Masjid Al Amin, di Desa Bringin, Badas memiliki berbagai macam kajian yang rutin digelar tiga kali dalam seminggu. Selain kajian setiap Rabu malam, ada pula kajian Jumat sore yang diikuti ibu-ibu, serta kajian Ahad pagi.
EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Kajian rutin di Masjid Al Amin, Desa Bringin, Badas bermula dari kajian rutin Rabu malam. Kajian itu sudah berjalan sejak awal tahun 2000. Bahkan sejak Masjid Al Amin belum berdiri.
Jemaah yang didominasi oleh warga sekitar Pare, rela mengikuti kajian rintisan yang digelar di toko bangunan. Sekarang lokasinya persis di depan Masjid Al Amin.
Begitu Masjid Al Amin diresmikan pada 2007 silam, tempat kajian langsung pindah ke sana. Seiring berjalannya waktu, jemaah memberi masukan untuk membuat kajian baru selain kajian Rabu malam.
Penambahan kajian itu untuk mengakomodasi jemaah yang semakin banyak. Tidak hanya warga Pare. Melainkan juga warga Kasembon, Malang; Jombang, dan Kota Kediri. Dari hasil diskusi dengan takmir masjid, muncullah kajian Ahad pagi.
"Kajian ahad pagi itu di ahad kedua, keempat, dan kelima," ungkap Takmir Masjid Al Amin Syamsul Maarif.
Kajian setiap Ahad pagi yang berlangsung sejak 2010 silam itu diberi nama Fajar As-Sakinah. Pemilihan nama itu mengandung harapan agar pengajian bisa mendatangkan ketenteraman bagi jemaahnya.
"Fajar kan pagi. As-Sakinah itu artinya ketenteraman. Diharapkan yang ngaji di sini, pulang itu tenteram di rumah. Tenang. Jadi namanya Fajar As-Sakinah," lanjut Syamsul.
Untuk memastikan temanya bervariasi, takmir mendatangkan ustad dari berbagai daerah untuk mengisinya. Mulai dari Kediri, Trenggalek, Nganjuk, Surabaya, Malang. Ada pula yang dari Ponorogo, Solo, hingga Yogyakarta.
Jadwal kajian ahad pagi ini juga sudah disusun dalam setahun. Setiap ustad minimal mengisi kajian dua kali.
Dengan kepastian jadwal ini, jemaah bisa mengetahui siapa saja yang akan mengisi kajian setiap minggunya.
Jemaah semakin dimudahkan karena takmir juga selalu mengunggah informasi kajian lewat media sosial. Mulai di Facebook, Instagram, hingga di Youtube.
"Jemaahnya sekitar 400 orang, tetapi bisa lebih dari 600 orang kalau ustadnya memang favorit. Ustad Rifky Jafar Thalib itu yang paling rame," kenang Syamsul.
Apa saja tema kajian? Syamsul mengaku memasrahkan langsung kepada pengisinya. Mereka biasa menyesuaikan dengan tema yang kekinian. Misalnya, di bulan Ramadan mereka juga membahas seputar Ramadan.
Seperti pada Minggu (15/3) lalu, kajian berisi tentang pentingnya membaca Alquran di bulan Ramadan. Kajian itu diisi oleh ustad Achmad Suharto dari Pondok Modern Gontor Ponorogo.
Khusus di bulan Ramadan, kajian berlangsung di dalam masjid. Di luar Ramadan kajian selalu digelar di halaman masjid.
Meski jumlah jemaah tak sebanyak seperti di luar Ramadan, mereka terlihat fokus mendengarkan kajian. Sebagian bahkan menyempatkan untuk mencatat poin-poin kajian.
Setelah menyimak kajian selama satu jam, para jemaah yang kebanyakan dari luar kota itu langsung meninggalkan masjid. Beberapa di antaranya mendekati ustad untuk konsultasi masalah yang dihadapi. (ut)
Editor : Andhika Attar Anindita