JP Radar Kediri - Sesuai namanya, kajian di Masjid Baitussalam, Sambirobyong ini digelar Ahad atau Minggu pagi. Pesertanya tak hanya jemaah masjid yang baru salat subuh. Sebagian juga warga yang sengaja menyimak kajian yang diberikan.
Bila melihat ukuran, masjid di tepi Jalan Totok Kerot ini tak terlalu besar. Namun, bila soal aktivitas, masjid yang secara administratif masuk Desa Sambirobyong, Kecamatan Kayenkidul ini relatif tinggi. Selalu ramai dengan jemaah. Baol warga sekitar yang salat berjamaah atau musafir yang mampir istirahat. Juga, mereka yang datang untuk acara kajian keagamaan.
Seperti Minggu pagi itu. Suasana memang masih gelap. Namun, hal itu tak memudarkan semangat orang-orang ini berdatangan ke masjid. Mengikuti agenda yang rutin dilakukan, yaitu Kajian Ahad Pagi.
Sesuai namanya, kajian ini dilaksanakan setiap Ahad atau Minggu pagi. Tepat setelah salat Subuh. Maka dari itu, pesertanya kebanyakan adalah warga setempat yang menjadi jemaah rutin. Meski ada pula yang sengaja datang untuk menyimak pengajian.
“Sudah dari 2024. Pas puasa ini juga saya tanya ke bapak-bapak dan ibu-ibu, mau libur dulu atau bagaimana? Karena takutnya pagi-pagi ngantuk. Ternyata pada semangat untuk tetap lanjut,” ungkap Abdillah Amiril Adawy, pengisi Kajian Ahad Pagi.
Kajian ini mulai dilaksanakan sejak September 2024. Inisiatornya adalah pria yang akrab disapa Abdi tersebut. Awal mulanya adalah saat ia baru lulus kuliah Ilmu Hadis di UIN Sunan Kalijaga sekaligus pulang dari pondok pesantren. Ia ingin membuat sebuah pengajian rutin.
Abdi lalu mengutarakan niatnya pada sang nenek. Yaitu agar membuka kajian di Masjid Wakaf Baitussalam yang ada di samping rumahnya.
Tujuan awalnya sederhana yaitu ingin mengaji sekaligus mencari teman. Pendengar pertamanya hanya para jemaah Magrib, sekitar 10 orang sepuh yang rutin berjamaah. Awalnya ia mengambil waktu mengaji sambil menunggu salat Isya. Lama-kelamaan, semakin banyak orang yang datang menyimak.
“Jemaah itu pun kadang tidak semuanya ikut ngaji, karena mungkin keburu ada urusan jadi langsung pulang,” ungkap pria yang juga Penyuluh Agama Islam di KUA Rejoso Nganjuk ini.
Menurutnya, dengan membuka pengajian, otomatis membuat ia ikut belajar juga. Meskipun sudah pulang dari pondok, ia merasa harus tetap mengaji karena terkadang belajar sendiri kurang memacu semangat.
Waktu kajian pun sempat berpindah-pindah. Awalnya di malam Selasa, lalu digeser ke malam Jumat. Setelah ia menikah dan menetap bersama sang istri, jadwal pengajian akhirnya diputuskan setiap Minggu pagi. Durasi pengajian juga tak lama yaitu sekitar 1 jam saja.
“Kenapa dipilih setelah jemaah salat? Karena memang tujuannya agar orang yang ke sini tidak hanya ngaji tapi juga salat jemaah. Karena itu yang penting,” jelasnya.
Tak hanya ceramah, Abdi juga mengajak mereka membaca Surat Yasin dan salawat. Hal itu dilakukan agar warga mendapat banyak ilmu, tidak hanya mengaji, tapi juga zikir dan baca Alquran. Apalagi saat Ramadan, intensitas ibadah harus ditingkatkan.
Hingga kini, Kajian Ahad Pagi rutin dilaksanakan terus-menerus. Penceramahnya didominasi oleh Abdi. Jika ia benar-benar berhalangan, barulah diisi oleh sang ayah.
“Tak pastikan tidak libur. Kecuali misal ada hal lain seperti rombongan ziarah, itu baru libur. Selain itu sepertinya belum pernah,” ujarnya.
Materi yang diberikan tidak mengacu pada tema tertentu, melainkan bedah kitab. Contohnya adalah Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali tentang panduan akhlak, tasawuf, dan adab keseharian.
Selain itu, ada pula Kitab Mukhtarul Ahadits yang berisi kumpulan hadis pilihan karya Sayyid Ahmad al-Hasyimi. Pesan-pesan di dalamnya ia sesuaikan dengan keseharian warga agar mudah dimengerti.
Saat ini, anggota pengajian sudah tergabung dalam grup WhatsApp yang berisi sekitar 50 orang. Selama Ramadan, jadwalnya pun ditambah. Selain Minggu pagi, ia juga menambah pengajian di Sabtu sore selepas Ashar.
“Puasa ini nambah tiap Sabtu setelah jemaah Ashar. Disediakan juga menu buka puasa, jadi banyak juga musafir yang mampir,” pungkasnya
Editor : Andhika Attar Anindita