Mereka tak cuma rugi finansial, batin mereka juga remuk. Dimarahi hingga dimusuhi istri jadi santapan biasa. Sampai-sampai, ada yang tak berani bersua mertua.
ASAD M.S., Kabupaten, JP Radar Kediri
Di musala Pengadilan Kabupaten Kediri itu mereka berkumpul. Lima orang, semuanya pria. Alamat rumahnya berbeda-beda, nyaris berjauhan.
Ada yang tinggal di wilayah Kabupaten Kediri, ada pula di Kota Kediri.
Namun, ada satu hal yang menyatukan para pria yang semuanya sudah berkeluarga ini. Sesuatu yang, sebenarnya, tidak menyenangkan.
Mereka merasa menjadi korban dari bisnis kemitraan yang diikuti, Deca Reptil.
“Dipadu bojo wis biasa Mas (dimarahi istri sudah biasa Mas, Red),” ucap Setyawan, salah seorang di antara mereka.
Ya, Wawan-demikian pria warga Desa Melati, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri biasa disapa-adalah salah satu peserta bisnis kemitraan Deca Reptil.
Berjajar di sebelahnya adalah Heru Santoso, Erry Budiono, Mahfud, dan Ali Kusrin. Semuanya juga anggota bisnis bermodel plasma inti tersebut.
Di musala itulah kelimanya bercerita tentang nasib mereka. Tak hanya rugi secara materi, juga bagaimana kehidupan sosial mereka terpengaruh.
Semuanya akibat investasi gagal yang mereka ikuti.
Wawan meneruskan ceritanya. Laki-laki kelahiran 1968 ini mengisahkan awal mula kenal dengan bisnis kemitraan itu pada 2019 lalu.
Mengetahui tentang Deca Reptiles dari iklan di stasiun televisi lokal. Karena sering muncul, dia jadi tertarik.
“Setiap ada yang berhasil selalu ditampilkan di iklan TV. Jadi tertarik,” akunya.
Pada 3 April 2019 dia bergabung menjadi mitra bisnis yang core bisnisnya berjualan tokek itu. Wawan membeli 45 kandang yang masing-masing berisi seekor tokek.
“Per kendang Rp 1,5 juta. Total sekitar Rp 67,5 juta,” aku laki-laki yang rambutnya sudah beruban itu.
Di awal keikutsertaannya, Wawan tak langsung rugi. Dia sempat panen 25 ekor tokek yang dibeli oleh Deca Reptiles secara cash.
Nilainya lumayan, Rp 10,7 juta. Keuntungan yang membuatnya kian tergiur mendalami bisnis ini.
“Akhirnya nambah paket kepiting 20 kandang,” kenangnya.
Sayangnya, keuntungan itu adalah yang pertama sekaligus terakhir. Sejak saat itu dia tak pernah lagi untung.
Hewan yang dia pelihara, tokek dan kepiting, tak lagi dibeli oleh pihak Deca Reptiles. Alasannya, tersendat akibat pandemi.
Ngenesnya, Wawan benar-benar berspekulasi dalam ikut bisnis ini. Uang untuk membeli tokek dari utang di bank. Jumlahnya juga tak sedikit.
“Sebelumnya saya ikut uang pinjaman. Jadi saya pinjam bank untuk nutup. Total pinjam Rp 70 juta. Rp 40 juta buat nyaur pinjaman. Rp 30 juta untuk ikut Decrab (cabang usaha Deca Reptiles yang menjual kepiting, Red),” keluh Wawan.
Kini, dia harus menutup pinjaman di bank itu. Tentu saja dengan bekerja serabutan. Apa saja yang bisa menghasilkan uang dia terjuni.
Sayangnya, hasil kerja serabutannya tak mampu menutupi utang-utangnya akibat gagal investasi tersebut.
Dampak sosialnya, dia jadi dimusuhi sang istri. Dimarahi istri di rumah menjadi hal yang biasa.
“Biasa perempuan kalau kelingan (kegagalan investasi) ngamuk-ngamuk. Arep tidur bareng trus kelingan. Malih gak sida (tidak jadi, Red),” keluhnya dengan nada pasrah.
Sang istri juga kerap tidak membukakan pintu rumah tanpa alasan jelas. Sehingga, bila dia pulang kemalaman, terpaksa tidur di luar rumah.
“Ya wis mek isa pasrah (ya sudah, hanya bisa pasrah, Red),” ucapnya.
Heru Santoso, korban lain, mengaku tak hanya tergiur iklan di televis lokal. Juga terpikat gara-gara ada tetangganya yang sukses.
“Dia kerjanya di PLN, ikut kemitraan itu juga jalan lancar,” aku Heru.
Heru ikut di awal April 2020. Membeli 40 kandang. “Itu ternyata sekitar tiga minggu sebelum bangkrut,” sesalnya.
Dia pun habis Rp 60 juta. Namun, berbeda dengan tetangganya yang sudah sempat profit, Heru tidak panen sama sekali. Akhirnya, puluhan juta ludes.
Indarto Heri Purwoko, penasihat hukum yang selalu jadi tempat konsultasi dan curhat para korban, menyebut tidak sedikit yang mengalami hal serupa. Seperti yang dialami Heru dan Wawan.
Ada pula yang awalnya harus meyakinkan mertuanya. Untuk menjual sapi agar uangnya digunakan untuk investasi itu. Sayangnya uang itu tidak kembali.
“Gara-gara itu, jadi gak berani ketemu mertuanya. Saat Lebaran gak berani nemui,” jelasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita