JP Radar Kediri - Memahami karakter jemaah, itulah yang dilakukan pengelola Kajian Ahad Pagi Masjid Baitussalam Sambirobyong. Tujuannya agar banyak warga yang mengikuti. Paling ampuh adalah menyesuaikan dengan keseharian masyarakat.
Bila di pesantren, mereka datang memang murni untuk mengaji. Pesantren berusaha mendidik santri agar siap terjun ke masyarakat. Pembahasannya pun bisa njlimet. Mulai dari makna pegon, huruf Arab gundul, hingga gramatika yang detail. Semuanya agar santri bisa membaca kitab, tanpa didampingi guru.
Nah, di desa seperti di Sambirobyong tentu berbeda. Itulah yang dipahami oleh pengelola Kajian Ahad Pagi di Masjid Baitussalam.
“Di masyarakat (umum) tidak begitu caranya. Yang penting maknanya sampai. Ada pesan yang dibawa dan bisa dipraktikkan di kehidupan sehari-hari,” ujar Abdillah Amiril Adawy, pengasuh Kajian Ahad Pagi.
Menurut Abdi, ceramah di desa perlu adanya kontekstualisasi. Ia harus membicarakan apa yang menjadi umume atau kebiasaan warga. Contohnya, materi sederhana tentang adab makan saat waktu salat tiba. Agar relate dengan warga, ia memberikan perumpamaan yang sangat akrab di telinga mereka.
"Seperti tadi saya ambil contoh, semisal njenengan pulang dari pengajian bawa berkat, lalu sampai rumah sudah masuk waktu Isya tapi perut lapar sekali. Mana yang didahulukan? Ya makan dulu baru salat," ceritanya sambil tersenyum.
Penggunaan contoh "berkat" ini tergolong ampuh. Ketika disebut, seketika membuat warga manggut-manggut paham. Kontekstualisasi seperti itu sangat perlu agar warga lebih paham.
Di lingkungan pondok, siswa mungkin langsung mengerti hadis tentang mendahulukan makanan dari salat tanpa perlu dijelaskan lama-lama. Namun di desa, pesan harus disampaikan pelan-pelan. Agar benar-benar meresap.
Dalam memberikan kajian, Abdi tak mengejar target. Ia memilih memberikan materi dengan santai dan enjoy. Durasi mengaji pun dibuat tidak lama, sekitar satu jam sudah termasuk baca Yasin, salawat, dan ceramah.
“Materi belum selesai tapi waktunya sudah mau setengah enam. Misal mau diteruskan sebenarnya materinya masih banyak. Tapi disudahi saja karena takut kalau lama warga jadi bosan. Jadi secukupnya saja, yang penting orang-orang mau ngaji itu sudah bagus,” imbuhnya.
Strategi secukupnya ini justru membuahkan hasil. Antusiasme warga semakin baik, bahkan jumlah jemaah terus bertambah dari minggu ke minggu. Sesi tanya jawab sering kali menjadi bagian yang paling dinanti, terutama saat membahas hal-hal yang relate dengan mereka seperti fikih atau rukun salat.
Tak jarang, Abdi juga langsung mempraktikkan gerakan. Seperti bagaimana posisi sujud yang benar.
Selain bulan puasa, jemaah kajian juga diberikan konsumsi yang memang dimasak sendiri oleh sang ibu. Selain itu juga selama Ramadan masjid juga menyediakan menu berbuka puasa bagi jemaah yang datang.
Untuk urusan promosi, ia mengaku tidak punya cara khusus. Informasi menyebar lewat mulut ke mulut, antar warga, atau sesekali melalui status WhatsApp yang ia kirim.
“Saat ini masih lingkup desa sini saja. Ada warga desa lain tapi gak banyak. Bagi saya, dikenal masyarakat luas belum menjadi tujuan utama. Yang penting saya niat untuk ngaji,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita