Teater, mungkin, tak sepopuler seni pertunjukan lain semacam tari dan musik. Namun, di Kota Kediri, geliatnya mulai terasa. Salah satunya tak lepas dari upaya Ratna Aniswati yang memberi pendekatan berbeda pada seni teater.
AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri
Kegiatan sekolah memang sudah berakhir beberapa jam lalu. Namun, beberapa pelajar di SMP Pawyatan Daha 1 bertahan. Tak beranjak meninggalkan sekolah meskipun jam pulang telah lewat.
Mereka memilih berkumpul di salah satu ruangan. Di tempat yang bernama ruang latihan Paguyuban Pecinta Seni Tradisi. Menggerak-gerakkan anggota tubuh. Juga melatih mimik wajah menampakkan beraneka ekspresi.
Musik instrumentalia ber-tone ceria mengiringi setiap gerakan. Membuat dua pelajar perempuan kian bergerak dengan percaya diri.
Raut muka yang ekspresif menjadi narasi dari gerakan-gerakan yang mereka buat. Menjadi cerita tanpa harus mengeluarkan kata-kata.
“Pantomim juga pertunjukan teater. Tanpa dialog, mengandalkan gestur dan ekspresi wajah,” ucap seorang wanita yang terus mengamati gerakan dua pelajar itu. Sembari sesekali memberi pengarahan.
Wanita itu adalah Ratna Aniswati. Pekerja seni yang sudah malang-melintang di dunia perteateran Kediri dalam beberapa tahun terakhir. Menjadi pengajar seni teater, yang memiliki puluhan murid di Kota Kediri.
Saat itu Nana-demikian dia biasa disapa-tengah melatih dan menyutradai latihan pantomim dua pelajar itu.
Nana belum terlalu lama tinggal di Kota Kediri. Wanita asal Pulau Dewata ini baru pindah ke Kediri pada 2019.
Baca Juga: Inspiration Art of Tegowangi: Keindahan Seni Berpadu Sejarah Candi di Kediri
“Awalnya hanya jadi ibu rumah tangga. Sampai akhirnya aku merasa jenuh karena nggak punya siapa-siapa dan tinggal di perumahan yang ibu-ibunya juga pekerja semua. Akhirnya aku ketemu teman lama dan ditawari mengajar di sekolah sebagai pengarah teater,” ucapnya berkisah awal menjadi seorang pengajar seni teater.
Datangnya tawaran sebagai guru seni teater bukan tanpa sebab. Jauh sebelum pindah ke Kota Kediri, perempuan kelahiran 1988 itu sudah bergelut dengan dunia seni pertunjukan. Sejak kelas 3 SD sudah sering ikut lomba membaca puisi. Kecintaannya dengan dunia seni pertunjukan pun terus tumbuh seiring waktu.
Setelah menyelesaikan pendidikan teater di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Nana menjadi pengajar teater di Surabaya.
Di Kota Kediri, Nana pun memutuskan tetap melanjutkan sepak terjangnya sebagai sutradara teater. Dengan fokus mengajar anak-anak usia SD hingga SMP di berbagai sekolah maupun privat.
Salah satunya sebagai pengajar seni untuk Paguyuban Pecinta Seni Tradisi di SMP Pawyatan Daha 1.
“Secara umum yang aku ajarkan itu teater. Tetapi ada sekolah meminta aku mengajar untuk pantomim, ada yang untuk dongeng, ada yang ingin untuk teaternya. Jadi tergantung request mereka,” ungkapnya.
Sebagai pengajar seni, Nana punya metode khusus yang membuatnya berbeda dari guru seni lainnya. Yaitu metode theater games.
Pembelajaran keterampilan drama dalam bentuk permainan yang menyenangkan. Fokusnya bukan kepada mencapai ego berkompetisi. Melainkan pada pengembangan karakter anak yang bisa dibentuk dari praktik-praktik seni teater.
“Jadi sebenarnya teaterku bukan untuk perlombaan. Tetapi untuk pengembangan kepribadian anak. Memang aku fokusnya (mengajar) untuk anak-anak,” tandasnya.
Melalui latihan teater itu, anak juga bisa diajarkan untuk lebih berkonsentrasi, percaya diri, hingga memantik kemampuan sosial mereka untuk lebih berani bergaul dengan teman-temannya.
“Karena menurutku kalau anak sudah bisa itu, ibarat besi panas, gampang (dibentuk, Red). Mau tekuk kanan, tekuk kiri. Nah, beberapa orang tua memahami itu. Merasa ‘Oh, anakku jadi lebih percaya diri’. Ternyata anakku bisa seperti itu,” ungkap perempuan yang berdomisili di Kelurahan Sukorame, Mojoroto itu.
Sebagai seorang ibu, Nana memang menaruh perhatian lebih pada dunia anak-anak. Dia mempercayai, metode theater games dari pembelajaran seni teater itu bisa membantu anak lebih berkembang.
Khususnya untuk anak-anak yang tumbuh dengan rasa tidak percaya diri karena alasan perundungan, status ekonomi, hingga perpisahan orang tua.
“Contohnya ada muridku yang awalnya itu sangat tidak percaya diri anaknya. Sampai gak punya teman. Tiba-tiba dia dapat juara 1, sekarang dia sudah jauh berbeda,” beber ibu dua anak itu.
Harapan pun tumbuh dari anak itu. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai kekurangannya, kini bisa menjadi sesuatu yang dibanggakan. Karena rasa percaya diri yang semakin tumbuh, kemampuan sosial anak untuk bergaul juga ikut meningkat.
“Sekarang jadi mau berteman dan punya banyak teman,” ungkapnya.
Salah satunya Siti Vania, siswa kelas 9 SMP Pawyatan Daha 1. Meski tak ikut berlatih, pelajar berjilbab itu ikut mengamati adik-adik kelasnya berlatih.
Dia adalah salah satu murid Nana yang untuk pertama kalinya belajar pantomim ketika duduk di bangku kelas 7. Dari yang awalnya sangat minder dan tak punya teman, Siti tumbuh menjadi remaja yang ramah dan murah senyum.
Hasil konsistensinya berlatih dengan Nana juga mengantarkannya mendapat golden ticket menuju SMA negeri se-Jawa Timur. Setelah pada 2024 lalu, dia mendapat juara 2 untuk lomba pantomim tingkat SMP di Festival dan Lomba Seni Siswa Tingkat Nasional (FLS2N) Tingkat Provinsi Jatim.
“Dulu memang ingin ikut sendiri karena penasaran ingin tahu pantomim itu seperti apa, oh gerakannya seperti ini, kayaknya aku bisa. Tapi ternyata setelah dipraktekkan, susah juga,” kata Siti sembari tertawa kecil.
Kini, anak-anak didiknya yang tersebar dari rentang usia 9 - 15 tahun itu dia wadahi dalam komunitas bernama Gala Seni. Hingga saat ini, anggota aktifnya sudah lebih dari 30 anak.
Melalui komunitas itu, kegiatan seni yang rata-rata dimulai anak di sekolah, tetap bisa dilanjutkan meski anak sudah lulus dari sekolah masing-masing.
“Sering kali misal temanku butuh talent, anak-anak ini tetap bisa ikut dengan di bawah naungan Gala Seni. Karena biasanya kami ketemunya hanya di sekolah. Tapi begitu lulus sekolah, berhenti sudah,” katanya, dengan begitu anak-anak didiknya tetap bisa mengembangkan kemampuan seni mereka di luar sekolah. (fud)
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : Andhika Attar Anindita