Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Kajian Islam Non-pesantren yang Marak di Kediri Raya: Usai Cari Takjil Ikut Kajian di Masjid An-Nuur Pare

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 22 Februari 2026 | 15:33 WIB

Photo
Photo

Kajian di Masjid Agung An-Nuur tidak hanya diikuti oleh warga Pare dan sekitarnya saja. Banyak pendatang yang menjadi jemaahnya. Mulai dari pengunjung bazar takjil hingga pelajar di Kampung Inggris.

Waktu menunjukkan pukul 17.00. Ruangan Masjid An-Nuur Pare terlihat diisi seratusan jemaah. Jumlah yang tidak sedikit sebenarnya, namun terlihat lengang bila dibandingkan dengan luasnya ruangan masjid di Jalan Matahari, Pare itu.

Sore setelah salat Ashar itu, penceramah yang mendapat giliran adalah Dr Asyari, SHI MA. Begitu sang penceramah memulai kajiannya, jemaah terus bertambah.

Di Masjid An-Nuur, selama Ramadan ini setiap hari dilangsungkan kajian agama. Waktunya sore hingga selesai di waktu berbuka, saat Maghrib datang. Kitab yang dikaji adalah Aqidatul Muslimin dan Asrorus Saum.

“Lima belas hari pertama Aqidatul Muslimin dibawakan oleh Ustaz Asyari. Lima belas hari terakhir Asrorus Saum, yang saya bawakan,” terang Ketua Takmir Masjid Agung An-Nuur Pare Dafid Fuadi.

Laki-laki yang juga guru agama di MAN 4 Kediri itu menuturkan, kajian tersebut terbuka untuk umum. Siapa saja boleh ikut, mulai anak-anak hingga lansia. Juga tak terbatas jemaah masjid saja.

Bila hanya diisi jemaah yang rutin beribadah di Masjid An-Nuur, jumlahnya sudah pasti tak terlalu banyak. Sebab, masjid yang berdiri pada 1970-an ini dikelilingi banyak masjid di sekitarnya.

Seperti Masjid Miftahul Jannah di Pelem, Pare, yang berjarak sekitar 1 kilometer saja. Ada pula Masjid Waqaf Daarunaja Al Ishomy di Jalan Matahari yang berjarak sekitar 500 meter.

“Kemudian di sebelah barat dan timur masjid juga bukan perkampungan, melainkan taman dan pekarangan kosong,” jelas Dafid.

Menurutnya, karena kondisi tersebut, jemaah tetap Masjid An-Nuur Pare tidak terlalu banyak. Bahkan, bisa dikatakan tidak memiliki jemaah tetap, melainkan didominasi pendatang.

Salah satunya jemaah yang mampir untuk salat. Karena itu, jemaah tetap kajian pun sebenarnya tidak banyak.

Meski demikian, tidak sedikit pula satu keluarga yang sengaja datang ke Masjid An-Nuur untuk mengikuti kajian kitab.

“Tidak jarang seperti itu. Datang bersama keluarga untuk ikut kajian, padahal bukan orang sekitar sini,” jelasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan pengalaman tahun lalu, tidak sedikit peserta kajian merupakan siswa Kampung Inggris.

“Mungkin untuk menghabiskan waktu jelang Maghrib. Jadi tidak hanya belajar bahasa di Kampung Inggris, tapi juga mencari kegiatan di sini untuk menambah ilmu,” jelasnya.

Karena itulah, ketika Ramadan mendekati akhir, biasanya jumlah jemaah mulai berkurang. Penyebabnya, sudah banyak pelajar di Kampung Inggris yang pulang kampung.

Walau demikian, berkurangnya jemaah bukan menjadi persoalan. Sebab, tujuan utama kajian bukan untuk mencari banyak peserta, melainkan sebagai sarana syiar agama dan bersama-sama menuntut ilmu.

Selain pelajar Kampung Inggris, banyak juga jemaah kajian adalah masyarakat yang baru berburu takjil. Kebetulan, pelataran masjid sejak awal Ramadan juga dijadikan lokasi bazar takjil.

Karena itu banyak pengunjung yang lelah berburu takjil kemudian beristirahat di masjid sembari menunggu waktu berbuka. Tidak sedikit yang ikut nimbrung mendengarkan kajian.

“Tadi habis cari takjil sama teman-teman. Terus kedengaran dari arah masjid ada ceramah. Sekalian ikut sambil nunggu azan Maghrib,” jelas Muhammad Ilham, pemuda asal Kecamatan Ngronggo.

Editor : Andhika Attar Anindita
#Masjid An-Nuur #kediri #kajian islam #pare #takjil