Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Keren! Guru SD di Kota Kediri Ini Tak Hanya Mengajar, Tapi Juga Produktif 'Telurkan' Banyak Buku Cerita Anak

Ayu Ismawati • Rabu, 21 Januari 2026 | 02:00 WIB
PRODUKTIF: Fajar Setiorini menunjukkan beberapa karya buku yang ditelurkannya.
PRODUKTIF: Fajar Setiorini menunjukkan beberapa karya buku yang ditelurkannya.

 

Hobi wanita ini selaras dengan profesinya sebagai guru, membaca dan menulis. Hobi itu pula yang membuatnya produktif menelurkan buku cerita bergambar. Sekaligus jadi media ajar yang menarik dan tidak monoton.

 

AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri

 

Guru perempuan itu membawa setumpuk buku. Jumlahnya ada belasan. Berupa cerita bergambar atau sering disebut cergam. Buku-buku itu kemudian ditaruh di meja ruang kepala sekolah, tempat dia bertemu Jawa Pos Radar Kediri.

“Sebagian lainnya ada di rak buku,” ucap guru kelas 4 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Banjaran 5 Kota Kediri ini.

Wanita itu bernama lengkap Fajar Setiorini. Tak hanya berprofesi sebagai guru, dia adalah penulis buku yang produktif. Belasan yang dia bawa itu adalah sebagian karyanya dan juga karya anak didiknya.

Fajar sengaja membukukan karya siswa-siswanya pula. “Sebagai bentuk penghargaan atas karya mereka,” lanjutnya, sambil menunjuk beberapa di antaranya.

Di meja ruang kepala sekolah, buku-buku berwarna terang itu berisi ilustrasi yang menggemaskan. Judul yang tertera di halaman sampul pun terkesan menarik bagi anak-anak.

Sebut saja ada judul Perisai Emas Arka, Harta Karun di Balik Sampah, serta Bimo dan Misi Kamar Ajaib.

Juga, ada buku lain. Ukurannya besar, laksana kalender. Tak sekadar dongeng, buku itu juga berisi pesan yang relevan dengan nilai pembelajaran di sekolah.

Misalnya, ajaran tentang nilai gotong royong. Nilai luhur itu dia masukkan dalam kisah Mengapa Bersama itu Membuat Bahagia?. Sedangkan teori barter dia tuangkan dalam buku dongeng berjudul Mari Saling Bertukar.

Judul-judul itu berbaur dengan buku cerita rakyat seperti Hikayat Calong Arang, yang diterbitkan penerbit indie.

“Kalau total dari dulu sejak remaja kemungkinan sudah 60-an buku (yang saya terbitkan),” terang sang guru penulis ini.

Ya, Fajar sudah hobi menulis sejak remaja. Pertama kali dia salurkan sebagai kontributor majalah-majalah maupun surat kabar. Dia rutin mengirimkan karya cerita pendek ke sejumlah media massa. Hingga membukukan imajinasinya dalam satu novel.

Saat menulis dulu, dia punya nama pena. Yaitu FA Ali. Karyanya yang berjudul Hikayat Calon Arang mencantumkan nama pena itu sebagai pengarang.

“Saya dulu sampai riset untuk menulis buku itu. Karena selama inikan Calon Arang terkenalnya dengan sesuatu yang jahat dan mistis. Ini saya bikin Calon Arang dari sisi dia sebagai seorang ibu yang melindungi anaknya,” katanya, soal buku karyanya yang keempat itu.

Karena menulis sudah menjadi bagian dari kebiasannya, kegiatan itupun tetap dia jalani di sela rutinitasnya sebagai guru SD. Bukan jadi beban tambahan, menulis justru jadi hiburan baginya.

Coret-coret di buku catatan ataupun di gawainya menjadi kebiasaannya jika ide suka datang tanpa aba-aba.

“Saya dulu suka nulis di Majalah Gadis. Ngirim cerpen gitu dapat Rp 20 ribu, dulu itu sudah senang banget waktu SMP,” kenang perempuan 43 tahun itu.

Kebiasaannya menulis cerita fiksi pendek itupun terus terbawa hingga dia menjadi guru. Sejak saat itu, perempuan asal Kelurahan Lirboyo itu mulai sering menulis buku-buku anak.

Alasannya, ibu dua anak itu butuh media pembelajaran yang tidak monoton. Namun bisa memantik kreativitas anak.

“Karena saya butuh biar mengajarnya lebih enak. Selain itu juga sekarang kan lagi digalakkan tentang literasi. Tapi selama ini bahan literasi kita punyanya apa? Meskipun seperti di sini ada perpustakaan fisik dan digital, tapi buku-buku di dalamnya apakah yang dibutuhkan anak-anak?” ujarnya dengan nada tanya.

Pertanyaan itu yang mendorong dia berinisiatif menyediakan bahan bacaan anak yang tetap relevan dengan nilai pembelajaran. Mulai dari menyusun materi buku, membuat desain lay out, hingga mencetakkan buku pun dia lakukan sendiri. Yang tentunya dengan biaya pribadi.

“Dan yang saya buat sebenarnya cerita yang anak-anak banget, yang sesuai dengan kehidupan mereka. Misalnya untuk pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, Red). Tapi tetap ada ruang untuk kegiatan siswa. Misalnya saya beri pertanyaan atau ide, nanti mereka menebak. Jadi bisa melatih nalar kritis anak-anak juga,” beber Fajar.

Selain tak lagi monoton, pembelajaran juga menjadi lebih interaktif. Saat ini, buku fisiknya memang belum dijual secara massal. Namun bisa diakses versi ebook-nya dengan harga yang relatif terjangkau.

Berkisar belasan hingga Rp 50-an ribu. Berbeda dengan buku-buku kumpulan karyanya dan anak-anak didiknya yang bisa diakses secara gratis untuk versi digitalnya.

“Ingin buat mereka bangga punya karya yang bisa dibaca banyak orang dan gampang diakses,” tandasnya.

Diakui pengajar yang juga pernah bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan buku anak itu, pembelajaran dengan media yang interaktif seperti buku anak punya dampak yang signifikan.

Anak-anak tak sekadar mendengarkan materi, melainkan nilai-nilai dari materi itu bisa lebih bermakna dan terpatri dalam memori anak.

“Misalkan setelah baca buku cerita ini, dia jadi tahu bahwa harus rajin membersihkan kamarnya, kalau habis mainan diberesi. Jadi harapannya di rumah mereka juga bisa menerapkan itu,” pungkasnya.(fud)

 

Editor : rekian
#penulis #literasi #Buku Cerita Anak #guru sd #guru