Kajian agama Islam berlabel Karomah di Masjid Baiturrohim Polres Kediri Kota memang baru 6 tahun terakhir. Namun, sudah menjadi agenda rutin yang wajib diikuti oleh pejabat utama maupun anggota Polres Kediri Kota. Salah satu upaya pembentuk disiplin diri.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Pembentukan disiplin yang dilakukan kepada pejabat utama (PJU) maupun anggota Polres Kediri Kota tak hanya melalui cara fisik. Seperti olahraga maupun baris-berbaris. Namun juga melalui rohani. Salah satunya adalah kajian agama bernama Karomah.
Karomah sendiri dalam bahasa Arab artinya adalah kemuliaan atau kehormatan. Namun, dalam konteks kajian ini, Karomah juga akronim dari Kamis Rohani dan Mental Sampai di Hati. Menggambarkan maksud dari kegiatan tersebut.
“Karomah ini dilaksanakan setiap hari Kamis setelah pelaksanaan apel besar. Yang diikuti oleh Kapolres, PJU, dan anggota yang ditunjuk,” ujar Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim melalui Kabag SDM Kompol Riko Saksono.
Terkait peserta ini, selain Kapolres, PJU, dan Kapolsek jajaran yang wajib mengikuti, juga ada anggota yang ditunjuk sesuai dengan hasil pengisian g-form.
Mengapa anggota ditunjuk secara bergiliran? Itu karena menyesuaikan dengan lokasi yang terbatas. Juga jadwal piket yang tersedia.
“Jadi anggota yang saat itu bertugas piket maka kami pastikan fokus pada tugasnya. Baru di minggu berikutnya bisa mengikuti Karomah karena sudah tidak mendapat jadwal piket,” imbuhnya.
Untuk diketahui, nama Karomah sendiri terbentuk atas inisiatif pemimpin Polres Kediri Kota sejalan dengan program rohani yang digalakkan oleh Polda Jawa Timur.
Oleh karenanya, setiap Polres juga memiliki program kajian dengan nama yang berbeda. Disesuaikan dengan hari pelaksanaannya.
“Tergantung pelaksanaanya, kebetulan di Polres Kediri Kota diadakan hari Kamis. Dengan kurun waktu sekitar satu jam. Contohnya selama Ramadan ini dimulai sekitar pukul 08.30 sampai dengan 09.30,” bebernya..
Rangkaian kegiatannya dimulai dengan pembacaan Surah Yasin. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh ustad yang ada di wilayah Kediri Raya. Dan ditutup dengan doa.
Selama penyampaian materi, PJU maupun anggota bisa menyampaikan pertanyaan. Karena ada sesi pemateri melakukan dialog.
“Setiap materi yang disampaikan biasanya ada sesi tanya jawab. Bergantung pada waktu dan pemateri menghendaki atau tidak,” tandasnya sembari menyebut ada sekitar 200 jemaah yang rutin mengikuti.
Ditanya terkait pemateri, Riko menyebut jika semua kalangan diberi kesempatan yang sama dalam mengisi dakwah di Masjid Baiturrohim Polres Kediri Kota. Tidak melihat latar belakang pendakwah. Baik dari Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah hingga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) semua dipersilahkan.
“Semua kami beri kesempatan yang sama dalam menyampaikan dakwah. Karena materi yang disampaikan secara umum bukan spesifik atau mendetail terkait suatu ajaran tertentu,” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.
Tak hanya itu, pendakwah yang hadir untuk mengisi materi ini memiliki background yang beragam. Mulai dari kiai pondok pesantren, akademisi di perguruan tinggi, hingga petinggi di suatu instansi.
Materi yang disampaikan pun juga berbeda-beda. Menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Bahkan, bisa disesuaikan dengan request jemaah.
“Terkait jadwal penceramah ini memang biasanya sudah disusun sejak satu bulan sebelumnya. Hanya saja terkait materi ini kami menyesuaikan sikon (situasi kondisi, Red),” terang lelaki yang sebelumnya menjabat sebagai Kabag Ops Polres Kediri itu.
Perwira dengan melati satu di pundak itu juga menerangkan bahwa keberadaan Karomah sebagai upaya memperkuat pembinaan mental dan spiritual bagi seluruh personel Polri. Mengingat tantangan tugas kepolisian semakin kompleks. Sehingga dibutuhkan kesiapan mental dan spiritual yang kuat.
“Kegiatan Karomah ini merupakan bagian dari pembinaan internal yang berkelanjutan. Utamanya dalam membentuk karakter personel Polri yang beriman, berakhlak, dan profesional,” paparnya.
Harapannya melalui kegiatan Karomah seluruh personel tidak hanya tangguh secara fisik. Tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sekitar.
“Kami juga mengajarkan untuk bertanggung jawab atas semua tindakan yang dilakukan. Misalnya ketika ada anggota yang tidak hadir dalam kegiatan Karomah nantinya harus lapor ke Propam dan siap untuk diberikan sanksi,” pungkasnya sembari menyebut keikutsertaan anggota dilakukan secara bergilir sesuai dengan surat perintah (sprint) yang sudah ada.
Editor : Andhika Attar Anindita