Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Haru ‘Cinta Sehidup Semati’ Pasutri asal Gurah, Korban Kecelakaan Beruntun

Diana Yunita Sari • Jumat, 19 Desember 2025 | 00:09 WIB
Mukhlis dan Shofroul berfoto dengan ketiga anaknya semasa hidup (Dok. Pribadi)
Mukhlis dan Shofroul berfoto dengan ketiga anaknya semasa hidup (Dok. Pribadi)

JP Radar Kediri - Mereka tak hanya dikenal sebagai pasangan harmonis yang jarang berselisih. Keduanya juga gigih menghidupi tiga anaknya lewat usaha fotokopi. Berbakti pada orang tua hingga akhir hayat menjemput dalam waktu yang bersamaan. 

Rumah di Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah itu tak seramai seperti sehari sebelumnya. Pelayat mulai sepi. Tak seperti Selasa(16/12), hari ketika kabar duka itu datang. Warga berdatangan untuk menunjukkan rasa duka cita.

Meskipun demikian, nuansa kesedihan masih sangat terasa. Seorang wanita tua duduk di karpet yang tergelar di ruang tamu. Matanya sembab, sisa tangis yang tak terbendung. Menyiratkan guratan duka di wajah yang tak bisa disembunyikan.

Njenengan ngapunten salahe anak kula kalih (tolong maafkan kesalahan anak saya berdua, Red),” pinta wanita bernama Umi Khoiriyah itu kepada setiap pelayat yang datang.

Umi adalah ibu Ahmad Mukhlis, pria yang menjadi korban meninggal kecelakaan beruntun yang terjadi di Desa Bendoasri, Kecamatan Pare. Ironisnya, sang istri-Shofroul Muhsinin-juga turut jadi korban tewas dalam kecelakaan itu.

Padahal, seharusnya, Senin malam (15/12) itu jadi malam yang membahagiakan. Keduanya dalam perjalanan dari rumah sang ibu di Dusun Bergendul, Desa Sidowarek, Kecamatan Plemahan. Tujuannya, bukan silaturahmi biasa. Melainkan mematangkan rencana syukuran khitanan putra bungsu mereka, Akmal. Anak terakhirnya itu kini masih duduk di kelas 6 SD.

“Tidak ada firasat apa pun. Mereka datang membicarakan rencana sunatan Akmal tanggal 29 nanti,” kenang Khoiriyah, wanita 70-an tahun ini.

Obrolan malam itu juga mengalir hangat. Mukhlis dan Shofroul bahkan sudah merencanakan langkah selanjutnya. Dari rumah Khoiriyah mereka merencanakan mampir ke kerabat. Meminta  bantuan menjadi juru masak dalam acara khitanan nanti.

Ketika anak dan menantunya berpamitan, Khoiriyah juga mengantar sampai depan rumah. Satu rutinitas yang selalu ia lakukan. Tak ada yang ganjil.

Namun, siapa sangka itu adalah lambaian tangan terakhir. Dalam perjalanan pulang menuju Gurah, motor yang mereka kendarai terlibat kecelakaan maut dengan sebuah mobil BMW di Desa Bendoasri, Kecamatan Pare.

Satu hal yang membuat Khoiriyah terus termenung adalah keberadaan sang cucu bungsu. Biasanya, saat Mukhlis dan Shofroul berkunjung, si bungsu Akmal tak pernah ketinggalan.

“Malam itu tumben Akmal tidak ikut. Mungkin sudah takdirnya dia tidak ikut (saat kecelakaan),” ucapnya pelan.

Di mata tetangga dan keluarga, Mukhlis dan Shofroul adalah potret pasangan sejati. Mereka dikenal sangat harmonis. Hampir tak pernah terlihat bertengkar. Di mana ada Mukhlis, di situ ada Shofroul. Keharmonisan itu pula yang mereka curahkan untuk membangun usaha fotokopi di Desa Sukorejo.

Meski hanya mengandalkan mesin fotokopi, kegigihan pasangan ini luar biasa. Mereka berhasil menyekolahkan ketiga anaknya hingga jenjang tertinggi. Si sulung kini sudah semester lima di UIN Syekh Wasil Kediri. Anak kedua duduk di bangku SMA, dan si bungsu di bangku SD.

“Alhamdulillah, rezekinya selalu ada saja untuk menyekolahkan anak-anak,” ungkap Khoiriyah dengan nada bangga sekaligus getir.

Di mata sang ibu, sosok Mukhlis adalah anak yang sangat perhatian. Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, ia dikenal paling ceria dan suka ndagel (bercanda). Mukhlis adalah perekat keluarga yang hobi mengabadikan momen kebersamaan mereka melalui foto atau video. Setiap kali datang ke Plemahan, ia tak pernah lupa membawa jajanan kesukaan kedua orang tuanya seperti ketela goreng.

Nasib Mukhlis sebenarnya sudah teruji jauh sebelum kecelakaan ini. Ia pernah mengalami musibah yang membuat salah satu kakinya harus diamputasi. Setelah perjuangan panjang untuk sembuh dan bisa beraktivitas kembali, takdir berkata lain.

“Baru saja sembuh, kenapa diambil lagi? Mau tidak terima, tapi ini takdir Allah,” ucapnya, masih dengan nada getir.

Kini, tugas berat menanti keluarga dan anak sulung korban. Mengurus dua adiknya yang masih sekolah tentu bukan perkara mudah. Khoiriyah hanya bisa berharap, ada keajaiban bagi masa depan cucu-cucunya. Ia sangat berharap ketiga anaknya bisa mendapatkan beasiswa pendidikan. Agar impian Mukhlis dan Shofroul melihat anak-anaknya sukses tetap bisa terwujud. Meski mereka telah beristirahat tenang di pemakaman umum di Desa Mukuh, Kecamatan Kayen Kidul.(

Editor : Mahfud
#kabupaten kediri #kisah inspiratif #pasutri #kediri #pare #Sukorejo #korban kecelakaan #kecamatan gurah #gurah