JP Radar Kediri - Masjid Imam Baidhowi di Desa Langenharjo, Plemahan, hingga saat ini masih menarik perhatian masyarakat. Tak hanya menawarkan interior megah layaknya Masjid Nabawi di Madinah. Masjid yang baru berumur tiga tahun ini juga rutin menggelar kajian interaktif yang mengundang antusiasme ratusan jamaah.
Selepas salam terakhir salat Maghrib berkumandang, suasana di dalam Masjidk Imam Baidhowi tidak lantas sepi. Para jemaah justru merapatkan barisan. Mengambil posisi ternyaman untuk menyimak ceramah agama. Sembari menunggu waktu Isya tiba.
Inilah potret kegiatan rutin di masjid itu setiap Selasa malam. Menggelar kajian yang biasa disebut Kajian Malam Rabu.
Kajian tersebut sudah berjalan tiga tahun terakhir. Tepatnya pada 2023. Tak lama setelah masjid diresmikan. Dilaksanakan setiap selesai jamaah salat Maghrib. Yang menginisiasi adalah sang penasihat masjid, Imam Baidhowi.
"Beliau menginginkan masjid selalu hidup dengan kegiatan bermanfaat. Lalu dibuatlah kajian tematik rutin," ujar Abdul Aziz, sekretaris Takmir Masjid Imam Baidhowi.
Takmir kemudian menggandeng KH Supadi, salah satu tokoh agama yang telah lama mengisi ceramah di berbagai tempat. Jadwal kajian yang semula dilakukan pada malam Selasa kini diubah menjadi malam Rabu. Menyesuaikan jadwal sang penceramah.
Perkembangan jumlah jemaah pun terbilang pesat. Dulu, pendengar kajian hanyalah warga yang ikut jemaah Maghrib dan para takmir. Berkisar antara 15 hingga 30 orang.
Namun kini, jumlahnya berkembang pesat. Hingga mencapai lebih dari 100 orang. Mereka antusias mengikuti kajian dilakukan sekitar 45 menit. Lalu ditutup dengan salat Isya berjamaah.
“Kajian sifatnya umum. Ada yang jemaah (tetap), ada juga yang bukan jemaah masjid (yang) sengaja datang,” lanjut Aziz.
Warga yang bukan jemaah rutin biasanya mulai berdatangan tepat setelah Maghrib. Tujuannya memang khusus untuk mengikuti kajian tersebut.
Menurut Aziz, kajian malam Rabu ramai diminati karena isinya sangat mengena. Langsung merujuk pada permasalahan yang sering dirasakan jemaah. Tema yang diambil tidak asing dan biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
“Contoh misalkan gerakan mengangkat tangan ketika selain takbir atau ikhram itu sunnah. Jadi ketika tidak mengangkat tangan setelah takbir atau ikhram ya tidak apa-apa,” jelasnya memberi contoh salah satu materi yang diberikan.
Penjelasan seperti itu bertujuan agar tidak ada kesalahpahaman atau pertentangan di lapangan. Ketika ada jemaah yang melakukan hal berbeda atau tidak wajar, masyarakat sudah tahu status hukumnya adalah sunnah. Penceramah juga terkadang melakukan praktik langsung di hadapan jemaah untuk memperjelas materi.
Materi yang disampaikan pun dikemas dengan guyonan khas bahasa sehari-hari. Penceramah aktif berinteraksi dengan jamaah, seperti melemparkan pertanyaan atau meminta pendapat. Sehingga suasana menjadi sangat interaktif.
“Pokoknya KH Supadi mengambil tema-tema seperti itu, yang ringan-ringan saja. Yang dekat sama masyarakat. Kalau temanya tidak biasa dengan bahasa yang sulit, maka masyarakat tidak akan bisa menangkap. Alhamdulillah kajian ini masuk dan diterima,” urai Aziz.
Abdul Aziz menilai jemaah yang datang setiap minggunya terus bertambah. Mereka datang dengan ikhlas tanpa ada embel-embel sesuatu.
Menariknya, banyak pula warga dari luar Kecamatan Plemahan yang sengaja dating. Seperti dari Kecamatan Kepung dan lainnya. Ada yang datang sendiri-sendiri. Ada pula yang rombongan karena sekaligus penasaran ingin melihat masjid baru tersebut.
Untuk warga sekitar Desa Langenharjo sendiri, informasi kajian biasanya menyebar dari mulut ke mulut. Misalnya, minggu ini datang mendengarkan kajian, minggu depan kembali lagi dengan mengajak saudara. Hal tersebut karena di wilayah setempat kajian Islam rutin seperti ini tergolong jarang. Biasanya hanya berupa ceramah singkat dalam acara tahlilan. Tak heran, kehadiran kajian rutin ini disambut warga dengan penuh antusias.
Editor : Andhika Attar Anindita