Ada yang memang hendak menikah, ada pula yang sudah puluhan tahun berumah tangga. Semuanya disatukan dalam acara Kediri Ngunduh Mantu yang digagas Pemkab Kediri. Acara yang disambut dengan suka cita, terlebih yang tak mampu menggelar resepsi sendiri.
ASAD M.S, Kediri, JP Radar Kediri
Puluhan pasangan pengantin itu berbaris rapi. Usia mereka beragam. Ada yang masih 20-an tahun. Tak sedikit pula yang melewati setengah abad.
Meskipun berbeda usia, ekspresi wajah mereka boleh dikata serupa. Semuanya menunjukkan wajah berbinar-binar. Menikmati semua prosesi yang harus dilalui. Diiringi gending Jawa, mendengarkan ucapan pranatacara, MC berbahasa Jawa, yang nyaris semua kata-katanya berisi wejangan.
Mereka adalah para pengantin yang ikut dalam resepsi massal yang diselenggarakan Pemkab Kediri. Acaranya diberi label ‘Kediri Ngunduh Mantu’. Resepsinya itu berlangsung kemarin (22/12) di Convention Hall Simpang Lima Gumul. Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu.
“Kula sampun nikah resmi teng Tulungagung awit 1978 (saya sudah nikah resmi di Tulungagung sejak 1978,Red). Tapi surat nikah ical (hilang, Red),” kata Muaji, pria 71 tahun yang menjadi salah satu mempelai dalam kegiatan kemarin.
Saat menikahi Sringah-nama istrinya-berpuluh tahun silam, Muaji tak menggelar resepsi. Faktor ekonomi penyebabnya. Dia hanya petani dengan lahan garapan yang tak luas. Itupun hanya bisa ditanami ketela pohon.
“Apalagi dulu zaman masih sulit. Tidak ada apa-apa,” kenangnya, masih dalam bahasa Jawa.
Karena itulah, disertakan dalam acara resepsi yang digelar pemerintah daerah membuat mereka gembira bukan kepalang. Meskipun dalam pernikahan massal seperti itu.
“Kula bersyukur kok wonten resepsi teng mriki. Cara bupati gak mantu kula boten saget resepsi (saya bersyukur kok ada resepsi di sini. Jika bupati tidak mantu saya tidak bisa resepsi, Red),” timpal Sringah, sembari memeluk erat lengan sang suami.
“Ati kula seneng (hati saya senang, Red). Syukur kerana (karena, Red) pemerintah bener-bener memperhatikan kelemahan dan keterbatasan masyarakat,” sambung Muaji.
Mempelai pria itu melanjutkan, di benak mereka sebelum ini tak terbersit menggelar resepsi. Asal sah secara agama, mereka sudah senang. Sebab, bagi mereka pernikahan bukan sekadar perayaan. Melainkan cinta yang tulus.
“Cintailah dengan keadaan apapun. Sakit maupun susah. Susah maupun bungah, sakit atau apapun tidak bisa memisahkan kasih kecuali maut. Semoga bisa tulus sampai akhir hayat. Pernikahan saya hanya bisa dipisah dengan kematian,” akunya.
Namun, dia mengaku mendapat masalah karena surat nikah yang hilang. Yaitu ketika hendak menikahkan anak ragilnya di Jawa Tengah. Prosenya tak lancar karena terbentur persoalan administrasi.
Muaji bercerita, dia sempat kesulitan mengurus surat keterangan kehilangan surat nikah. Sebab, sering hanya digunakan untuk menikah lagi. Untungnya, ketika tahu Muaji seorang lansia, polisi akhirnya melayani.
“Tidak mungkin bapak mau nikah lagi, karena usia 71,” terangnya menirukan perkataan polisi dilanjut dengan tawa.
Namun, ketika mengajukan di dispendukcapil Tulungagung dia kembali dihadapkan dengan kendala. Karena tidak bisa mengurus. Sebab, tidak ada nomor regisrasi nikah.
“Kalau gak ada nomor registrasi nikah gak bisa dicarikan. Akhirnya saya hubungi capil Kediri disarankan suruh bawa bapak dan persayaratan biar diuruskan surat nikah lagi,” imbuh Wahyu Ernawati, putri Muaji dan Sringah.
Dalam acara Kediri Ngunduh Mantu kemarin, total ada 44 pasangan yang mengikuti. Mereka merupakan pengantin lama yang belum tercatat secara resmi serta pengantin baru. Sebelumnya, telah dilakukan sidang isbat massal pada 5 Desember, pencatatan perkawinan di Dinas Dukcapil, hingga nikah baru massal di KUA kecamatan pada 10–18 Desember 2025.
Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Kediri Eriani Annisa Hanindhito menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengaku turut merasakan kebahagiaan para pengantin yang mengikuti prosesi ngunduh mantu.
“Syukur alhamdulillah pada hari ini kita dapat berkumpul pada acara ini dalam keadaan sehat walafiat. Kalau melihat 44 pasang pengantin ini rasanya saya ikut senyum-senyum sendiri. Auranya itu bahagia semuanya. Beda kalau pas acara-acara yang biasanya sama kepala dinas, tegang,” ujarnya saat membacakan sambutan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian