Gereja Puhsarang tak cuma tempat ibadah Katolik semata. Juga episentrum wisata religi yang menggairahkan ekonomi sekitarnya. Sayang, sejak pandemi lima tahun silam, tingkat kunjungan belum benar-benar pulih.
Satu hari menjelang Natal, suasana Gereja Puhsarang terasa sibuk. Puluhan jemaat hilir mudik. Ada yang datang ke area gereja yang memiliki arsitektur khas tersebut. Sebagian lagi meninggalkan lokasi.
Namun, bila bergeser ke beberapa wisma di sekitar gereja yang ada di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu, suasananya terkesan kontras. Tempat-tempat singgah yang disediakan bagi pengunjung gereja maupun wisatawan itu terlihat lengang. Hanya satu dua orang saja yang beraktivitas di dalamnya.
“Tahun 2023 dulu (pengunjungnya) masih bagus. Tahun 2024 dan 2025 ini turun drastis. Nggak sampai 50 persen (keterisian penginapan) dari tahun sebelumnya,” kata Agnes Kartiningsih. Perempuan ini adalah salah satu pemilik wisma di dekat Gereja Puhsarang.
Agnes memperkuat perkataannya itu. Menunjuk 23 kamar yang ada di wismanya. Dan, tak ada separo yang disewa. Sisanya memang terisi tapi oleh sanak-saudaranya. Yang sengaja berkunjung di momentum hari besar ini.
Sedangkan tamunya, mayoritas peziarah gereja. Yang jumlahnya sedikit membaik ketika perayaan Natal ini. Itu bila dibandingkan dengan saat ibadah Jumat Legi, akhir tahun, maupun libur sekolah.
“Kalau hari-hari biasa pun turun. Dan khusus sepanjang dua tahun ini parah sekali,” sambung perempuan yang telah berusia 73 tahun itu.
Warga asli Desa Puhsarang ini menyebut tren penurunan terjadi karena beberapa sebab. Mulai soal ekonomi masyarakat yang lemah, peningkatan pajak, hingga efisiensi anggaran.
“Kemarin itu dari badan statistik juga ke sini, saya tanya, kenapa kok menurun seperti ini? Katanya adanya pemangkasan anggaran membuat semuanya melemah, ekonomi di semua sektor,” bebernya.
Meskipun mengalami tren penurunan, diakuinya tidak pernah ada promosi khusus untuk memasarkan tempatnya. Dia hanya mengandalkan pada jemaat langganan dan perluasan informasi dari mulut ke mulut.
“Dan ada Google juga. Jadi mereka yang ingin ke sini bisa langsung klik di Google. Jadi nggak ada promosi ekstra gitu nggak ada,” ungkap Agnes.
Agnes pun mengenang masa-masa beberapa tahun lalu. Masa saat banyak peziarah yang singgah semalam atau dua malam di tempatnya. Rata-rata jemaat dari luar kota seperti Jakarta. Kini, geliat perekonomian yang dia tuding sebagai sebab turunnya animo peziarah.
“Sebelum pandemi juga masih besar animo tamu di sini. Setelah pandemi stuck,” keluhnya.
Perubahan tren kunjungan itu tidak hanya berdampak pada usaha penginapan dari warga setempat saja. Melainkan juga secara umum dirasakan warga lain yang juga menggantungkan hidup di lingkungan gereja Katolik Roma tersebut. Tak sedikit masyarakat yang menjalankan usaha kuliner hingga jasa. Di antaranya parkir kendaraan.
Joko Santosa, warga setempat, merasakan betul perubahan animo kunjungan Gereja Puhsarang. Dibandingkan sebelum pandemi, pengunjung– dilihat dari kendaraan yang parkir– bisa mencapai lebih dari 100 kendaraan tiap harinya. Sekarang tak menentu, bahkan jauh di bawahnya.
“Kalau hari biasa sekarang ya nggak terlalu banyak. Kalau mobil gitu nggak ada 50. Tapi kalau hari besar kayak Natal banyak. Bisa penuh,” ungkap pria yang bekerja sebagai petugas parkir di kawasan Gereja Puhsarang.
Sedangkan untuk pengguna jasa penginapan, menurutnya, masih ada beberapa jemaat yang mencari-cari tempat singgah. Meskipun tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Mayoritas mereka bertanya ke petugas keamanan maupun petugas parkir. Karena minimnya papan penunjuk arah dan informasi penginapan.
“Biasanya kalau ada yang nyari penginapan, saya arahkan ke rumah-rumah warga yang masih punya tempat,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian