Pengajian Masagi menjadi salah satu kajian yang dinantikan warga di sekitar Kelurahan Singonegaran, Pesantren, Kota Kediri. Hal itu tak lepas dari topik bahasan yang ringan. Disesuaikan dengan fenomena yang sedang hangat atau kekinian.
EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri
Pengajian Malam Sabtu Legi (Masagi) di Perum Griya Kota Asri, Kelurahan Singonegaran, Pesantren memang berlangsung sederhana. Agus Izzat Sya'roni, sang pengisi kajian, memberi materi dengan duduk lesehan di emper musala Al-Ma'arif. Sedangkan warga yang mengikuti kajian duduk di halaman musala dengan beralaskan karpet.
Pengajian beratapkan langit ini erat dengan nuansa kebersamaan. Ada sekitar seratus orang yang hadir dalam Pengajian Masagi 23 Januari silam. Mereka bukan hanya warga di perumahan tersebut. Melainkan juga warga sekitar yang ada di Kelurahan Singonegaran.
Bahkan, ada warga dari luar Kota Kediri yang terkadang hadir. Mereka rela jauh-jauh datang demi mendengar kajian dari Agus Izzat Sya'roni.
"Pengajian Gus Izzat itu ringan. Itu yang disukai orang-orang," ungkap Agus Muji Santoso, sang inisiator Pengajian Masagi.
Selama ini, kajian di Pengajian Masagi memang bersifat bebas. Bisa tentang fikih, muamalah, dan lainnya. Intinya, tema kajian ditentukan sendiri oleh Agus Izzat Sya'roni.
Rupanya, hal inilah yang menjadi sisi menariknya. Sang Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tahfizhil Quran (P3TQ) Al-Hidayah Kota Kediri itu seringkali menyesuaikan tema kajian dengan fenomena kekinian di masyarakat. Salah satunya, terkait peristiwa di Pondok Pesantren Lirboyo yang sempat viral beberapa waktu lalu.
"Pas waktu hangat-hangatnya salah satu syahid kita di Lirboyo yang masuk Trans, heboh ya, KH. Anwar Mansur. Itu diulas. Tapi ulasannya beliau itu simple sekali. Sederhana, tetapi ngena. Intinya apa, intinya kita harus hormat ke guru," cerita Agus tentang salah satu bahasan di Masagi.
Selain itu, kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Simpang Empat Muning, Mojoroto, Kota Kediri juga sempat jadi bahasan di Masagi. Hal yang bisa dipetik dari insiden viral itu adalah tentang seseorang yang harus sabar. Serta tetap mematuhi aturan lalu lintas.
Tema-tema ringan itu nyatanya membuat warga betah. Akhirnya merkea antusias mengikuti Pengajian Masagi. Agus sendiri menganggap kajian dari Agus Izzat Sya'roni sebagai bentuk refleksi diri.
"Tetap ada dalilnya, ada kitabnya saat beliau (Agus Izzat Sya'roni, Red) menyampaikan. Tetapi cara beliau menyampaikan itu enak. Itu yang membuat orang-orang itu banyak orang yang hadir," paparnya.
Di sisi lain, keberadaan Rabana Hikmatul Mustafa juga membuat warga kian bersemangat mengikuti pengajian. Demikian pula kebersamaan mereka yang jadi daya tarik tersendiri.
Setiap warga yang hadir bebas mengambil minuman gratis yang disediakan panitia. Ada air mineral, teh, juga kopi. Tak hanya itu, panitia juga menyiapkan snack.
Makanan dan minuman itu sering kali berasal dari warga sendiri. Tidak sedikit yang sukarela menyumbang makanan dan minuman. "Kemarin itu kami tiba-tiba dapat pisang goreng dua nampan. Itu dititipkan ke Bu RT. Ada juga yang kasih kue lumpur, itu pun juga dihias pita," kenang Agus. (em/ut)
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian