Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Kajian Islam Non-pesantren di Kediri Raya (20), Ciptakan Nuansa Pesantren, Pertahankan Tafsir Jawa

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 10 Maret 2026 | 03:00 WIB

TRADISI PESANTREN: Penceramah mengajak jemaah kajian di Masjid As Syifa Turus untuk mengaji tafsir Alquran yang biasa dilakukan di pesantren salaf.
TRADISI PESANTREN: Penceramah mengajak jemaah kajian di Masjid As Syifa Turus untuk mengaji tafsir Alquran yang biasa dilakukan di pesantren salaf.

Kajian kitab di Masjid As Syifa Turus menggunakan model pesantren. Pemaknaan tafsir dilakukan menggunakan bahasa Jawa sebagai wujud penghormatan pada sanad keilmuan.

Meskipun berada di masjid non-pesantren, kajian agama di Masjid As Syifa Turus terasa seperti di pondok pesantren salaf.

Jemaah yang datang tidak sekadar mendengarkan ceramah. Sebagian ada yang membawa kitab untuk menyimak dan mengikuti pembacaan teks yang disampaikan oleh penceramah.

Setiap kali kajian berlangsung, penceramah biasanya terlebih dahulu membacakan ayat pada kitab.

Setelah itu, teks tersebut dimaknai menggunakan bahasa Jawa sebagaimana tradisi yang umum digunakan di pesantren.

Baru setelah itu, isi kitab dijelaskan kembali dengan bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami oleh jemaah.

Menurut Ketua Takmir Masjid As Syifa Turus Moh. Nur Hudi, mereka sengaja mempertahankan model mengaji seperti itu.

Tujuannya sebagai cara menjaga tradisi keilmuan pesantren. “Biasanya dibacakan dulu makna Jawanya, kemudian dijelaskan kembali dengan bahasa yang lebih mudah dipahami,” jelas Nur Hudi.

Menurutnya, cara tersebut merupakan kebiasaan yang sudah lama digunakan oleh para ulama pesantren.

Selain sebagai metode belajar, tradisi itu juga menjadi bentuk penghormatan terhadap sanad keilmuan yang diwariskan para guru.

Karena itu, meski pengajiannya digelar di masjid umum dan diikuti masyarakat luas, nuansa pesantren tetap terasa.

“Makna pesantren itu tetap dipertahankan supaya tradisi mengaji kitab juga tetap hidup,” ujar warga Turus, Kecamatan Gurah, itu.

Menariknya, tidak semua jemaah yang hadir berasal dari kalangan santri. Sebagian besar justru masyarakat umum seperti warga sekitar yang bekerja sebagai buruh tani ataupun petani.

Agar materi tetap mudah dipahami, para penceramah biasanya memberikan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Misalnya ketika menjelaskan tentang adab masuk masjid. Contoh yang diberikan menyesuaikan kondisi masyarakat setempat yang mayoritas bekerja sebagai petani.

Dengan cara tersebut, jemaah tidak hanya memahami teori. Mereka juga dapat langsung mengaitkannya dengan aktivitas sehari-hari.

“Contohnya disesuaikan dengan kehidupan masyarakat di sini supaya lebih mudah dipahami. Kalau petani yang mungkin dari sawah, berarti adabnya adalah memeriksa dulu kakinya ada lumpurnya atau tidak. Dikasi tahu bahwa ada kolam itu untuk membasuh kaki,” kata Nur Hudi.

Dia menambahkan, penggunaan makna Jawa juga memberi kesempatan kepada jemaah yang membawa kitab untuk ikut menandai atau memberi makna pada teks yang dibaca.

Dengan begitu, kajian tidak hanya menjadi kegiatan mendengarkan ceramah. Tetapi juga menjadi proses belajar bersama sebagaimana tradisi di pesantren.

Melalui model tersebut, pengurus masjid berharap tradisi mengaji kitab tetap hidup di tengah masyarakat.

Meskipun tidak berada di lingkungan pesantren, masyarakat tetap bisa merasakan suasana belajar yang sama.

“Harapannya, masyarakat bisa merasakan juga suasana belajar seperti di pesantren,” tandas laki-laki 42 tahun itu.

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kediri #kajian islam #jawa #pesantren