Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah dari Rusunawa Kota Kediri: Mengubah Sudut Sempit Menjadi Pojok Baca yang Menghidupkan Mimpi

Ayu Ismawati • Kamis, 15 Januari 2026 | 03:22 WIB

 

TENANG: Salah seorang pengunjung dari luar Kelurahan Dandangan sengaja datang ke Pojok Baca Rusunawa karena kondisinya yang tidak ramai.
TENANG: Salah seorang pengunjung dari luar Kelurahan Dandangan sengaja datang ke Pojok Baca Rusunawa karena kondisinya yang tidak ramai.

 

 

Di salah satu sudut gedung-gedung bertingkat di Kelurahan Dandangan, Kota Kediri tersembunyi ‘surga’ bagi para pecinta buku. Tempatnya bukan di kompleks pendidikan maupun di ruang publik. Melainkan di rusunawa; hunian sederhana di tengah kota. 

 

AYU ISMA, KOTA, JP Radar Kediri

 

Di antara gedung-gedung lima lantai di kompleks rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Kota Kediri, ada sebuah ruangan yang nampak kontras dengan bangunan di sekelilingnya.

Ruangan berukuran 9 x 4,5 meter itu lengang dan nyaris sunyi. Kontras dengan gedung-gedung hunian yang tak pernah sepi dari hiruk pikuk penghuninya. 

Perpustakaan mini bernama Pojok Baca Digital itu belum lama ini dihadirkan di tengah kompleks apartemen rakyat tersebut. Beberapa rak di ujung ruangan penuh dengan buku-buku. Kode-kode yang ditempel jadi pembeda di antara puluhan hingga ratusan buku di sana. 

Kode 700-an untuk komik, 600-an untuk buku-buku tentang pertanian. Kemudian, kode 800-an untuk novel fiksi, dan lain sebagainya. Buku dengan kode yang sama tersusun rapi di rak yang ditata di sana.

Sementara, di tengah ruangan terdapat karpet dan sebuah sofa untuk pengunjung. Ada pula dua meja petugas, lengkap dengan komputernya.

Meski berada di tengah rusunawa, namun ruangan itu terasa sunyi. Orang-orang di dalamnya larut dengan dunianya masing-masing. 

Dengan fasilitas seadanya tanpa meja dan kursi, pengunjung pojok baca itu larut dengan buku di genggaman. Seolah membukakan dunia bagi mereka, pojok baca jadi pemantik geliat literasi di tengah hunian keluarga berpenghasilan rendah di sana. 

“Saya baru dua kali ini ke sini. Biasa seringnya ke perpus pusat, terus kan ditutup karena perbaikan. Waktu lihat di sosmed ternyata ada pojok baca ini. Akhirnya coba ke sini,” ujar Mega Kartika, salah satu pengunjung Pojok Baca Rusunawa. 

Mega bukan merupakan penghuni rusun. Namun hal itu tak menghalangi niatnya mengakses bacaan secara gratis dari pemerintah. Perempuan asal Kelurahan Jamsaren itu mengaku menikmati suasana membaca buku yang baru baginya itu.

Bukan di perpustakaan seperti pada umumnya, maupun di lingkungan pendidikan. Melainkan di tengah rusunawa. 

Dan, suasana Pojok Baca Rusunawa yang relatif sepi itu justru dia senangi. “Karena di sini juga sepi, bagiku yang suka suasana sepi gini jadi nyaman,” ungkap perempuan 30 tahun itu.

Sebuah buku non-fiksi tentang psikologi pun menjadi pilihannya mengisi sore di perpustakaan mini itu. Buku-buku yang cukup bervariasi juga jadi hal yang dia sukai di sana. Selain itu, akses yang mudah juga menjadi alasannya suka mengunjungi Pojok Baca Rusunawa.

“Di sini itu gampang. Maksudnya kalau di perpustakaan pusat kan harus naik tangga dulu. Kalau di sini kan tinggal masuk, terus duduk. Mungkin kurang meja saja,” beber Mega soal kenapa dia senang mengunjungi pojok baca itu.

Fasilitas publik yang berada di tengah hunian itu juga jadi jujukan bocah-bocah penghuni rusunawa. Tak selalu membaca buku, mereka juga kerap datang untuk sekadar bermain. Seperti Fayola dan Kayla, dua bocah penghuni rusunawa yang rutin mampir ke sana. 

Ruangan kecil itu mendadak penuh dengan suara nyaring dua bocah berusia 5 tahun itu yang asyik bermain dakon.

“Aku kalau ke sini baca buku, terus main,” ungkap Fayola sembari membolak balikkan halaman buku untuk melihat gambarnya. 

Perpustakaan mini yang berada di kompleks apartemen rakyat itu memang tak seramai yang berada di Taman Sekartaji. Dalam sehari, pengunjung yang benar-benar ke sana untuk membaca hanya berkisar 10 orang. 

Selebihnya terkadang anak-anak setempat yang sekadar mampir untuk bermain. Mulai dari permainan tradisional seperti dakon hingga komputer milik petugas.

“Kadang ada anak-anak yang pengen lihat komputer. Ya, kami izinkan, tapi tetap diawasi. Kadang saya minta baca-baca buku dulu, baru main komputer,” tutur Siti Yulaikah, petugas di Pojok Baca Rusunawa. 

Kunjungan pojok baca itu pun tidak hanya dari warga rusun saja. Tetapi juga dari luar rusun. Khususnya mereka yang tinggal tak jauh dari apartemen rakyat.

Ditugaskan menjaga pojok baca sejak 2023, Siti menyebut buku-buku fiksi seperti novel jadi yang paling laris dipinjam. Diikuti dengan buku-buku non-fiksi hingga buku akademik. 

“Kemarin waktu musim CPNS itu juga ramai, banyak yang pinjam buku latihan soal,” paparnya menyebut pengunjung berasal dari kalangan usia yang beragam. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. 

Pengunjung dari berbagai usia itu berbaur di satu petak ruangan yang tak terlalu luas itu. Duduk lesehan beralas karpet. Mereka larut dengan buku masing-masing. Kecuali anak-anak yang biasanya datang untuk bermain. 

“Kadang ada anak-anak, biasanya usia SD, yang saking asiknya bermain jadi sedikit teriak-teriak. Nah, mungkin dari pengunjung lain jadi merasa terlalu berisik. Kayak gitu ya kami bilangin saja nggak boleh teriak-teriak atau berbicara kasar,” papar Siti soal upayanya memastikan pojok baca itu tetap kondusif.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#literasi #pojok baca #perpustakaan #rusunawa #kota kediri