Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Read Aloud Kediri Raya, Komunitas Buku yang Bangun Kesadaran Literasi sejak Usia Dini

Ayu Ismawati • Selasa, 27 Januari 2026 | 13:46 WIB
BANGUN BUDAYA BACA: Anggota komunitas Read Aloud mengajak anak-anaknya membaca di atrium Kediri Town Square pada Minggu (25/1) lalu.
BANGUN BUDAYA BACA: Anggota komunitas Read Aloud mengajak anak-anaknya membaca di atrium Kediri Town Square pada Minggu (25/1) lalu.

Di pojok pameran buku di sebuah mal di Kota Kediri, anak-anak berusia 3 - 7 tahun itu seakan asyik dengan dunianya sendiri. Seolah tak menghiraukan hiruk-pikuk atrium mal yang penuh di Minggu pagi itu.

Sesekali mereka bercanda dengan teman yang lain. Sembari tetap menyimak dan merespons ucapan dua orang perempuan dewasa di depannya.

Bocah-bocah yang duduk lesehan beralaskan karpet itu tentu didampingi para orang tua. Yang tak sekalipun melepas pandangan dari geliat dan polah mereka.

Di sana, bocah-bocah itu tengah menyimak cerita yang dibacakan anggota dari komunitas Read Aloud Kediri Raya. Suatu komunitas literasi yang terbentuk di Kediri sejak beberapa tahun lalu.

Sekilas, aktivitas mereka nampak seperti kelas-kelas di TK atau PAUD. Anak-anak bebas bergerak dan berinteraksi dengan anak-anak lainnya.

Yang berbeda, ada pesan pembelajaran yang mereka simak dari setiap buku cerita yang dibacakan dengan nyaring atau keras.

“Membaca nyaring ini sebenarnya cara kami membekali anak-anak tentang wawasan dan ilmu. Dari situ, anak-anak akan terbangun dan berkembang imajinasinya dan dia akan terus-terusan bertanya sehingga neuron otaknya selalu terhubung hingga menciptakan rasa keingintahuan dari anak,” ujar Ketua Komunitas Read Aloud Kediri Raya Maida Safitri.

Mulanya, komunitas itu terbentuk dari kesadaran membangun budaya literasi. Berawal dari lingkaran pertemanan ibu-ibu muda atau ibu dengan anak balita. Mereka tergerak menumbuhkan budaya literasi dari lingkup komunitas sosial paling rendah.

Yakni, dari lingkungan keluarga sendiri. Para ibu-ibu yang saling mengenal dan bertukar wawasan parenting secara online itu pun mulai membentuk komunitas.

Hingga kini, Read Aloud Kediri Raya masih aktif menghidupkan nyala literasi melalui kegiatan-kegiatannya. Baik offline atau tatap muka, maupun secara online atau daring.

“Awalnya dari pertemanan online. Kami sering sharing-sharing tentang buku yang pas untuk anak. Sering saling pinjam buku juga,” sambung ibu tiga anak itu.

Dari pertemanan itu, mereka menemukan satu permasalahan yang banyak dialami para orang tua. Bahwa belum banyak orang tua yang terbiasa membacakan buku kepada anak-anaknya.

Entah karena keterbatasan waktu maupun karena belum cukup ada informasi atau wawasan tentang pentingnya literasi bagi tumbuh kembang anak. Dari situ, lingkaran pertemanan itu semakin tumbuh. Hingga kini Read Aloud Kediri Raya sudah memiliki lebih dari 80 anggota.

“Ciri khas kegiatan kami itu selalu ada membaca buku nyaring. Dari situ kan artikulasi dan bunyi huruf itu anak-anak akan belajar secara nggak langsung. Dan karena secara nggak langsung, belajarnya jadi menyenangkan. Dan selain itu, mereka jadi tahu bahasa Indonesia yang baku yang akan memengaruhi percakapan mereka sehari-hari. Itu juga yang terjadi ke anak-anak saya,” beber perempuan 37 tahun itu.

Agar kegiatan belajar itu bisa lebih menyenangkan, aktivitas fisik juga selalu dihadirkan. Kegiatan fisik itu dilakukan tetap dengan menyesuaikan buku cerita yang dibacakan.

Seperti contoh, ketika membacakan buku cerita tentang keanekaragaman batik, anak-anak juga diajak berkreasi membuat batik. Yang tentunya bahan dan metodenya disesuaikan dengan usia anak.

“Misal seperti membuat batik ini kami pakai bahan pewarna dan alat yang aman untuk anak. Cetakannya pakai sayur-sayuran,” ungkap perempuan yang tinggal di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri itu.

Para ibu anggota komunitas itu pun berasal dari berbagai latar belakang. Tak melulu dari latar belakang pendidik, tak sedikit dari mereka yang merupakan ibu rumah tangga hingga penulis buku anak. Keinginan menumbuhkan budaya literasi dari lingkungan keluarga itulah yang menjadi kesamaan di antara mereka.

“Kami ingin mewujudkan masyarakat Kediri yang bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Salah satunya dengan cara read aloud atau membacakan buku secara nyaring di rumah masing-masing,” tandas Maida.

Pada umumnya, kegiatan mereka dilakukan di ruang-ruang publik yang aman untuk anak. Di antaranya seperti taman-taman kota tempat anak bisa leluasa bermain sembari belajar.

Tak melulu sebagai pendengar, anak-anak juga bisa berganti peran sebagai pembaca nyaring yang membacakan buku di depan orang tua atau teman-temannya.

“Kadang-kadang juga dilanjutkan dengan recall. Jadi apa yang sudah kamu baca, coba diterapkan. Jadi lebih kepada kami melatih anak untuk mengungkapkan apa yang sudah dia baca,” pungkasnya. (fud)

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel         

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#komunitas #literasi #anak-anak #komunitas buku #komunitas literasi