Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Suswanto Merasakan Sulitnya Ajak Para Legenda Persik Kediri untuk Laga Amal Kuncoro

Emilia Susanti • Selasa, 10 Februari 2026 | 06:30 WIB

 

Legenda Persik Kediri Suswanto.
Legenda Persik Kediri Suswanto.

Responnya Sih Positif tapi Terbentur Kesibukan 

Tidak mudah mengumpulkan para pemain legendaris, meskipun untuk laga amal. Bukan karena para pemain tersebut sombong, melainkan terkendala sibuk yang sulit ditinggalkan.

Itulah yang dirasakan Suswanto, mantan pemain Persik, yang menjadi koordinator laga amal.

EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri

Ada 32 nama pemain legenda Persik Kediri yang terdaftar dalam laga amal almarhum Kuncoro pada 1 Februari lalu.

Nyatanya, tak semua legenda datang. Saat wartawan ini mengabsen satu per satu, hanya 21 orang yang hadir.

Namun itu wajar. Sebab, para mantan pemain Macan Putih ini sudah memiliki kesibukan masing-masing.

Setidaknya, itulah yang disampaikan oleh Suswanto. Mantan pemain Persik Kediri di 2003 – 2016 yang bertugas mengkoordinasikan pemain dalam laga amal tersebut.

“Satu dua (pemain) masih ada yang (ikut) liga 4, jadi nggak hadir. Terus Harianto pas ke Malang jenguk anaknya yang di pondok,” beber pria yang berusia 44 tahun itu.

Beberapa nama yang tidak bisa hadir di antaranya adalah Saiful Bahri, Suroso, Jefri Dwi Hadi, Zaenuri, Sulis Budi, Heri Suprayitno, Dwi Priyo Utomo, Harianto, Khokhok Runiarto, Priadi, dan Fatchul Ihya.

Sementara, mereka yang datang ada Solekan, Musikan, Khusnul Yuli, Wawan Widiantoro, dan lainnya.

“Saya juga hubungi Pak Jaya Hartono, tetapi pas hari H dapat telepon dari Aceh, ada mandat untuk melatih di sana,” lanjut Suswanto yang ditemui di Kantor Kelurahan Setonopande, tempat dirinya bekerja.

Mengumpulkan seluruh legenda Persik Kediri memang susah. Namun Suswanto melakukan tugasnya dengan senang hati.

Apalagi, setiap ajakan yang disampaikan mendapat respon positif dari para pemain. Terlebih lagi, selama ini, para pemain legenda sudah membuat grup Whatsapp.

Namanya All Star Persik. Yang mana, total anggota grupnya ada sebanyak 29 orang. “Alhamdulillah semua responnya baik,” beber pria yang berkepala plontos itu.

Meski tak semua legenda Persik Kediri bisa hadir, laga amal itu berlangsung dengan baik dan lancar. Suporter pun tampak terhibur.

Bahkan gelak tawa sesekali terdengar kala ada pemain yang jatuh. Padahal, jika itu pertandingan yang sesungguhnya, reaksinya mungkin adalah emosi. Bisa dibilang, laga amal itu benar-benar membuat semua orang bernostalgia.

Suswanto sendiri pun merasa senang bisa kembali bermain di Stadion Brawijaya, Kota Kediri. Baginya, dia seperti kembali ke masa yang dulu. Karenanya, dia mengaku ingin mengajak para legenda bermain lagi.

“Pengennya ya satu bulan sekali,” kata pemain yang dulunya berposisi sebagai gelandang bertahan ini.

Namun demikian, kesibukan memang menjadi kendala utama. Suswanto pun memiliki kesibukan sendiri.

Saat ini, dia masih tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Sementara, penugasaannya sekarang adalah di Kantor Kelurahan Setonopande sebagai Kasi Pembangungan.

Menariknya, Suswanto masih aktif di dunia sepak bola. Saat ini, dirinya menjabat sebagai Exco Bidang Pembinaan di Asosiasi Kota Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Askot PSSI) Kediri. Setidaknya sudah empat tahun ini.

“Wilayah Kediri Raya itu punya potensi besar, ada banyak SSB (sekolah sepak bola),” lanjutnya saat membahas sepak bola Kediri.

Hal itulah yang membuat dirinya terketuk untuk membuat kompetisi untuk usia dini. Sebetulnya itu sudah dilakukan sejak 2019 silam dengan nama Liga Mandiri. Lalu pemain yang bisa turun adalah mereka yang berusia 8 – 15 tahun.

“Setelah saya masuk di pengurusan, namanya menjadi Askot Super League itu,” terang pria asli Rembang, Jawa Tengah ini.

Jika ditarik ke belakang, Suswanto memang langsung bergabung ke SSB Macan Putih usai gantung sepatu pada 2016 silam.

Setelah berkecimpung dengan pemain usia dini, dia miris melihat minimnya kompetisi. Bahkan dia mengklaim tidak ada sama sekali kompetisi yang digelar di Kota Kediri.

Oleh karenanya, dia berinisiatif untuk mengumpulkan seluruh pelatih di SSB Kota Kediri untuk kompetisi.

“Dulu ya ada kompetisi tapi biayanya kan mahal. Untungnya para pelatih di SSB itu juga senang pas saya usul untuk kompetisi Liga Mandiri,” bebernya.

Kompetisi Liga Mandiri memang tidak sepenuhnya gratis. Namun setidaknya tidak semahal jika ikut kompetisi yang lain. Di sisi lain, kompetisi tersebut juga membawa lebih manfaat.

“Pemain dapat jam terbang dan perangkat pertandingan juga bisa menambah pengalaman,” tandasnya. (fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
#persik kediri #pemain legenda #sepak bola kediri #pemain persik #mantan pemain sepak bola #legenda sepak bola #laga amal