Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Kajian Islam Non-Pesantren yang Marak di Kediri Raya:  Tafsirnya Bahasa Jawa agar Bernuansa Pesantren Salaf

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 24 Februari 2026 | 07:00 WIB

 

Photo
Photo

Kajian memang berlangsung di Masjid An-Nuur Pare. Namun penyampaian makna kitab tafsir yang dikaji menggunakan bahasa Jawa. Tujuannya memunculkan nuansa mengaji di pondok pesantren salaf.

Di Masjid Agung An-Nuur Pare, kajian selama Ramadan tidak hanya menjelang waktu Maghrib. Saat hendak pelaksanaan Tarawih juga ada.

Bentuknya kultum, kuliah tujuh menit. Ceramah singkat untuk menunggu pelaksanaan salat yang khas di malam Ramadan itu.

“Sekitar 10 menitan,” jelas Ketua Takmir Masjid Agung An-Nuur Pare Dafid Fuadi, menyebut durasi kultum.

Dafid mengatakan kultum berbeda dengan kajian jelang Maghrib. Pengisinya berganti setiap tiga hari sekali. Jadwalnya sudah diatur untuk satu bulan penuh.

“Temanya kami jadwalkan, tematik. Seputar puasa juga,” jelasnya. Ada pula kajian jelang salat Subuh. Pelaksanaannya setelah azan, sebelum salat dimulai.

Sama seperti jelang Tarawih, durasinya juga singkat, sekitar 10 menit. Yang dikaji adalah Arbain Nawawiyah, kitab kumpulan hadis yang disusun oleh Imam Nawawi.

“Sambil nunggu jemaah datang kami isi ngaji,” jelasnya. Kenapa tidak setelah Subuh sekalian? Dafid menjelaskan, jika dilaksanakan setelah salat, jemaah kerap langsung pulang.

“Kalau setelah Subuh sekalian itu kadang-kadang malah jemaah keburu pulang. Kalau ini kan masih tertahan. Kalau setelah salat kadang-kadang kami kesulitan menahan mereka, keburu pulang,” jelas guru agama di MAN 4 Kediri itu.

Kajian rutin selama Ramadan ini telah berlangsung sejak 2012. Sebenarnya, sebelum itu juga ada kajian rutin di luar Ramadan. Namun, saat ini sempat terhenti dan rencananya akan kembali diadakan.

“Sementara ini kalau di luar Ramadan biasanya ketika ada kegiatan Pemkab Kediri. Biasanya diadakan di sini,” jelasnya.

Khusus kajian jelang Maghrib, ada tiga tahapan bahasa yang digunakan. Pertama, pembacaan ayat yang akan ditafsirkan. Berikutnya dimaknai dengan bahasa Jawa.

Setelah itu, diartikan dalam bahasa Indonesia. Kenapa harus menggunakan bahasa Jawa terlebih dahulu?

Dafid mengatakan, metode maknani kitab dengan bahasa Jawa merupakan salah satu kekayaan intelektual ulama-ulama Jawa dalam menerjemahkan teks Arab. Karena itu, ia ingin memperkenalkan metode tersebut kepada masyarakat.

Menurutnya, walaupun Masjid An-Nuur memiliki nuansa modern, pihaknya tetap ingin menghadirkan nuansa pesantren Jawa saat kajian kitab berlangsung.

“Artinya masyarakat umum meskipun bukan santri ya tetap kita kenalkan. Biar merasakan nuansa pesantren. Terlebih bagi mereka yang belum pernah mondok,” jelasnya.

Selain itu, durasi kajian jelang Maghrib relatif lebih lama. Sehingga, ketika terlebih dahulu dimaknai menggunakan bahasa Jawa, waktu masih mencukupi.

Agar jemaah tetap memahami, khususnya bagi pendatang, setelah pemaknaan bahasa Jawa tetap dilanjutkan dengan penafsiran dalam bahasa Indonesia.

“Tetap kami bantu pakai bahasa Indonesia juga, tapi khas pesantren Jawanya itu masih kita pertahankan,” jelasnya.

“Itu juga enggak terlalu sekaku itu. Artinya kadang-kadang langsung terjemahkan pakai bahasa Indonesia,” imbuhnya.

Berbeda dengan kajian jelang Maghrib, saat kajian jelang Tarawih dan jelang Subuh tidak menggunakan bahasa Jawa.

Sebab, waktunya lebih singkat. Jika harus diterangkan dengan tiga bahasa, durasinya tidak mencukupi.

“Kalau pakai bahasa Jawa kan butuh waktu lama. Lah kalau pagi kan waktunya juga enggak lama. Sudah singkat,” jelasnya.

Lantas apa tujuan kajian ini terus dilakukan? Pertama, untuk memfungsikan masjid agar hidup sebagai tempat ibadah sekaligus mengkaji ilmu.

Berikutnya, sebagai sarana dakwah kepada masyarakat secara umum, sekaligus dakwah berbasis ilmu.

“Kemudian yang ketiga karena ada pembagian takjil gratis juga sebagai bentuk kepedulian Masjid Agung An-Nuur kepada jemaah,” jelasnya.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#ramadhan #Masjid An Nuur Pare #islam #kajian #pare kediri #kultum