Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Suprayitno, Legenda Persedikab Kediri yang  Teguh Bergelut Bina Pemain Usia Dini

Emilia Susanti • Kamis, 29 Januari 2026 | 16:16 WIB

Legenda Persedikab Kediri Suprayitno.
Legenda Persedikab Kediri Suprayitno.

Pesannya Satu, Sepak Bola Itu Harus Fair

Gantung sepatu bukan berarti vakum dari lapangan hijau. Nyatanya, Suprayitno, legenda Persedikab Kediri, masih tekun berbagi pengalamannya dan menyalurkan ilmunya dari generasi ke genarasi. Pesannya satu, sepak bola itu harus fair.

EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Menjadi pemain sepak bola memang ada masanya. Itu pun tak sepanjang menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Namun demikian, bukan berarti tidak ada aktivitas sama sekali. 

Di dunia lapangan hijau, mantan pemain bisa berpindah haluan menjadi pelatih, wasit, ofisial, manajer, bahkan pemilik klub.

Di sepak bola Kediri, ada banyak legenda pemain yang masih menggeluti lapangan hijau. Salah satunya Suprayitno.

Pemain Persedikab Kediri era 80 akhir dan 90-an awal. Di usianya yang sudah menginjak 58 tahun, dia masih kuat meniup peluit yang dikalungkannya.

Baca Juga: Kisah Sofie Imam Faizal dari Pemain ke Pelatih Fisik Langganan Timnas Indonesia

Seperti Minggu (25/1) di lapangan Desa Katang, dia masih antusias memberi instruksi ke anak didiknya. Anak di usia 13 – 14 tahun.

Lalu pada saat memasuki sesi latihan tendangan penalti, dirinya bertepuk tangan usai pemain melepaskan tendangannya. Kemudian dia akan menambahkan apresiasi dua jempol bagi yang berhasil membobol gawang.

“Saya (pelatih) di sini ya sudah puluhan tahun. Ada kalau tiga puluh tahun,” kata kakek dua cucu ini.

Sayangnya, Prayit-sapaan akrabnya, lupa bila harus menceritakan detail kisahnya semasa menjadi pemain.

Terutama bila membahas tahun. Dia hanya mengingat dirinya dulunya pernah membela Persik Kediri era 80-an.

Lalu, dia berpindah ke Persedikab Kediri pada 1986. Alasan kepindahannya kala itu memang masuk akal. Sebab, para pemain akan dijamin menjadi PNS.

“Dulu saya itu ya seniornya Mas Musikan dan Mursalim (dua pemain ikon Persedikab era akhir 1990-an dan awal 2000-an, Red),” kenang Prayit yang dulunya berposisi sebagai winger.

Baca Juga: Kisah Wildan Jauhar, Dokter Tim Persik Kediri yang Sempat Jadi Dokter Timnas Futsal Putri

Kebersamaannya bersama Persedikab Kediri sebagai pemain memang sudah berlalu. Namun, bukan berarti dia hanya menjadi penonton dalam sepak bola Kediri.

Usai gantung sepatu, dia sebetulnya sempat mengasisteni Imam Syafii untuk Liga Remaja. Kala itu, Persedikab Kediri berhasil lolos hingga babak nasional meskipun bukan menjadi juara.

Selebihnya, dia menjalani tugas utamanya di Puskesmas Pagu. Di sisi lain, dia juga menggeluti kegiatan pelatih meski tak mengambil lisensi sama sekali.

Menjadi pelatih, dia mengaku tak ada ambisi lebih. Dia lebih mementingkan pembinaan. Memberi kesempatan bagi siapapun yang ingin merasakan kerasnya lapangan hijau.

Baca Juga: Terulang Lagi, Persedikab Kediri Terhenti di Babak 16 Besar Liga 4 Piala Gubernur Jatim

Kendati demikian, dia merasakan ada perbedaan besar antara anak-anak zaman dulu dan sekarang.

Menurutnya, anak-anak zaman dulu memiliki motivasi tinggi untuk menjadi pemain sepak bola. Bahkan banyak di antaranya yang tidak mendapatkan dukungan orang tua.

Sekarang, hampir semua anak mendapatkan dukungan penuh. Latihan pun diantar dan ditunggu sampai selesai.

Ada anak yang memang ingin menjadi pemain sepak bola. Ada pula yang memang keinginan orang tuanya. Terkadang agar sekadar anaknya memiliki kegiatan positif.

“Semangatnya sudah beda. Dulu saya jadi pemain itungontel dari dari Menang ke pendapa (tempat berkantornya saat masih menjadi honorer, Red). Anak sekarang, bisa dilihat, orang tuanya nunggu,” ujarnya sembari menunjuk para orang tua yang sedang menunggu anaknya selesai berlatih.

Baca Juga: Head Coach Persik Kediri Marcos Reina Torres Pernah Diberi Bola Lionel Messi saat Jadi Jurnalis

Walau begitu, Prayit tidak melihat itu semua sebagai beban. Sebab, dia memang ingin terus membagikan ilmu dan pengalamannya untuk para bibit-bibit muda yang ada di Kediri.

Tak memiliki lisensi juga tidak membuatnya berkecil hati. Dia mengaku tetap meng-up grade wawasannya. Apalagi sudah ada internet.

Terakhir, dia berpendapat ada banyak anak-anak di Kediri yang memiliki potensi besar untuk menjadi pemain.

Namun masih ada pekerjaan rumah (PR) besar. Yakni bagaimana klub atau pelatih yang ada saat ini bisa mewadahi para pemain yang benar-benar memiliki kemampuan.

Tau sendiri, terkadang seleksinya kadang-kadang nggak fair. Saya cuman memberi masukan aja ke teman-teman pelatih kalau jadi tim penyeleksi atau ditugasi untuk melatih, tolong kalau mau prestasi ya yang berintegritas juga,” pesannya. (fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
#divisi utama #Persedikab Kab Kediri #sepak bola kediri #Suprayitno #bledug kelud #legenda sepak bola #persedikab