
Hidup di permukiman padat tepat di samping proyek juga berarti harus berdamai dengan berbagai situasi. Ketika proyek lembur hingga malam hari, mau tak mau ia harus tetap mengusahakan agar bisa terlelap.
Belum lagi anak-anak yang kerap ketakutan dengan suara keras alat berat maupun getaran di lantai.
“Kemarin itu waktu bongkar-bongkar sama pengurukan itu masalah utamanya di debu. Terus pas mulai pemadatan dan pembangunan sekarang, kalau ada lindu itu kami jadi kurang waspada. Ini dari proyek atau memang gempa,” bebernya.
Seiring waktu, warga mulai beradaptasi. Pun dengan anak-anak yang tetap berlarian di sepanjang gang sempit itu. Tiap sore, bocah-bocah di sana juga kerap menyaksikan alat-alat berat yang bekerja di kejauhan.
Menyaksikan sedikit demi sedikit bagian dari lingkungannya yang berada di bantaran Sungai Brantas itu berubah menjadi beton-beton penopang jalan bebas hambatan.
“Kami memaklumi kemajuan zaman. Dulu waktu saya kecil lahir di sini, ini kuburan semua sampai balai desa. Namanya Bong Cino,” kata perempuan kelahiran 1970 itu, mengenang awal perubahan terjadi di kawasan tersebut. (fud)
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita