JP Radar Kediri - Secara fisik, pria ini seorang disabel. Juga tak punya latar belakang pendidikan seni. Hebatnya, dia mampu menembus semua keterbatasan itu, menjadi seorang dalang wayang kulit yang piawai.
Teras rumah di Desa Sambirejo, Kecamatan Gampengrejo itu terasa asri. Ada beberapa tanaman hias yang tertancap di pot bunga. Tak terlalu tinggi memang, namun mampu sedikit mereduksi terik matahari yang menyengat.
Di teras itulah Wawan Andriono duduk. Bercerita tentang perjalanan hidupnya. Tentang kegigihannya menantang semua halangan. Hingga menjadi seorang dalang wayang kulit seperti sekarang ini.
“Saya seniman otodidak. Tidak sekolah (seni) juga tanpa berguru. Guru saya cuma bapak saya sendiri,” ucapnya, memulai percakapan.
Perjuangan Ki Wawan-demikian nama tenarnya di akun-akun medsos miliknya-memang sangat berat. Tak hanya melawan ketiadaan latar belakang seni pewayangan. Juga karena kondisi fisiknya yang memiliki kekurangan.
Dia adalah seorang disabilitas. Salah satu kakinya terkena polio. Saat itu masih balita, berusia 1,5 tahun.
Sang ayah merupakan seorang guru bahasa Jawa. Tergolong mahir mendalang. Meskipun hanya tampil di acara-acara sekolah. Seperti penyambutan kepala sekolah baru.
Dari situlah Wawan kecil menumbuhkan hasrat mendalang. Mengamati ayahnya berlatih. Hebatnya, dari lima bersaudara, hanya Wawan yang mewarisi bakat tersebut. Meski awalnya tak pernah terpikir menjadi dalang profesional, ia merasa Tuhan telah memberikan jalan hidup di jalur seni ini.
Masa muda Wawan penuh dengan perjuangan untuk sekadar mendapatkan panggung. Saat tinggal bersama neneknya, di Dusun Tangkilan, Desa Padangan, Kecamatan Kayenkidul, ia mulai sering bergaul dengan bapak-bapak penabuh gamelan di grup kesenian ketoprak desa. Di sela-sela itu dia mencoba memegang wayang dengan iringan gamelan apa adanya.
“Pentasnya ya asal-asalan. Pakai kain yang dijahit jadi satu sebagai geber. Pentas apa adanya karena memang tidak ada yang melatih,” kenangnya.
Titik balik kariernya terjadi pada 1997. Saat seorang tetangga menawarinya mendalang di acara pernikahan. Tapi, dengan syarat yang tak terlalu menggembirakan.
“Semua peralatan untuk pementasan wayang disediakan secara lengkap. Namun, saya tidak dibayar,” kenang sang dalang.
Awalnya Wawan ragu dengan tawaran itu. Namun, akhirnya dia mengiyakan. Dan, keputusannya itu tepat. Penampilannya banyak menarik perhatian. Salah satunya adalah seseorang bernama Slamet Raharjo.
“Saat itu dia adalah sekcam (sekretaris kecamatan, Red) Pare,” sebut Wawan.
Sang sekcam inilah yang terdorong untuk membantu Wawan. Melihat bakat besar tapi di tengah keterbatasan fisik. Slamet terpanggil untuk nyengkuyung alias membantu agar Wawan lebih dikenal. Membantu mempromosikan ke kantor-kantor pemerintah.
“Beliau yang mempromosikan saya ke kantor-kantor. Saya difasilitasi mobil kecamatan untuk pentas durasi pendek dengan biaya beliau sendiri agar masyarakat kenal saya,” kenang Wawan.
Perlahan namun pasti, nama Ki Wawan mulai naik dan dikenal. Merambah dari kantor dinas ke panggung-panggung desa.
Bagi Wawan, belajar mendalang adalah proses belajar yang panjang. Karena tidak punya guru formal, ia belajar dengan cara "mencuri" ilmu dari setiap pagelaran yang ia tonton. Dulu ia belajar dari kaset-kaset VCD. Kini, memanfaatkan YouTube. Menuliskan setiap dialog yang didengarnya untuk dipelajari kembali.
Ditanya tentang dalang favorit yang menjadi inspirasinya, menyembullah nama Ki Anom Suroto dari bibirnya. Wawan sangat mengagumi dalam yang sudah almarhum ini. Terutama pada cengkok suara dan wibawanya.
Selain itu, nama-nama besar seperti Ki Manteb Sudarsono, Ki Seno Nugroho, Ki Bayu Aji, hingga Ki Purbo Asmoro juga menjadi inspirasi hariannya. “Bagi saya, semua dalang senior adalah guru saya,” tegasnya.
Wawan mengatakan menjadi dalang bukan sekadar menggerakkan lembaran kulit. Karena disertai dengan proses yang kompleks di setiap pementasan. Tentang betapa rumitnya menghidupkan benda mati dan menyampaikan karakter yang berbeda-beda dalam satu malam. Mulai dari suara buta (raksasa) yang gahar, karakter ksatria yang halus, hingga gaya banyolan yang harus selaras dengan nada gamelan pelog maupun slendro.
Tantangan fisik juga tidak main-main. Seorang dalang harus kuat duduk selama delapan jam tanpa ke kamar mandi. Tangan terus bergerak, sementara mulut berbicara menyampaikan pesan moral.
“Karakter ratu, raksasa, pencuri, hingga pengkhianat, semuanya harus dikuasai dalam satu malam pagelaran,” jelasnya.
Dalam melangsungkan pagelaran, ia tidak sendiri namun juga didukung oleh para penabuh gamelan muda yang produktif dan piawai. Beberapa di antaranya adalah lulusan sekolah seni, ISI Surakarta. Hal ini mampu menjadi pendukung sehingga setiap penampilannya bisa maksimal.
Meski sudah sering melanglang buana hingga ke Banjarmasin, Kutai Kartanegara, hingga berbagai kota di Jawa Timur seperti Sampang dan Ponorogo, Wawan tetaplah pribadi yang rendah hati. Ia rutin mengevaluasi penampilannya melalui rekaman video.
Ia paling banyak melangsungkan pagelaran saat Sura. Bisa 15 hingga 20 acara yang mayoritas adalah acara bersih desa. Bagi Wawan, setiap panggung adalah anugerah dan pembuktian bahwa disabilitas bukanlah batas akhir sebuah karya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian