Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Kajian Islam Non-pesantren di Kediri Raya, Gerkatin Beri Akses Penyandang Tuli

Ayu Ismawati • Kamis, 19 Februari 2026 | 06:00 WIB
Juru Bahasa Isyarat dari Rumah Quran Sahabat Tuli (RQST) Kediri saat menerjemahkan kajian yang berlangsung di Masjid Baiturrahmah, Kelurahan Semampir, Minggu (8/2)
Juru Bahasa Isyarat dari Rumah Quran Sahabat Tuli (RQST) Kediri saat menerjemahkan kajian yang berlangsung di Masjid Baiturrahmah, Kelurahan Semampir, Minggu (8/2)

Sebulan Sekali Gerkatin Bikin Kajian Khusus Tuli

Mulai edisi hari ini Jawa Pos Radar Kediri akan menurunkan tulisan khas Ramadan tentang kelompok-kelompok kajian Islam yang berada di luar pesantren. Diawali dari penyandang disabilitas rungu yang berusaha mendapatkan akses pendidikan agama di beberapa kelompok kajian.

Minggu pagi di Masjid Baiturrahmah selalu ramai. Ratusan orang  berdatangan. Mengikuti kajian agama Islam yang memang rutin berlangsung di masjid yang berada di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota, Kota Kediri tersebut.

Sepintas, tak ada yang berbeda dengan forum pengajian ini. Ada tokoh agama yang memberikan ceramah. Di podium, di depan para jemaah duduk lesehan di karpet.

Yang berbeda adalah, ada sosok perempuan berkerudung duduk di dekat penceramah. Menghadap ke audiens, dengan selalu menggerakkan jari-jari tangan. Menerjemahkan setiap perkataan sang ustaz menjadi bahasa isyarat.

Memang, perempuan tersebut adalah juru bahasa isyarat dari Rumah Quran Sahabat Tuli Kediri. Keberadaannya seiring banyaknya para disabilitas rungu yang aktif mengikuti kajian. Kebetulan, komunitas yang terafiliasi dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Kediri tersebut getol menyuarakan akses bagi penyandang tuli.

“Kajian Islam untuk tuli itu dulu belum ada. Sehingga pada 2022 lalu kami minta akses ke takmir masjid agar bisa ada juru bahasa isyarat,” jelas Mochammad Irvan Mahendra, ketua Rumah Quran Sahabat Tuli Kediri.

Pria yang juga Ketua DPC Gerkatin Kota Kediri itu mengatakan, upaya menghadirkan kajian Islam dengan bahasa isyarat itu tak lepas dari kebutuhan. Para penyandang tuli juga butuh akses pendidikan agama.

Dari kajian di masjid itu, lalu terus berkembang seiring waktu. Hingga saat ini, rata-rata dalam sepekan ada lima kajian Islam untuk tuli yang digelar di Kota Kediri dan Kabupaten Kediri. Di antaranya seperti di masjid milik RS SLG hingga di kantor DPC Gerkatin Kota Kediri, di Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren.

“Kami berjuang supaya teman-teman tuli bisa ke sana (ke kajian Islam) sudah ada akses. Bisa paham tentang Islam. Dan setiap satu bulan sekali di masjid Semampir itu juga digelar khusus tuli dari Kajian Islam Gerkatin,” beber pria asal Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota itu.

Berbeda dengan kajian khusus yang digelar untuk penyandang tuli, beberapa kajian yang diikuti juga merupakan kajian umum. Para jemaah penyandang tuli akan berbaur tanpa sekat dengan para orang dengar–sebutan untuk orang-orang yang mampu mendengar suara. Di setiap kajian itu, rata-rata diikuti 15 - 20 jemaah dari teman tuli dengan rentang usia yang beragam.

Di setiap kajian Islam umum yang diikuti, juru bahasa isyarat akan menerjemahkan tausiyah yang disampaikan oleh penceramah. Dan yang diterjemahkan adalah tausiyah yang disampaikan dengan bahasa awam seperti bahasa Indonesia atau bahasa Jawa.

Dengan tema yang beragam, mulai dari nilai-nilai kebajikan dan keislaman, hingga menyesuaikan momentum. Misalnya ajakan memperbaiki ibadah jelang Ramadan, seperti yang berlangsung pekan lalu (8/2).

Beruntung jika masjid tempat kajian berlangsung sudah dilengkapi banyak fasilitas penunjang seperti layar monitor. Para teman tuli tidak perlu berkumpul di satu titik di barisan paling depan agar bisa menyimak terjemahan oleh sang juru bahasa isyarat.

Sayangnya, belum banyak masjid yang dilengkapi fasilitas penunjang yang ramah bagi penyandang tuli.

“Harusnya ada peralatan seperti layar monitor untuk menampilkan video bahasa isyarat. Jadi kalau jemaahnya ramai, tidak khawatir kalau dapat tempat di belakang,” sambung Irvan.

Rumah Quran Sahabat Tuli Kediri sendiri mulai berdiri sejak 2021 lalu. Komunitas ini mewadahi para penyandang tuli yang ingin belajar Alquran maupun mengikuti kajian Islam yang aksesibel bagi mereka.

Salah satu indikasinya dengan keberadaan juru bahasa isyarat sebagai penyambung dengan penceramah yang selalu menyampaikan tausiyah secara verbal.

Menurutnya, tetap ada tantangan tersendiri dalam menyampaikan tausiyah dengan tanpa mengurangi maknanya. Sebagaimana komunikasi dengan bahasa isyarat pada umumnya, ekspresi wajah sangat dibutuhkan agar jemaah–utamanya dari tuli–bisa menangkap pesan yang disampaikan penceramah dengan baik.

Dengan kajian Islam tuli yang sudah digelar rutin di setidaknya tiga masjid umum, dia berharap lebih banyak lagi kajian Islam yang bisa memberikan akses setara bagi penyandang tuli.

“Harusnya bisa diperluas lagi, khususnya di wilayah lain. Seperti di Kabupaten Kediri itu aksesnya hanya di masjid itu saja. Kalau mau ke sini, kejauhan. Harusnya di wilayah-wilayah lain sudah ada akses untuk disabilitas. Tetapi kalau cari juru bahasa isyarat sulit,” ungkapnya sambil menyebut solusi lain seperti teks berjalan. (ayu isma/fud)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#bulan puasa #kajian islam #serial ramadan #ramadan #Liputan Khas Ramadan #GERKATIN #tuli #Teman tuli