Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pancana Sigit, Perangkat Desa yang Juga Relawan ODGJ, Dulu Harus Berkelahi agar Bisa Evakuasi

Diana Yunita Sari • Jumat, 19 Desember 2025 | 00:08 WIB
Pancana Sigit berbincang dengan salah satu pasien binaannya (Diana Yunita Sari)
Pancana Sigit berbincang dengan salah satu pasien binaannya (Diana Yunita Sari)

JP Radar Kediri - Tujuh tahun sudah Pancana Sigit harus berurusan dengan ODGJ. Tak lelah dan tak kenal menyerah meskipun banyak mendapatkan susah. Semuanya didorong rasa miris melihat mereka berkeliaran di jalanan tanpa terurus.

“Mereka juga manusia. Punya hak untuk sehat.”

Ucapan itu mengalir dari mulut pria bernama Pancana Sigit. Seorang perangkat di Desa Baye, salah satu desa di Kecamatan Kayenkidul.

“Kalau mereka diperhatikan tidak akan ada kasus mereka agresif hingga (melakukan) pembunuhan,” lanjut pria 57 tahun ini.

Ya, pria yang biasa dipanggil Sigit ini memang perangkat di Desa Baye. Namun sepak terjangnya sebagai seorang relawan menembus batas-batas geografis tempatnya bekerja. Dia adalah seorang relawan yang mengurusi orang dengan gangguan jiwa alias ODGJ.

Bagaimana awalnya dia terjun menjadi relawan ODGJ? Di ruang tamu rumahnya, Sigit memulai bercerita. Ketika itu pada 2014. Dia sudah menjadi kepala urusan (kaur) tata usaha. Suatu saat dia diminta membantu mengantar tetangganya yang depresi ke rumah sakit jiwa (RSJ) di Lawang, Kabupaten Malang.

Dari situlah kemudian rasa simpatinya tumbuh. Apalagi, setelah itu, dia sering diajak temannya yang seorang relawan ODGJ di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, membantu melakukan evakuasi.

“Teman saya itu aktif melakukan evakuasi. Dia juga punya penampungan ODGJ,” cerita sang bayan-sebutan warga yang mengacu pada posisi Sigit sebagai perangkat desa.

Dari temannya itu Sigit banyak belajar. Juga, dia mulai sering mengikuti seminar dan program penanganan ODGJ. Kebetulan di desanya dia juga aktif membantu pelaksanan pos pelayanan terpadu (posyandu) jiwa.

Pilihan menjadi relawan ODGJ tak berlangsung mudah. Terutama di tahun-tahun awal. Dia sampai harus berkelahi terlebih dulu dengan orang yang akan dievakuasi.

Sigit pun terus belajar. Hasilnya, kini dia tak lagi harus berduel dengan pasien. Mengandalkan bujukan, rayuan, dan komunikasi intensif guna mengajak ke rumah sakit.

“Awalnya susah sekali. Sampai berkelahi juga di tempat. Kami pegang dua orang, itu masih kalah tenaga,” kenangnya sambil duduk di kursi kayu berukir.

Baca Juga: Kisah Suprianto, Tuna Daksa yang Sukses Kembangkan UMKM Emping Melinjo

Tak hanya soal teknis saja yang Sigit pelajari. Persoalan spiritual juga dia kedepankan saat melakukan evakuasi. Agar prosesnya berjalan lancar dia selalu memanjatkan doa terlebih dulu.

Pasien-pasien yang dia evakuasi dibawa ke RSJ di Lawang. Intensitasnya tergolong tinggi. Bisa sampai tiga kali dalam sebulan. Sampai-sampai pihak rumah sakit mengenal betul sosoknya.

Perjalanan dari Kediri hingga rumah sakit yang jauh itu, dan butuh waktu lama, dia lakoni seorang diri. Pernah mengajak kader Posyandu Jiwa, namun mereka mengaku tidak sanggup. Sebab, evakuasi menuntut fisik yang kuat.

“Evakuasi, mengajak mereka untuk berobat itu sulit. Karena itu sebelum saya bawa saya tanyakan keluarganya, apakah mereka sanggup untuk mengurus? Karena mereka wajib minum obat setiap hari agar sembuh dan tidak kambuh,” jelasnya.

Hingga kini, Sigit sudah menangani lebih dari 40 ODGJ. Pasien yang ia evakuasi beragam. Mulai dari ibu rumah tangga, lansia, remaja, bahkan mahasiswa S2 juga ada. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kediri, seperti Pagu, Gurah, dan Banyakan.

Faktor penyebab gangguan jiwa yang ia tangani mayoritas adalah masalah ekonomi. Disusul putus cinta hingga pola asuh orang tua yang tidak tepat.

Dalam menjalankan kegiatannya, Sigit tidak pernah memungut biaya dari keluarga pasien yang mayoritas dari kalangan kurang mampu. Untuk urusan transportasi, ia memanfaatkan mobil siaga desa tempat pasien tinggal.

“Saya bicara ke kadesnya, Pak ini ada warganya yang butuh pengobatan segera. Alhamdulillah diterima baik,” ceritanya.

Sigit mengatakan ada kades yang hanya meminjamkan mobil. Ada juga yang ikut mengantar. Untuk biaya rumah sakit, Sigit memastikan pasien menggunakan BPJS. Jika pasien belum memiliki, ia akan bantu untuk menguruskannya. Ia terbantu karena mendapat dukungan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri.

“Saya usahakan dengan BPJS. Bahkan pihak Dinkes sudah mengatakan bahwa kalau ada pasien binaan membutuhkan bisa langsung menghubungi,” lanjutnya.

Banyak dari pasien yang ditangani Sigit kini sudah sembuh dan kembali menjalani aktivitas normal. Bahkan bisa bekerja kembali. Kini, Sigit banyak berbagi kegiatannya di media sosial seperti TikTok. Cara ini efektif membuat keluarga pasien yang membutuhkan pertolongan bisa langsung menghubunginya.

Satu hal yang menjadi harapannya ke depan, memiliki penampungan sementara. Sebab, saat ini ia belum bisa menangani para ODGJ yang berkeliaran di jalanan karena belum punya tempat untuk menampung mereka.

Editor : Mahfud
#kabupaten kediri #kediri #sosok inspiratif #perangkat desa #relawan ODGJ #odgj #kayenkidul