Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Warna "Ngejreng" Jadi Daya Tarik, Produk Rajutan Asal Kediri Ini Laris Manis Diburu Bule

Hilda Nurmala Risani • Minggu, 1 Februari 2026 | 05:16 WIB

Silvianita Hananda, Awalnya Cuma Survival Mode Kini Mampu Pasarkan Rajutan hingga ke Luar Negeri.
Silvianita Hananda, Awalnya Cuma Survival Mode Kini Mampu Pasarkan Rajutan hingga ke Luar Negeri.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Keterampilan jangan sepelekan, meskipun terkesan remeh. Contohnya adalah wanita ini. Kemampuan menyelaraskannya mampu menghasilkan pendapatan yang menggiurkan karena produknya dia pasarkan hingga luar negeri.

HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Ruangan persegi itu relatif luas. Ukurannya 10 meter kali enam meter. Cukup luas sebenarnya. Namun, beberapa barang yang memenuhinya membuat tempat itu terasa kecil.

Pertama, ada etalase kaca sepanjang 1,5 meter. Tingginya, satu meter. Namun memiliki empat susun. Tempat ini penuh dengan barang-barang hasil jahitan dan rajutan.

Baca Juga: Mengenal Suprayitno, Legenda Persedikab Kediri yang Teguh Bergelut Bina Pemain Usia Dini

Di dekatnya masih ada lagi tempat display untuk barang serupa. Tapi, bukan lagi berupa rak atau etalase. Melainkan benda persegi yang di tengahnya ram kawat. Digunakan untuk menempatkan aneka gantungan kunci rajutan.

Gantungan-gantungan kunci itu juga terbuat dari benang rajut. Bentuknya pun beragam rupa. Mendominasi karakter hewan lucu. Mulai dari lumba-lumba hingga penguin.

Barang-barang rajut itu adalah milik si empunya ruangan. Namanya Silvianita Hananda. Tak hanya gantungan kunci yang dia pakai. Juga tas berbagai ukuran serta motif. Kebanyakan menggunakan warna cerah dan motif yang menarik mata anak-anak.

Baca Juga: Tolak Pesanan Seragam Rp 1 Miliar demi Idealisme, Pasutri Guru di Kediri Ini Kukuh Lestarikan Batik Tulis

“Saya membuat rajutan itu baru terhitung bulan. Yang sudah lama dan ahli adalah membuat tas,” ujar Silvianita sambil melempar senyum.

Sambil mengucapkan itu, dia tetap sibuk melayani pelanggan. Bermanset dan hijab warna senada, abu-abu, Silvianita terlihat modis. Apalagi dipadu blazer motif kotak-kotak berwarna abu-abu tua. Dengan sigap meladeni orang yang datang untuk custom tas berbagai ukuran maupun motif tertentu.

“Keterampilan menjahit dan menceritakan ini kebetulan turun-temurun dari nenek dan mama. Kalau nenek hobinya menjahit, sedangkan mama adalah menjahit,” Silvianita bercerita dari mana datangnya keahlian tersebut.

Baca Juga: Kisah Suyati si Pemilik Rumah yang Dihantam Bus Harapan Jaya saat Laka Beruntun di Muning Kediri

Meskipun sejak kecil dia sering melihat nenek dan ibunya melakukan aktivitas tersebut, awalnya dia belum memiliki ketertarikan secara khusus. Meskipun dia bisa hanya memanfaatkan sebatas untuk mode bertahan hidup . Memanfaatkan kemampuan menjahit hanya ketika celananya sobek. Kemudian diperbaiki secara mandiri.

“Baru tahun 2017 saat saya ikut suami kerja di Bali. Karena masih anak satu, saya berusaha mencari kesibukan. Yaitu dengan bekerja membuat baju-baju anak kecil yang vulgar,” kenangnya.

Setelah itu, selain baju dia juga diminta membuat tas. Dan, tas inilah yang akhirnya berhasil dikirimkan ke luar negeri seperti Jerman dan Amerika.

Baca Juga: Read Aloud Kediri Raya, Komunitas Buku yang Bangun Kesadaran Literasi sejak Usia Dini

Tentu selama mengerjakan pesanan keahliannya berkembang secara otodidak. Itu karena dituntut agar bisa selalu berkreasi dengan ide-ide baru.

“Setelah pengalaman yang cukup banyak saya dapatkan, akhirnya pada tahun 2022 menetap di Kediri. Di sini (Kabupaten Kediri, Red) saya tetap membuat tas dan memasarkannya melalui media sosial,” beber perempuan asal Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri itu.

Perlu diketahui, tas buatannya memiliki ciri khas khusus dibandingkan tas-tas dari pengrajin yang lain. Salah satu cirinya adalah menggunakan warna yang “ngejreng”. Itu karena terbiasa melayani bule yang lebih suka warna menyala.

“Orang bule itu suka warna ngejreng dan motif bunga. Kalau polos justru tidak tertarik,” tandasnya.

Baca Juga: Keren! Sinden Aviathun Nisak ​​Buktikan Jadi Budayawan Tak Harus Kuno, Begini Caranya Pikat Gen Z Lewat Medsos

Ditanya terkait jenis tas, perempuan berusia 41 tahun itu mengaku jika tas buatannya sebagian besar adalah tas laptop, tas fashion, tas sekolah, dan tas custom sesuai permintaan pelanggan.

Dengan kisaran harga Rp 65 ribu sampai dengan Rp 85 ribu, pembeli bisa mendapatkan tas bahan kanvas dan vinyl.

“Semuanya di bawah Rp 100 ribu. Kalau lagi ramai pendapatannya bisa Rp 8 juta sampai dengan Rp 10 juta per bulan,” bebernya sambil menyebut ada rencana menggunakan bahan kain perca ke depannya.

Baca Juga: Kisah Sofie Imam Faizal dari Pemain ke Pelatih Fisik Langganan Timnas Indonesia

Meskipun harganya relatif murah, kualitas yang diberikan tidak main-main. Setiap tugas dikerjakan sepenuh hati dengan referensi motif dari Youtube.

“Pengiriman sudah sampai Kalimantan, Sumatera, Hongkong, Malaysia, dan Jerman. Kebanyakan mereka membeli souvenir berbentuk tas ransel sekolah,” ungkapnya sambil menyebut sekali pemesanan bisa sampai ratusan pcs.

Berdiri di samping produk kebangaannya, Silvi membenarkan jika sebagai pengrajin perjalanan yang dilaluinya tidaklah mudah. Sebab harus melawan rasa malas ketika dituntut konsentrasi dan kreatif dalam membuat pesanan.

Baca Juga: Cuma Belajar dari Youtube, Ibu Rumah Tangga Ini Raup Cuan dari Boneka Rajut. Gantungan Kunci Sampai Buket Laku Keras

“Namanya membuat kerajinan tangan ini kalau tidak mood hasilnya ya jelek. Biasanya saya mengerjakan ketika anak-anak sudah tidur malam. Istilahe kayak lawa aktife pas bengi wae ,” paparnya disertai gelak tawa.

Tentu agar bisa bertahan sampai saat ini dia berusaha memperbarui keahlian dan idenya. Juga aktif mengamati model-model yang banyak diminati pelanggan.

“Tak hanya ahli membuat tas dan merenda, saya juga bisa membuat buket maupun pakaian dari kresek saat agustusan. Apapun yang dibutuhkan pelanggan saya usahakan saya usahakan bisa,” sebutnya memungkasi percakapan panjang.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#kabupaten kediri #Crochet #rajut #kecamatan ngasem #Karyanya pikat bule #umkm kediri