Pondok Pesantren Ashluddiniyyah di Desa Karanganyar, Wates ini berbeda dengan pesantren kebanyakan.
Santri yang tinggal di dalamnya mayoritas adalah orang dengan gangguan jiwa. Karena itu pula, pesantren milik Mohammad Syifa’iini lebih dikenal sebagai pesantren ODGJ.
ASAD M.S., Kabupaten, JP Radar Kediri
Gerbang kompleks pesantren di Dusun Jimus, Desa Karanganyar, Wates itu tertutup rapat pada Minggu (18/1) pagi lalu.
Dari luar terlihat tulisan kantor Pondok Pesantren Ashluddiniyyah. Bangunannya mirip dengan pesantren kampung kebanyakan.
Di dalamnya juga ada masjid yang biasanya jadi pusat aktivitas santri.
Begitu gerbang dibuka oleh Mohammad Syifa’i, sang pemilik pesantren, baru terlihat banyak perbedaannya.
Santri di sana bukanlah anak-anak atau remaja. Melainkan, beberapa di antaranya justru sudah di atas 30 tahun.
Baca Juga: Kisah Sofie Imam Faizal dari Pemain ke Pelatih Fisik Langganan Timnas Indonesia
Ada yang berjalan mondar-mandir sambil meracau. Ada pula terduduk diam di pelataran masjid. Bahkan, ada seorang pria yang kaki dan tangannya dirantai.
“Itu (yang dirantai) sudah sakit 25 tahun (mengalami gangguan jiwa). Baru datang ke sini tiga hari,” kata pria yang akrab disapa Gus Syifa ini tentang santri barunya itu.
Pemasangan rantai di kaki dan tangan sang santri juga karena alasan khusus. Yakni, kondisinya yang belum stabil. Tiba-tiba bisa mengamuk dan berbuat onar.
“Di kampungnya juga sering mengamuk dan berbuat onar,” lanjut Syifa sembari menyebut setelah beberapa hari tinggal di pesantrennya dia sudah tidak lagi mengamuk.
Mengapa Syifa mendirikan pesantren khusus untuk orang-orang gangguan mental itu? semuanya berawal ketika dia lulus dari Ponpes Al Munawwariyyah, Malang pada 1998 silam.
Kala itu, dia melihat banyak remaja berandalan yang suka tawuran, minum miras, dan mengonsumsi narkoba.
Merasa miris, tebersit di benak pria yang pernah mondok di Ponpes Assa’idiyah, Jamsaren itu untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. ‘Menyembuhkan’ mereka.
“Saya lakukan pendekatan. Cangkruk dengan mereka. Pokoknya berbaur,” kenang pria yang sehari-hari rambutnya dikucir itu.
Setelah akrab, barulah Syifa memberi nasihat dan mengajak mereka untuk salawatan.
“Itu berhasil, kadang orang-orang yang baru mabuk juga ikut salawatan. Saya minta wudhu dulu,” lanjut Syifa sambil tertawa.
Berawal dari kegiatan salawatan itu, pria kelahiran 1973 silam tersebut lantas mulai membangun pesantren di awal tahun 2000-an. Niatnya juga pesantren untuk belajar ngaji.
Namun, santri pertamanya yang datang adalah umat Kristiani yang mengeluh takut dalam gelap.
“Saya bilang bisa mengatasi asal dia mau tinggal di pesantren. Tapi saya Kristen,” tutur Syifa menirukan ucapan santrinya kala itu.
Meski bukan umat Islam, Syifa tetap menyambutnya dengan lapang dada. Sebab, tujuannya datang adalah untuk menyembuhkan rasa takutnya.
“Dia juga tetap ke gereja. Tetap beribadah. Saya tidak masalah,” paparnya.
Di saat yang sama dia terus menjalani serangkaian hipnoterapi hingga sembuh.
Belakangan, ‘pasien’ perdananya itu memutuskan untuk mualaf atau memeluk agama Islam.
Keberhasilan Syifa mengobati gangguan mental langsung menyebar. Banyak ‘santri’ yang datang untuk berobat. Termasuk meminta Syifa melakukan rukyah.
“Metode saya itu dengan hipnoterapi dan pemberian nasihat agama. Saya meyakini orang yang beriman tidak akan depresi karena punya patokan hidup. Hatinya bersih karena selalu dekat dengan Allah SWT,” tuturnya.
Dia bersyukur karena cara tersebut terbilang efektif. Setidaknya kini sudah banyak yang sembuh.
Ada mantan pasiennya yang menjadi guru, satpam, dan banyak pekerjaan lainnya. Untuk bisa menyembuhkan mereka, pendekatan yang digunakan ke masing-masing orang berbeda.
Tidak jarang dalam prosesnya Syifa juga menjadi korbannya. “Kena pukul dari pasien baru itu sudah biasa,” kenangnya tergelak.
Tidak hanya itu, barang-barang di pesantrennya rusak karena terkena lemparan ODGJ yang tiba-tiba mengamuk juga dimaklumi.
“Televisi dan pot di pesantren rusak terkena lemparan juga pernah,” urainya memberi contoh. Suatu kali Syifa juga dibuat repot oleh pasien yang juga merupakan pendekar.
Baca Juga: Siapa Sangka, Kompositor Visual Anime Populer Ternyata Seorang Pelajar dari Kandat Kediri!
“Badannya kekar karena memang pendekar. Mengamuk. Untungnya bisa ditenangkan,” jelasnya.
Meski banyak serba-serbi dalam penyembuhan, Syifa mengaku senang karena mereka bisa sembuh.
Kepuasan terbesarnya adalah saat melihat para santrinya kembali ke rumah, bisa terlepas dari gangguan jiwa yang dialaminya dan bisa hidup mandiri.
“Alhamdulillah bisa membantu orang. Yang datang ke sini juga dari jauh. Seperti Jombang, Surabaya, dan Blitar. Saya tidak tahu dari mana mereka mendapat informasi,” jelas pria yang mengaku tidak bisa menolak kedatangan pasien ke pesantrennnya itu. (ut)
Editor : Andhika Attar Anindita