Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Siapa Sangka, Kompositor Visual Anime Populer Ternyata Seorang Pelajar dari Kandat Kediri!

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 16 Januari 2026 | 05:30 WIB
Raditya Oktalyon Jumantara Atmaja saat menggarap anime.  Pelajar asal Kediri itu jadi kompositor anime terkenal.
Raditya Oktalyon Jumantara Atmaja saat menggarap anime. Pelajar asal Kediri itu jadi kompositor anime terkenal.

Kabupaten Kediri menelurkan banyak seniman, bahkan, kualitasnya diakui secara internasional. Di antaranya adalah Raditya Oktalyon Jumantara Atmaja. Pelajar asal Kandat ini kini ikut menggarap anime-anime terkenal di Jepang.

M As'ad MS, JP Radar Kediri

Bagi penggemar berat animasi khas Jepang, kemungkinan besar tahu anime berjudul Toujima Tanzaburou. Anime yang tokoh utamanya maniak Kamen Rider, si pahlawan bertopeng asal Jepang yang penutup wajahnya mirip serangga. Atau mungkin anime Mato Seihe no Slave, Cat’s Eye, ataupun MF Ghost dan Dan Da Dan.

Itu adalah animasi-anismasi Jepang yang memiliki rating tinggi. Nah, siapa yang menyangka bila ada pemuda Kediri yang terlibat di dalamnya. Namanya juga sudah tercantum di credit title anime-anime tersebut. Dia adalah Ditya Joe.

“Jadi kompositor,” terang pemuda asal Dusun Kertosari, Desa Kandat, Kecamatan Kandat ini. Ucapan pemuda 18 tahun itu merujuk pada tugasnya di produksi anime-anime itu. Sebagai kompositor, profesional yang bertugas menggabungkan semua elemen visual.

Mulai animasi karakter, latar belakang, efek khusus, hingga grafis dijadikan satu adegan akhir yang utuh dan sinematik. Tugasnya memastikan konsistensi warna, pencahayaan, dan gaya visual sesuai visi sutradara.

“Aset vidio yang masih kasar kami edit, colour grading, ngasih efek saat siang malam, saat tarung. Kami edit biar layak tayang,” jelas pemuda yang ketika wawancara baru datang dari studio ini, menggarap beberapa anime.

“Ada beberapa yang sudah tayang. Ada juga yang akan tayang musim ini,” jelasnya, tentang karya-karya yang dia terlibat di dalamnya.

Bagaimana dia bisa menjadi bagian dari karya anime terkenal? Ini tak lepas ketika dia duduk di bangku SMKN 4 Malang, jurusan grafika. Saat kelas XII, dia ikut seleksi magang di Studio JIVA Animation. Portofolionya pun di-ACC, dan lolos magang di studio yang kerap menggarap anime itu.

Bidang yang dia pilih adalah kompositor. Alasannya, kemampuan itu yang belum dikuasainya. “Kebetulan studio ini juga bagus di kompositornya. Mumpung ini sama yang ahli banget, jadi aku belajar sama ke yang ahlinya,” ucapnya mengatakan alasan.

Berjalannya waktu, hasil kinerjanya bagus. Karyanya setara dengan karyawan studio. Akhirnya, Radit-sapaannya-diikutkan proyek. Seperti Sono Bisque Doll Wa Koi Wo Suru season 2 episode 4 dan 9.

Ada pula Dandadan season 2 episode 12, Fate Grand Order 10th Anniversary Movie, 100 Girlfriends musim 2 episode  18 dan 22 serta beberapa anime lain. Hanya, saat itu  namanya tak tercantum di credit title.

Kinerja Radit semakin baik. Pihak studio kemudian mengenalkan ke pihak Jepang. Ternyata, juga merasa cocok. Nama Radit pun mulai tercantum di credit anime-anime yang dia terlibat dalam produksinya.

“Mulai pertama kali dicantumin di anime Toujima Kamen Rider,” kenangnya. Tapi, perjalanannya menjadi kompositor anime tak semulus itu.

Ketika kecil dia bahkan sempat dikucilkan karena hanya fokus di dunia seni. Kebetulan, sejak kecil Radit memang suka seni. Saat TK misalnya, putra pasangan Nuryono dan Alim Febriyanti itu sering ikut lomba menggambar.

“Kelas III SD mulai ikut sanggar seni. Juga sudah ikut FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional, Red),” kenangnya.

Karena suka seni, otomatis dia senang menggambar. Nah, kebiasaannya itu yang membuatnya dijauhi teman-temannya. ia dianggap aneh dan kerap dikucilkan.

“Orang suka buku atau gambar itu dianggap aneh. Apalagi bukunya itu komik,” ceritanya, dengan sesekali menghela napas.

“Dulu yang tak inget itu sering dibandingin sama siswa yang jago matematika. Dibandingin guru sama temen-temen,” kenangnya lagi.

Namun, kecintaannya pada komik tetap kukuh. Apalagi dia didukung penuh oleh orang tuanya. Hal itu membuatnya kian tegar.

Juga membersitkan tekad sebagai ajang pembuktian diri. “Prestasi itu tidak melulu di bidang akademik,” tegasnya.

Radit mulai berkarya ketika SMK. Membuat konten komik di IG hingga Webtoon. “Di Webtoon Canvas ada Kupluk Boy, Komiker,” jelasnya.

Pendapatan dari aktivitasnya itu datang. Selain mempublikasikan konten dia juga menerima pesanan ilustrasi.

Hebatnya, semua kemampuan itu dia dapat secara otodidak. Mulai dari melihat Youtube hingga model gambar di komik.

 “Belajarnya ilustrasi komik itu kan yang bagus biasanya dari pembuat komik yang lama. Komik lama itu biasanya sudah gak terbit. Effort-nya buat cari kolektor begitu,” jelasnya.

Sementara itu, dari Youtube, biasanya mangaka professional itu dari luar negeri. Salah satunya dari Jepang. Sementara itu, seringkali bahasa yang digunakan menggunakan Bahasa Jepang.

Sehingga dia harus belajar Bahasa Jepang agar bisa lebih paham. “Biar bisa paham, harus belajar Bahasa Jepang juga. Jadi ya belajar Bahasa otodidak Duolinggo,” jelasnya sembari terkekeh. 

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#kandat #kediri #anime #malang #jepang #soundtrack anime