Saat kecil dia terbiasa melihat sang nenek berkutat dengan jarum dan benang. Lama-kelamaan menumbuhkan rasa suka pada kegiatan rajut-merajut. Akhirnya, dia menyeriusi hingga menjadi ladang penghasilan yang menjanjikan.
HILDA NURMALA RISANI, KEDIRI, JP Radar Kediri
Ruangan persegi, luasnya berkisar 4x4 meter, itu penuh dengan barang-barang rajutan. Ada etalase kaca sepanjang dua meter tempat mendisplay tas dan dompet rajut. Di salah satu dinding, ada juga kawat ram persegi yang digunakan menggantung aneka gantungana kunci.
Gantungan kunci-yang juga terbuat dari benang rajut-itu beraneka ragam wujudnya. Didominasi karakter hewan dan tumbuhan. Semuanya mungil dan menarik hati.
Di dalam ruangan itu, di antara benda-benda rajutan, duduk perempuan berjilbab warna pink. Tangannya sibuk membuat pola amigurumi-teknik rajut boneka mungil ala Jepang-yang diminta pelanggannya.
“Ini tadi barusan mengerjakan pesanan pelanggan untuk hampers tahun baru. Amigurumi dalam bentuk gantungan kunci dengan ukuran sedang,” terang perempuan yang terlihat bersahaja dalam balutan celana krem dan atasan warna cokelat tua itu.
Baca Juga: Demi Cari Uang, Pedagang di Kediri Tetap Berjualan Walau Lapak Tergenang Banjir
Perempuan itu adalah Fitriatul Badriyah. Merupakan satu di antara puluhan perempuan di Kabupaten Kediri yang menjadi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). Terhitung hingga saat ini dia sudah berjualan hampir tujuh tahun lamanya.
“Saya mulai menjual hasil karya tangan saya pada 2019. Awalnya cuma membantu nenek membuat bros untuk buah tangan pernikahan adek. Lama-lama menyadari kalau keahlian ini menghasilkan cuan,” lanjutnya, sambil terus melakukan aktivitasnya.
Ya, wanita yang berdomisili di Desa Mukuh, Kecamatan Kayenkidul ini mewarisi kemampuan merajut dari sang nenek. Kemudian dia perdalam dan perkaya dengan melihat konten tutorial di internet. Juga dengan bergabung ke komunitas-komunitas rajut.
Baca Juga: Ibu-Ibu Karang Taruna Produktif Bikin Tas Rajut di Desa Jarak
Bergelut dalam dunia amigurumi bukan dia rencanakan sejak kecil. Meskipun selalu melihat neneknya melakukan kegiatan merajut. Bahkan tak ada sebersit pemikiran dia akan menyeriusinya. Apalagi masih banyak kesibukan lain yang menyita waktu.
Cerita itu berubah seiring perjalan waktu. Pipiet-demikian dia biasa disapa-mulai menyadari jika keahlian merajutnya ini bisa menjadi cuan. Dia kemudian terpantik untuk menambah skill merajutnya.
“Awal memasarkan di platform media sosial Facebook. Yang saya jual gantungan kunci amigurumi bunga kaktus,” kenang Pipiet.
Mengapa amigurumi? Pilihan itu diambil karena dia merasa lemah dalam membuat rajutan tas, dompet, atau lainnya. Pola rajutan seperti yang dilakukan sang nenek dianggapnya lebih sulit, lebih rumit. Jauh lebih mudah membuat rajutan boneka, atau yang dikenal dengan amigurumi.
“Sebenarnya kalau karakter hewan ini memang umum. Tapi hasil tangan setiap orang punya ciri khas. Dari teknik merajut yang digunakan misalnya,” bebernya, sambil melempar senyum.
Teknik merajut yang digunakan tentu sudah paling tinggi. Sebab proses belajarnya sudah sedari kecil. Tak heran jika sekali memproduksi bisa langsung belasan.
Tak hanya itu, mulai dari keluarga, tetangga, hingga teman-temannya turut mendukung. Dia pun terus terpacu semangatnya dalam memasarkan hasil karyanya. Sering mengikuti event-event yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta.
“Selain ikut event pemerintah, saya juga jualan di pusat keramaian. Contohnya CFD (car free day, Red) di Simpang Lima Gumul. Terhitung saya sudah berjualan di sana sejak 2024,” akunya.
Tentu saja aktivitasnya itu menjadikannya perempuan yang produktif. Memiliki penghasilan yang bisa mencapai Rp 8 juta per bulan. Terutama bila pasar atau pembeli sedang ramai-ramainya.
“kalau jualan di CFD omsetnya bisa Rp 1 juta lebih. Tetapi itu musiman,” sebut Pipiet. Karena itulah, meskipun bisa tinggi, penghasilan dari jualan di CFD tidak bisa selalu diharapkan.
Untuk memperluas pasar, Pipiet tak hanya berjualan hasil rajutan saja. Dia juga menyediakan bahan beserta peralatan. Bahkan, perempuan ini rajin membuat konten merajut. Dia upload di Instagram dan Youtube.
“Dulu saya juga buka kelas merajut. Karena banyak yang ingin belajar. Namun semakin ke sini pesanan mulai banyak, jadi kelasnya berhenti dulu,” akunya.
Namun demikian bagi mereka yang ingin mengetahui teknik merajut dari awal tak perlu khawatir. Sebab Pipiet masih aktif membuat konten merajut di akun Instagram. Juga membalas pertanyaan-pertanyaan dari followers-nya itu.
Baca Juga: Kerajinan Rajut Karya Warga Desa Tugurejo Ngasem Kediri Ini Laku Sampai Jadi Suvenir di Australia
Kualitas karya Pipiet tak perlu diragukan lagi. Terbukti, meskipun relatif ribet dan membutuhkan waktu lama tetap ada orang yang tertarik. Bersedia menunggu hasil karya tangannya.
Pelanggannya juga sudah tersebar di seluruh Indonesia. Mulai dari Jakarta, Riau, Batam, Balikpapan, hingga Samarinda.
“Biasanya mereka yang pesan dari jauh ini saya buatkan dulu sesuai request. Kalau cocok maka akan kami kirim. Kalau tidak buat stok di toko,” terang perempuan berusia 36 tahun itu.
Pasarnya yang beragam dan mayoritas remaja serta anak kecil membuatnya memasang tarif berjenjang. Mulai dari terkecil Rp 10 ribu hingga terbesarnya Rp 170 ribu.
Baca Juga: Dewi Khusnul Mufida, Perajin Tas Rajut yang Juga Seorang Disabilitas
Berdiri di samping produk kebangaannya, Pipiet membenarkan jika sebagai pengusaha perjalanan yang dilaluinya tidaklah mudah. Dalam kurun waktu berjualan yang masih belia pasang surut penjualan sudah dilalui. Namun tidak ada pilihan lagi selain bertahan dengan keadaan.
Agar bisa bertahan seperti saat ini pun dia berupaya selalu mengupdate idenya. Juga aktif mengamati model-model yang banyak diminati pelanggan.
“Terutama amigurumi bentuk (karakter) Disney. Meskipun rumit dan harganya mahal tetap banyak peminatnya. Khususnya bentuk Tinker Bell (peri dalam cerita Peterpan, Red) dan princess,” sebutnya, memungkasi percakapan panjang.
Editor : rekian