Komunitas dakwah yang ada di Masjid Nur Solikhin terbuka untuk umum. Tersedia untuk berbagai kalangan dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Tentu dengan materi dakwah menyesuaikan dengan usianya.
Masjid di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem ini terbilang lebih kecil ukurannnya dibanding masjid-masjid lain.
Namun, memiliki fasilitas lengkap. Selain ber-AC juga dilengkapi audio set serta LCD Proyektor berikut screen yang berdiri di pojok kanan.
Selain fasilitas yang terkesan mewah, termasuk alas permadani tebal, masjid ini juga padat kegiatan.
Kajian-kajian keagamaan berlangsung nyaris setiap hari. Mulai pagi hingga malam atau bahkan dini hari.
“Dari Senin sampai Sabtu sudah ada jadwalnya masing-masing. Baik pengajian untuk umum, remaja, maupun anak-anak. Liburnya hanya Minggu saja,” ujar M. Solikhin, marbot masjid.
Komunitas-komunitas kajian Islam itu bukan baru. Melainkan, sudah ada sejak empat tahun terakhir. Hampir bersamaan dengan berdirinya masjid yang selesai dibangun empat tahun lalu itu.
Ucapan pria yang juga ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Kediri itu bukan isapan jempol.
Masjid ini memiliki jadwal padat dengan kelompok-kelompok kajian agama. Senin hingga Rabu misalnya, ada pengajian ibu-ibu yang mempelajari fikih tentang wanita. Mulainya sekitar pukul 08.00.
Baca Juga: Melihat Kajian Islam Non-pesantren di Kediri Raya, Gerkatin Beri Akses Penyandang Tuli
Di masjid ini, perempuan seakan mendapat prioritas ekstra. Selain jadwal di hari-hari itu, ada lagi kajian pada Jumat siang. Kali ini para ibu itu bisa mempelajari bahasa Arab yang digunakan dalam Alquran.
Lalu, Kamis, ada pengajian tahsin untuk anak-anak. Waktunya pukul 18.30 sampai dengan 19.30. Anak-anak itu belajar memperbaiki bacaan Alquran agar benar tajwid-nya.
“Biasanya Kamis juga ada pengajian bapak-bapak, secara tentatif. Kalau ada jadwalnya berarti pengajian untuk anak-anak kami liburkan terlebih dahulu,” imbuhnya.
Materi pengajian dengan audiens bapak-bapak itu materinya sesuai momentum. Misalnya, ketika mendekati Ramadan yang dibahas seputar amalan selama menjalankan puasa wajib itu.
Baca Juga: 7 Hal yang Membatalkan Puasa di Bulan Ramadan 2026, Awas! Jangan Disepelekan
“Setiap Sabtu juga ada kajian Qiyamul Lail. Yang dilaksanakan setelah salat tahajud dan salat subuh. Rutin kami lakukan meskipun tidak di bulan Ramadan,” tandas lelaki asal Lamongan itu.
Hebatnya lagi, masjid ini juga memiliki kajian untuk sahabat tuli. Khusus dalam kajian ini akan dihadirkan penerjemah yang membantu pendakwah dalam menyampaikan materi kepada mereka yang mengalami disabilitas sensorik atau tunarungu.
Isi kajian di berbagai komunitas itu, menurut Solikhin, dipastikan bisa diterima oleh umat Islam keseluruhan. Tak membedakan golongan atau organisasi keagamaan yang diikuti.
Mereka yang ber-back ground Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, maupun ormas lain, bisa mengikuti. Sebab, pendakwah yang didatangkan juga dari latar belakang NU maupun Muhammadiyah.
“Terkait materi biasanya kami juga koordinasi terlebih dahulu dengan pendakwah. Kira-kira materi apa yang sesuai dengan momennya,” tandasnya.
Baca Juga: Doa Buka Puasa Ramadan 2026: Arab, Latin, Arti, dan Waktu Membacanya
Pihak masjid pun tak gegabah dalam mendatangkan pendakwah. Mereka memilih yang memenuhi kualifikasi yang ditentukan.
Misalnya khusus untuk materi yang cukup berat dari Alquran maka yang mengisi adalah ustaz yang memang sudah expert di bidangnya.
Mereka didatangkan dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mulai Malang, Jombang, Trenggalek, dan, tentu saja, dari Kediri.
“Kami dalam mengundang pendakwah juga hasil koordinasi tim dan saran ustaz yang memang dituakan di sini (Masjid Nur Solikhin, Red). Juga kami cek track record-nya,” ungkapnya.
Selain mendatangkan pendakwah yang ahli, kemudahan jemaah dalam memahami isi kajian juga ditopang alat bantu. Seperti buku sebagai pegangan serta layar proyektor.
Intinya, Solikhin menekankan, mereka mengupayakan agar kajian disampaikan dalam cara sederhana dan mudah diterima semua kalangan.
Tak heran jemaah yang hadir pun juga berasal dari beragam kalangan dan daerah. Tak hanya dari Kediri saja.
Baca Juga: Bukber dan Budaya Konsumtif: Ramadan 2026 Jadi Ajang Gaya Hidup?
“Fokus kami bukan hanya materi dan praktiknya. Juga kenyamanan yang dicari oleh jemaah. Jadi akan kami usahakan sebaik mungkin dalam memberikan pelayanan. Baik melalui fasilitas yang kami sediakan maupun feedback. Contohnya dengan memberikan makanan setelah selesai kajian,” tandasnya.
Tentu proses yang dilalui dalam menyampaikan dakwah tidaklah mudah. Selalu ada tantangan tersendiri, salah satunya yaitu dalam menghadirkan jemaah yang konsisten.
Maka dari itu, setiap harinya selalu ada diskusi antar tim tentang bagaimana agar kajian itu tetap diminati dan hidup di tengah masyarakat.
Editor : Andhika Attar Anindita