KEDIRI, JP Radar Kediri - Kajian Minggu pagi di Masjid Agung Kota Kediri menyadari cepatnya perubahan yang terjadi. Memanfaatkan generasi muda kajian ini juga memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi. Membuat eksistensi tetap terjaga hingga berusia puluhan tahun.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Ada upaya di balik eksisnya pengajian Minggu pagi di Masjid Agung Kota Kediri. Itu tidak lain karena upaya takmir masjid yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Misalnya dengan memanfaatkan teknologi yang ada sekarang ini.
“Bedanya (penyampaian dakwah) kami mulai memanfaatkan teknologi. Dengan melibatkan generasi muda dalam penggunaannya,” ujar Sekretaris Takmir Masjid Agung Kota Kediri Basyarudin.
Ya, diakuinya dengan perkembangan zaman yang serba cepat saat ini perlu adaptasi. Jika tidak begitu maka yang ada akan tertinggal oleh yang lain.
Memang, jemaah pengajian Minggu pagi ini didominasi oleh mereka yang lanjut usia. Namun, tidak memungkiri juga ada beberapa anak muda dan dewasa yang tertarik mengikuti.
“Makanya sekarang kami juga ada live Youtube setiap Minggu pagi. Itu untuk memfasilitasi mereka yang suka dengan materi pengajian namun tidak bisa langsung hadir ke lokasi,” imbuhnya.
Sebenarnya sebelum beralih ke live Youtube, dulunya pengajian ini direkam dalam compact disc (CD). Sehingga jemaah bisa memutar ulang isi materi pengajian tersebut melalui CD tersebut.
Seiring berjalannya waktu, CD sudah jarang digunakan, bahkan, sulit ditemukan. Karena itulah penggunaan Youtube menjadi salah satu solusi. Tidak hanya memudahkan orang lain untuk mendengarkan, tetapi juga menjadi dokumentasi dan arsip takmir dalam penyelenggaraan kegiatan.
“Kami menyadari dengan mayoritas jemaah yang tua ini akan sulit jika harus beradaptasi dengan penggunaan teknologi. Maka dari itu kami meminta bantuan takmir yang masih muda untuk mengabadikannya. Jadi kami (yang tua, Red) fokus ke pengajiannya, mereka (yang muda, Red) ke teknologi,” ujar lelaki berusia 75 tahun itu.
Tak hanya live Youtube, setiap kegiatan yang dilakukan juga didokumentasikan dengan baik. Termasuk adanya grup WhatsApp untuk jemaah bisa saling berkomunikasi.
Tentu usaha tak mengkhianati hasil. Jika dulu awal berdiri hanya ada sekitar 25 sampai 30 orang. Kini sudah ada 20 kali lipatnya. Yaitu sekitar 600 jemaah.
“Dulu awal berdiri jemaah hanya sekitar 25 sampai 30 orang. Kalau sekarang bisa mencapai 600 orang sekali hadir,” bebernya sembari melempar senyum.
Untuk diketahui, selain mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Dalam memilih penceramah takmir masjid juga menyeleksi dengan detail. Melihat track record-nya guna memastikan tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan prinsip dakwah. Misalnya dengan menjatuhkan nama orang lain.
Oleh karenanya, pendakwah yang dihadirkan bukan mereka yang terkenal dan sedang viral. Melainkan, mereka yang benar-benar kompeten dalam menyampaikan materi dakwah.
“Siapa yang akan menjadi pemateri sudah jauh-jauh hari kami diskusikan. Sekiranya cocok atau tidak mengisi di sini (Masjid Agung, Red). Jangan sampai mengecewakan jemaah di masjid sebesar ini,” tandas lelaki domisili Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto itu.
Penceramah yang dihadirkan pun memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Mulai dari akademisi hingga pondok pesantren. Baik dosen maupun kyai.
Itu dilakukan agar jemaah tidak bosan. Sehingga dalam 1 bulan pelaksanaan, background pemateri akan berbeda.
“Jarang sekali ada pemateri yang mengisi dua kali dalam satu tahun. Karena kami selalu berupaya memberikan yang berbeda agar wawasan yang diberikan semakin luas dan bertambah,” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.
Biasanya setelah melaksanakan pengajian, panitia juga memberi sarapan kepada jemaah. Apapun akan dilakukan untuk membuat mereka nyaman mengikuti pengajian Minggu pagi.
“Banyak dari mereka yang dulunya sempat mengikuti pengajian di tempat lain tapi ujungnya kembali ke sini (Masjid Agung, Red). Itu karena yang bisa memberikan ketenangan tidak semua,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita