Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Demi Cari Uang, Pedagang di Kediri Tetap Berjualan Walau Lapak Tergenang Banjir

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 21 Desember 2025 | 17:48 WIB

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Tidak sedikit warga yang memilih menghindari genangan air pada Kamis (18/12) lalu.

Namun, banyak juga yang memilih ‘bersahabat’ dengan air bercampur lumpur itu.
Termasuk para pedagang yang membuka lapak di Dusun Dlopo, Desa Karangrejo.

Meski kaki dan betis mereka terendam air, para pedagang di jalur padat penghubung Kota dan Kabupaten Kediri itu tak beringsut.

Mereka tetap melayani pembeli yang datang ke lapaknya. ​Adalah Sulastri, pedagang nasi pecel tumpeng di Dusun Dlopo, Desa Karangrejo yang tak bergeming.

Perempuan berusia 50 tahun itu tetap melayani pembeli yang memang datang ke warungnya yang tergenang.

“Ini airnya masuk (ke warung) sejak sore,” kata Sulastri menunjukkan air setinggi 30 sentimeter yang menggenangi kakinya pada pukul 19.10, Kamis (18/12) malam lalu.

Baca Juga: Kisah Winger Persik Kediri Wigi Pratama Hilang Kontak dengan Keluarga ketika Banjir Sumatera

Duduk di lincak di depan warungnya, Sulastri memilih membungkus rempeyek ke wadah plastik.

Raut wajahnya mendadak tegang saat kendaraan melintas di depannya. Sebab, itu berarti air yang masuk ke warungnya lebih tinggi lagi.

Sejak lapaknya kemasukan air, praktis Sulastri hanya bisa melayani pembeli yang membungkus nasi pecel.

Karpet yang biasanya dibeber dan jadi tempat pembeli makan lesehan langsung digulung.

“Karena sudah kadung mateng (sayur dan nasi). Kalau nggak buka yaeman. Wis kadung mateng,” jelasnya.

Bencana banjir yang mengepung Desa Karangrejo Kamis malam lalu bukan hal yang mengejutkan bagi Sulastri.

Pasalnya, sejak belasan tahun lalu, jalan di depan warungnya itu memang selalu tergenang usai diguyur hujan.

Namun, air tidak sampai masuk ke dalam warung. “Biasanya (luapan air) juga tidak lama,” tutur Sulastri yang malam itu tetap sibuk melayani pembeli.

Jika biasanya banyak pembeli yang berdatangan ke warungnya selepas Maghrib, hingga pukul 19.00 Kamis lalu hanya ada beberapa orang saja yang mampir ke sana.

Menghadapi kondisi tersebut, Sulastri hanya bisa pasrah. Apalagi dia tidak sendirian. Sejumlah pedagang di sepanjang jalan itu juga memilih tetap membuka lapak meski tempat berjualan mereka terendam air.

Baca Juga: #PrayForSumatera! Dua Kabupaten Ini Jadi Wilayah Terparah Dampak Banjir dan Longsor di Sumatera Utara, Belasan Orang Tewas, Rendam 85 Hektar Sawah

“Buka sejak pukul 10.00, dan biasanya memang sampai malam,” aku Juwariyanto, pedagang ayam krispi yang berjualan persis di utara warung Sulastri. Saat air bah datang, dia sempat lari menuju ke rumahnya.

Dia mengecek kondisi rumah yang ternyata juga sudah kemasukan air setinggi sekitar 10 sentimeter. Selesai mengamankan perabotan berlistrik, dia langsung kembali ke lapaknya.

“Terpaksa freezer-nya dicabut pasang. Kalau nggak nanti basi (stok ayam krispi yang belum digoreng),” paparnya.

Seperti halnya Sulastri, Juwariyanto hanya bisa pasrah. Dia menunggui lapaknya sambil berharap air segera surut.

Meski, hingga pukul 20.00 Kamis malam air masih menggenang. (sad/ut)

Editor : Andhika Attar Anindita
#pedagang #kediri #banjir #meluber