Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Kajian Islam Non-pesantren yang Marak di Kediri Raya, Ikadi Kota Kediri Konsisten Hadirkan Kajian Islam Moderat sejak 2005

Ayu Ismawati • Minggu, 1 Maret 2026 | 20:37 WIB

CERAMAH AGAMA:Suasana Kajian Ahad Pagi Ikadi di Masjid Baiturrahmah Semampir. Kajian ini sudah berlangsung sejak 2005.
CERAMAH AGAMA:Suasana Kajian Ahad Pagi Ikadi di Masjid Baiturrahmah Semampir. Kajian ini sudah berlangsung sejak 2005.

Kajian Ahad Pagi yang digelar Ikadi Kota Kediri ini menjadi salah satu forum pendidikan Islam moderat yang eksis puluhan tahun. Bermula pada 2005 silam, kajian rutinnya banyak diakses berbagai kalangan. Tak hanya kalangan dai dan akademisi, juga masyarakat awam.

 

AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri

 

Pagi-pagi sekali setiap kali Minggu, keramaian sudah berdenyut di Masjid Baiturrahmah. Usai salat Subuh, jemaah justru banyak berdatangan. Menggunakan berbagai kendaraan hingga memenuhi area parkir. 

Pukul 6 pagi itu, orang-orang juga sudah menyemut. Mereka memenuhi hampir seluruh area masjid. Tak ketinggalan di serambi hingga area parkir kendaraan, semua penuh dengan manusia tua, muda, atau yang satu keluarga.

Setiap Minggu pagi masjid yang berlokasi di tepi Jalan Mayor Bismo ini memang penuh jemaah. Mereka mengikuti Kajian Ahad Pagi yang digelar oleh Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Kota Kediri.

“Sebelum (pandemi) Covid dulu, peserta bisa sampai seribuan orang. Sampai luar masjid itu penuh,” terang Dr Jamaluddin Achmad Choliq. Sosok ini adalah ketua Ikadi Kota Kediri.

“Lalu ketika Covid sempat dibatasi, sampai harus registrasi dulu. Dan, sekarang, jumlahnya memang tidak sebanyak seperti sebelum Covid dulu,” lanjutnya, menceritakan kondisi saat ini.

Toh, jumlah jemaah yang tidak sebanyak dulu itu bukan berarti hanya segelintir. Tetap saja jemaah menyemut. Memenuhi area masjid hingga harus meluber ke teras dan parkiran.

Memang, Pengajian Ahad Pagi Ikadi ini relatif jadi jujukan masyarakat yang haus pendidikan Islam. Pun sejak pertama kali digelar dulu, pada 2005. Artinya, sudah 21 tahun kajian agama ini hadir.

Meskipun digelar oleh organisasi yang identik dengan para dai dan akademisi, pengajian ini punya jemaah yang majemuk. Dari remaja hingga lansia, pria-perempuan, sampai masyarakat dari berbagai latar belakang sosial.

Lebih dari 20 tahun eksis, pengajian itu sempat sebelumnya digelar di Masjid Agung Kota Kediri. Hingga akhirnya pindah dan menetap di Masjid Baiturrahmah Semampir sampai saat ini. 

Kini, jemaah pengajian ahad pagi rata-rata berkisar 300 sampai 500 orang. Untuk kajian rutin, pematerinya selalu berganti-ganti. Mengundang tokoh agama dari berbagai kalangan. Tak hanya lokal Kediri, juga tokoh-tokoh di tingkat Jawa Timur hingga nasional. 

“Secara umum materi yang disampaikan itu tentang motivasi keagamaan. Biasanya menyesuaikan momentum juga. Misalnya saat bulan Syaban atau Rajab, bisa disesuaikan. Atau seperti saat Ramadan ini, temanya juga tidak lepas dari konteks itu, sesuai pembicaranya,” beber Jamal. 

Meskipun narasumbernya beragam dengan metode komunikasi dan dakwah yang berbeda-beda, namun materi yang disampaikan tetap berpegang pada benang merah yang sama.

Yang pada dasarnya tetap moderat, dengan membawa pesan rahmatan lil ‘alamin atau kasih sayang bagi semesta alam. 

“Yang diangkat Ikadi Kota Kediri itu (mengacu) ahlussunah wal jamaah dan rahmatan lil ‘alamin. Selagi para narasumber berpegang dengan itu, tidak ada masalah kami undang untuk mengisi kajian ahad pagi,” terang pria yang juga dosen di UIN Syekh Wasil Kediri itu. 

Karena substansi pengajian yang moderat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, pesan dakwahnya pun bisa diterima banyak kalangan. Dan para dainya pun tidak dikotak-kotakkan berdasarkan ormas keagamaan tertentu. Sehingga sampai saat ini, pengikut kajian itu bermacam-macam asal dan latar belakangnya. 

“Rata-rata dari Kediri dan sekitarnya. Bahkan ada yang dari Tulungagung, Nganjuk. Dan siapa saja yang berkenan memang dipersilakan ikut,” terangnya terkait kajian yang dibuka untuk umum itu. 

Sudah berjalan puluhan tahun, ada satu upaya yang konsisten dilakukan Ikadi Kota Kediri agar kajiannya tetap dibutuhkan masyarakat. Yakni, dengan menghadirkan narasumber yang mumpuni dalam menyampaikan pesan keagamaan. 

“Masyarakat pasti melihat narasumbernya menarik atau tidak. Jadi kami berupaya mempertahankan narasumber-narasumber yang mumpuni, baik di tingkat lokal hingga skala nasional. Tetapi tentu yang sudah diakui dari berbagai kalangan,” tandasnya. 

Selain itu, pengajian juga disiarkan secara live di radio dan YouTube. Sehingga, jemaah yang tidak bisa hadir langsung tetap bisa menyimak kajian. 

Narasumber dan materi kajian yang beragam itu juga menjadi daya tarik bagi jemaah. Salah satunya Sri Purwarini, 60, peserta pengajian dari Kelurahan/Kecamatan Mojoroto. Hampir setiap Minggu pagi dia tak pernah absen mengikuti kajian tersebut.

“Banyak ilmunya yang kami terima, yang mungkin kami sendiri belum memahami, ya. Lewat kajian ini jadi banyak ilmu yang bisa diambil,” katanya. 

Cara penyampaian dakwah yang ringan dan mudah dipahami juga membuatnya tertarik mengikuti kajian itu. “Jadi nggak begitu sulit untuk menangkap ilmunya dan mudah dipahami,” tandasnya. (fud) 

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#Ikatan Dai #kajian #IKADI #Uin Syekh Wasil Kediri #rahmatan lil alamin #Masjid Baiturrahmah #Moderat