Gereja berdinding warna merah ini tak hanya bangunan cagar budaya. Juga menyimpan benda bersejarah lain. Alkitab kuno yang diyakini berusia satu setengah abad lebih!
Satu hari menjelang Natal, buku berukuran besar itu terpajang di altar Gereja Merah. Kertasnya sudah berwarna kecokelatan. Terkesan rapuh, mudah robek. Terasa sekali kekunoannya.
Wajar saja, usia buku itu sudah lebih dari satu setengah abad. Tepatnya, pada 2025 ini umur buku tersebut sudah 158 tahun. Satu usia yang sangat tua bagi benda yang tersusun dari kertas tersebut.
Buku itu juga bukan sembarang buku. Melainkan Alkitab, kitab suci kaum Nasrani. Tak hanya lebar tapi juga tebal.
Bobotnya pun mencapai 5 kilogram. Isinya gabungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan berbahasa Belanda.
“Alkitab itu hanya dikeluarkan dari tempat penyimpanan atas izin pengurus gereja,” ucap Lorens Hendrik, mantan koster gereja yang kini menjadi juru pelihara (jupel) Alkitab tersebut.
Memang, sebagai objek kuno, Alkitab tersebut membutuhkan penanganan berbeda. Selalu tersimpan rapi di kotak kaca. Sehari-hari ditempatkan di satu ruangan khusus.
Lalu, bagaimana ceritanya Alkitab sangat tua ini bisa berada di Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Kediri-nama asli Gereja Merah-?
Hendrik berkisah, Alkitab tersebut awalnya bukan milik Gereja Merah. Dia kemudian menyebut surat dari Jogjakarta bertanggal 12 Oktober 1995, dari pendeta B.Y. Assah. Surat itu menerangkan awal kitab suci tersebut datang.
Menurutnya, pendeta yang pernah menjalankan pelayanan di Gereja Merah pada 1985 itu menemukan Alkitab dalam kondisi tak terurus di gudang salah satu gereja di Sungai Gerong, Palembang.
Merasa Alkitab itu akan lebih bermanfaat sebagai arsip gereja kuno, pendeta itupun membawanya ke Kediri.
Sejak 1995 itu pula Alkitab tersebut menjadi salah satu arsip kuno di gereja yang berada di Jl KDP Slamet Nomor 43 Kota Kediri itu. Menjadi bagian dari aset bangunan cagar budaya.
Kitab suci itupun dijaga ekstra. Adalah Lorens Hendrik yang selama ini bertugas menjadi juru pelihara Alkitab tersebut.
“Kami awalnya memang nggak memperhatikan, karena kami juga setiap hari punya Alkitab, dikira seperti Alkitab biasanya. Hanya yang unik, Alkitab ini pakai bahasa Belanda,” ujar pria 56 tahun.
Hingga suatu ketika, usai peringatan 1 abad Gereja Merah pada 2005 lalu, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Trowulan melakukan penelitian. Saat itu, mereka menjumpai Alkitab yang usianya lebih tua dari Gereja Merah terpajang di altar.
“Dari situ disarankan untuk disimpan dengan dibuatkan tempat khusus,” ungkap Hendrik.
Sejak saat itu Alkitab yang dicetak pada September 1867 itu selalu disimpan dalam kotak kaca. Hanya dikeluarkan di momen hari besar keagamaan saja seperti Natal dan Paskah.
Karena mayoritas jemaat merupakan warga lokal Kediri, ibadah tidak pernah dilakukan dengan menggunakan Alkitab berbahasa Belanda itu.
Hanya saja sebelum lebih sering disimpan dalam kotak kaca, Hendrik rutin membuka halaman Alkitab itu setiap minggu. Sesuai dengan bacaan khutbah saat itu.
Sedangkan sekarang, kondisinya sudah semakin rentan. Banyak halaman yang sobek. Kondisinya juga lembap dan rentan terkoyak.
“Kalau menurut saya memang perlu direstorasi. Karena lumayan agak banyak yang sobek. Tapi sekitar 85 persen masih bagus,” ungkapnya, yang sudah menjadi juru pelihara Alkitab tua itu sejak pertama kali dipindahkan ke Kediri.
Selain usianya yang tua, Alkitab itu juga lebih istimewa. Sebab, buku suci yang tebalnya selebar telapak tangan orang dewasa itu juga memuat konkordansi. Yakni, indeks alfabetis lengkap dari semua kata atau frasa yang muncul dalam Alkitab.
Sederhananya, penafsiran lebih detail dari setiap ayat. Sayangnya karena berbahasa Belanda dan dibatasi aksesnya, tak banyak jemaat yang tahu isi dari Alkitab tersebut.
“Uniknya lagi, ada gambar peta di dalamnya. Sayang sejauh ini nggak ada yang mempelajari isinya karena nggak tertarik mereka (jemaat gereja, Red). Karena mungkin yang pertama, bahasa Belanda. Jadi sudah langsung minder,” tandasnya.
Selain itu, tidak semua orang bisa membukanya. Apalagi menyentuh lembar demi lembar Alkitab tersebut. meski demikian, tak sedikit jemaat yang tetap ingin menyentuh aset kuno itu.
“Orang-orang biasanya ingin sekali pegang terutama membawa begini saja (mengangkat dengan kedua tangan, Red) juga ingin. Biasanya mereka ingin tahu beratnya terus difoto,” bebernya sembari menyebut, jemaat yang ingin memegang langsung Alkitab itu tetap diizinkan, namun harus dengan pendampingan dan pengawasannya.
Seiring waktu, keberadaan Alkitab itu sudah menjadi satu kesatuan dengan gereja yang dibangun pada 1904 itu.
Dia pun berharap, aset itu tetap bisa dipertahankan, di tengah perkembangan zaman yang pesat. Wacana restorasi terhadap Alkitab kuno itu oleh Pemerintah Kota Kediri pun disambut baik pihak gereja dan jemaatnya.
Selain restorasi, juga akan dibuat versi digital dari Alkitab itu agar lebih mudah diakses semua orang.
“Rencananya juga kami buat kotak yang baru untuk mengantisipasi biar tidak rusak, tidak lembap. Itu nanti akan dilakukan swadaya dari umat gereja,” pungkasnya. (fud)
Editor : Andhika Attar Anindita