Kajian setiap Minggu pagi di Masjid Agung Kota Kediri sudah ada sejak puluhan tahun silam. Mayoritas jemaahnya memang berusia tua. Namun, pengelola kajian ini mampu menghadirkan penceramah dengan bahasa yang mudah dipahami.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Setiap Minggu di Masjid Agung Kota Kediri. Suasana seperti ini yang akan terlihat, Jemaah ramai berdatangan sejak subuh. Sendiri, berkelompok bersama teman, atau juga bersama keluarga. Semua wajah terasa antusias mengikuti Pengajian Ahad Pagi yang, sesuai namanya, berlangsung setiap Minggu pagi itu.
Bukti kajian ini memang sangat diminati adalah deru kendaraan bermotor tak pernah berhenti di halaman masjid. Setidaknya hingga pukul 7.00, waktu dimulainya pengajian. Sedangkan di dalam masjid kegiatan sudah berlangsung sejak subuh. Mulai dari salat Subuh berjamaah hingga berlanjut istighotsah.
“Masjid Agung ini diresmikan pada 2006. Setelah diresmikan kami sebagai takmir masjid berpikir bagaimana caranya memakmurkan masjid sebesar ini. Muncullah ide untuk mengadakan pengajian Ahad Pagi,” ujar Sekretaris Takmir Masjid Agung Kota Kediri Basyarudin terkait awal mula diselenggarakannya pengajian Ahad Pagi itu.
Awal berdiri panitia pun berupaya menjalin silaturahmi dengan para kiai. Itu dilakukan dengan sowan ke beberapa tempat tinggal ulama. Baik dari wilayah Tulungagung, Blitar, Malang, maupun Kediri. Tujuannya memperkenalkan konsep pengajian, juga mengundangnya sebagai pengisi materi.
Seiring berjalannya waktu jemaah pun mulai berdatangan. Meskipun mayoritas yang hadir adalah orang-orang yang sudah berusia senja atau lanjut usia.
“Ketika semakin tersiar jemaah banyak yang hadir. Didominasi oleh yang sepuh-sepuh. Dengan penceramah se-Karisidenan Kediri. Bahkan se-Jawa Timur,” imbuhnya.
Tentu dengan jemaah yang mayoritas berusia 40-an ke atas, panitia berupaya menghadirkan penceramah yang tidak muluk-muluk. Dalam artian bahasanya tidak ketinggian alias mudah dipahami audiens.
Terkait penceramah ini, panitia menghadirkan dari semua kelompok. Baik yang berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah. Itu sebagai bukti bahwa Masjid Agung Kota Kediri ini bisa diakses oleh siapapun. Tidak memandang mereka dari golongan mana.
Terkait tema, lelaki yang akrab disapa Basyar itu menyebut jika menyesuaikan dengan momentum. Misalnya ketika mendekati Ramadan maka yang dibahas terkait amalan yang bisa dilakukan selama menjalankan ibadah puasa.
Begitupun ketika menjelang Idul Fitri maka akan dibahas terkait bagaimana cara menjaga nilai puasa. Juga tindakan yang boleh dilakukan dan disarankan untuk dihindari.
“Terkait materi ini sudah ada jadwalnya dari jauh-jauh hari oleh panitia. Sehingga dipastikan materi yang disampaikan sesuai dengan momentum dalam waktu dekat,” paparnya.
Ya, diakuinya penyusunan jadwal penceramah ini sudah dilakukan sejak tiga bulan sebelumnya. Tak heran siapa yang akan mengisi dan materi apa yang dibawakan sudah tertata dengan rapi.
Misalnya saja ketika bukan momen besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha, maka materi yang akan dibawakan disesuaikan dengan peristiwanya. Jika ada momentum hari Ibu maka akan dihadirkan penceramah yang mengupas detail terkait hal tersebut. Mulai dari perannya hingga keistimewaan gelar seorang Ibu.
“Memang kami tidak membahas langsung apa yang sedang viral diperbincangkan saat itu. Tetapi secara tidak langsung itu nanti akan muncul saat penceramah menyampaikan materi tertentu yang masih ada kaitannya,” terang lelaki domisili Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto itu.
Baca Juga: Kajian Islam Non-Pesantren Merebak di Kediri, Masagi Jadi Pilihan Utama Berkat Tema Relevan
Lebih lanjut dia menjelaskan, dengan mayoritas jemaah yang lanjut usia ini materi yang diberikan kebanyakan berkaitan dengan ubudiyah. Konsep pengabdian dan ketaatan penuh seorang hamba kepada Allah SWT. Yang mencakup tindakan lahiriah (ibadah fisik) dan kesadaran batiniah akan kerendahan diri di hadapan-Nya.
Termasuk waktu kajian yang juga tidak berlangsung lama. Yaitu sekitar pukul 07.00 hingga 08.00. Itu dimaksudkan agar jemaah yang diantar jemput oleh anak maupun saudaranya tidak terlalu lama dan mengganggu aktivitas kesehariannya.
“Kami menyesuaikan (sesi diskusi, Red). Jika ada waktunya ya kami buka sesi tanya jawab. Bergantung pada materi yang disampaikan,” tandas lelaki berusia 75 tahun itu.
Basyar pun menerangkan jika pengajian Ahad Pagi itu pada akhirnya bertujuan untuk membuat hati maupun batin jemaah merasa tenang dan nyaman.
“Jemaah mayoritas memang orang-orang yang sudah fokus mengumpulkan amal sebagai bekal di akhirat nanti. Tak heran mereka yang datang ke sini (Masjid Agung, Red) yang dicari ceramah yang menenangkan bukan yang sedang ramai dibicarakan,” pungkasnya dengan melempar senyum.
Editor : Andhika Attar Anindita