Kelompok kajian di Masjid Nur Solikhin memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dengan baik. Jadi penyampai informasi maupun sarana publikasi. Jemaahnya pun bertambah lima kali lipat bila dibandingkan awal berdiri.
HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Kelompok kajian Islam di Masjid Nur Solikhin, di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, memang terbilang eksis. Itu tidak lepas dari peran pengelola masjid yang berupaya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Baik dari segi penggunaan teknologi maupun penyampaian materi dakwah.
“Baru satu tahun terakhir kami merambah ke media sosial,” ujar M. Solikhin, pengelola masjid.
Masjid dan komunitas kajian agama di dalamnya sudah ada sejak empat tahun lalu. Sejak saat itu sarana dan prasarana, sebenarnya, sudah lengkap. Namun masih bersifat konvensional.
Hingga setahun terakhir mereka memanfaatkan teknologi komunikasi. Menggunakan media sosial (medsos) untuk penyebarluasan dakwah.
“Karena saya amati banyak masjid bagus tapi seperti mati. Karena tidak ada kegiatan. Belajar dari itu, kami berupaya untuk membuat bagaimana masjid ini tetap hidup dan lebih dikenal oleh khalayak luas,” jlentereh Solikhin.
Baca Juga: Melihat Kajian Islam Non-pesantren di Kediri Raya, Gerkatin Beri Akses Penyandang Tuli
Para pengurus masjid, yang terbilang ‘senior’ pun segera belajar medsos. Hasilnya, meskipun terbilang ‘belia’ dalam bermedsos, pengikut di Instagram maupun Youtube masjid ini ternyata mencapai ribuan. Penyebabnya adalah pengelola aktif membagikan kegiatan masjid. Nge-share flyer pengajian dengan materi tertentu hingga live streaming.
“Isi kajian yang disampaikan di berbagai komunitas itu dipastikan bisa diterima oleh umat Islam secara menyeluruh. Baik dari masyarakat dengan background NU maupun Muhammadiyah,” tandasnya menyebut alasan jemaahnya yang semakin ke sini bertambah banyak.
Pendakwah yang dihadirkan di komunitas kecil itu juga tidak sembarangan. Harus sesuai standar yang ditentukan. Keahliannya pun berbeda, mulai manajemen rumang tangga Rasulullah hingga fasih dalam menyampaikan ayat suci Alquran.
“Contohnya kami hadirkan KH Abu Bakar Abdul Jalil atau Gus Ab yang merupakan tokoh NU. Juga ustadz Rifky Ja’far Thalib yang berlatar belakang Muhammadiyah,” ujar lelaki yang juga menjadi Ketua Kadin Kota Kediri itu.
Selain mendatangkan pendakwah yang ahli di bidangnya, fasilitas penunjang yang diberikan kepada jemaah juga sangat lengkap. Mulai dari powerpoint (PPT) materi hingga buku. Dengan maksud saat mendengarkan jemaah bisa lebih mudah memahami, juga bisa mempraktikkan langsung setelahnya.
Tak heran jemaah yang hadir pun semakin bertambah. Datang dari berbagai kalangan dan daerah. Mulai dari Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Nganjuk, dan lain-lain.
“Kalau dilihat kilas baliknya, awal hanya ada sekitar 20 sampai 50 jemaah. Sekarang sekali kajian bisa 250 sampai 300 orang,” tandasnya.
Pencapaian itu tidak membuat para pengelola komunitas kajian cepat berpuas diri. Karena ke depan dia ingin masjidnya bisa seperti Masjid Jogokariyan, Jogjakarta. Yang dapat menjadi sumber perekonomian masyarakat sekitarnya.
“Sebisa mungkin masjid ini juga bisa membawa dampak ekonomi untuk sekitarnya. Selain mengundang UMKM untuk menyajikan makanan di sini (Masjid Nur Solikhin, Red), biasanya juga memberikan kesempatan jemaah untuk memasarkan usahanya,” bebernya.
Tak cukup di situ saja, dia juga akan memberdayakan generasi muda khususnya remaja untuk lebih banyak beraktivitas di masjid. Itu dengan menghadirkan podcast dan pelatihan terkait media sosial.
“Kuncinya masjid tetap hidup itu satu. Bermanfaat untuk lingkungan dan umat. Ini yang sedang kami usahakan. Selain menggaet jemaah lebih banyak juga bisa menjadi sumber perekonomian masyarakat sekitar,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita