JP Radar Kediri - Di Desa Tambakrejo berdiri sebuah bangunan yang memiliki sejarah panjang. Yaitu Masjid Tua Baiturrahman. Tak ada yang tahu pasti kapan pertama kali masjid ini dibangun. Namun warga meyakini usianya sudah melampaui satu abad. Jauh sebelum sebelum pemukiman di Tambakrejo terbentuk.
“Dulu di sini tanah kosong, sekelilingnya masih hutan belant ara,” cerita Zen Toyib, Imam Masjid Baiturrahman saat ini. Pria 63 tahun tersebut merupakan generasi keempat kepengurusan masjid.
Nama Baiturrahman sendiri diambil dari sang pendiri. Yakni kakek buyut Zen sendiri. Leluhurnya tersebut adalah salah satu prajurit Pangeran Diponegoro. Dia memilih menyingkir ke arah timur saat Pangeran Diponegoro tersebut ditangkap Belanda.
Pelarian dari Jawa Tengah itu membawa Kiai Baiturrahman ke Tambakrejo. Di tempat tersebut kemudian ia membangun masjid dan pondok pesantren. Pada masa awal berdirinya, para santri yang menimba ilmu di sana juga mayoritas berasal dari Jawa Tengah.
Meski bangunan telah mengalami beberapa kali renovasi, keaslian bangunan masih terlihat. Salah satunya adalah sebuah sumur tua yang terletak di dekat area salat perempuan. Sumur itu sengaja tidak ditutup permanen.
“Dulu waktu saya kecil, sumurnya ditutup kayu. Sekarang sudah dibeton, tapi tetap bisa dibuka,” kenang Zen.
Memasuki pintu masuk, jemaah akan disambut dua menara di sisi kiri dan kanan. Keduanya tampak kokoh berdiri. Meski bagian atap menara merupakan material baru. Struktur utamanya tetap asli sejak dibangun lebih dari 100 tahun silam.
Keunikan lain terletak pada detail arsitektur di setiap tiang dan atap masjid. Di sana, terukir lafadz yang sekilas terbaca sebagai Allah. Namun Zen meluruskan bahwa tulisan tersebut sebenarnya berbunyi Lillah.
“Maknanya adalah Lillah, hanya karena Allah. Ini pesan bagi kita bahwa dalam beribadah jangan mengharap pahala atau apapun. Lakukanlah semata-mata karena Allah saja,” jelasnya.
Tak hanya itu, pilar-pilar kayu di masjid ini dihiasi dengan ornamen berbentuk bulat menyerupai bola. Ornamen ini bukan sekadar hiasan. Melainkan sebuah simbol filosofi tauhid.
“Manusia juga begitu. Kalau tauhid dan imannya kuat, mau di kanan-kirinya orang kafir atau berada di lingkungan seperti apa pun, ia akan tetap teguh. Itulah filosofinya,” tutur Zen.
Kini, di sekitar masjid utama, terdapat bangunan-bangunan kecil. Fungsinya sebagai tempat mengaji dan belajar agama bagi anak-anak desa setempat. Selama Ramadan ini, Masjid Baiturrahman juga rutin menggelar salat berjemaah, tarawih, hingga tadarus anak-anak.
Editor : Andhika Attar Anindita