Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Meneropong Aksi Pelestarian Alam Para Leluhur melalui Prasasti Lucem

Ayu Ismawati • Selasa, 16 Desember 2025 | 12:54 WIB

JEJAK PERADABAN: Ketua Yayasan Hijau Daun Mandiri Endang Pertiwi mengecek kondisi Prasasti Lucem di Desa Puhsarang, Semen (14/12).
JEJAK PERADABAN: Ketua Yayasan Hijau Daun Mandiri Endang Pertiwi mengecek kondisi Prasasti Lucem di Desa Puhsarang, Semen (14/12).

Filosofi hidup menyatu dengan alam sudah terjadi sejak era Jawa Kuno. Para pemimpin saat itu sangat menghargai alam. Pesan-pesan pelestarian tersembunyi di tengah petak terasiring.

 

AYU ISMA, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Prasasti itu berupa bongkahan batu utuh. Tertanam di tanah dengan bagian yang menyembul keluar setinggi sekitar setengah meter. Terlindung oleh atap genting yang disangga empat pilar besar. Dikelilingi pagar besi berwarna hijau.

Lokasinya di tengah kawasan persawahan. Dikelilingi hamparan tanaman padi yang masih hijau, tanda baru masuk musim tanam.

Letaknya sekitar 800 meter dari jalan penghubung di depan Balai Desa Puhsarang, Kecamatan Semen. Untuk mencapainya, harus melalui satu-satunya jalan yang masih terbuat dari tanah.

Konturnya bergelombang, merupakan satu-satunya akses warga menuju sawah. Lebarnya, hanya cukup untuk satu mobil. Itupun, begitu mendekati lokasi prasasti, jalan semakin menyempit hingga selebar dua tapak kaki.

Prasasti itu, menurut penelitian, merupakan peninggalan era kerajaan Jawa kuno. Namanya Prasasti Lucem. Namun, sebagian lagi menyebut dengan Prasasti Puhsarang. Nama itu dipahat di permukaan utuh menggunakan huruf Kadiri Kuadrat. Dalam keterangannya, tertulis tahun 934 Saka atau 1012 Masehi.

Baca Juga: Inilah Kisah Keluarga yang Turun-temurun Jadi Juru Pelihara Prasasti Tangkilan

Tulisan di prasasti itu hanya singkat saja, empat baris. Berdasarkan interpretasi epigraf bernama Prof MM Sukarto Kartoatmojo, isi tulisan prasasti itu memuat informasi tentang perbaikan batas patok jalan oleh Samgat Lucem bernama pu Ghek, yang dilakukan dengan penanaman pohon tubuh atau beringin.

"Penanaman pohon itu dilakukan oleh seorang pembesar. Kenapa disebut pembesar? Karena gelarnya itu sangat tinggi. Yaitu Sang Apanji Tepet.Tetapi siapa mereka itu, sampai hari ini belum bisa kita ungkapkan," ungkap pemerhati sejarah Kediri Achmad Zaenal Fachris.

Pada masanya, menurut pria yang akrab disapa Fachris itu, prasasti Lucem termasuk temuan luar biasa. Salah satunya dari penggunaan huruf Kadiri Kuadrat. Huruf ini hanya digunakan pada masa kerajaan Jawa Timur hingga Kerajaan Kadiri.

Penggunaan huruf serupa juga ditemukan di dinding luar Gua Selomangleng. Dan di era sekarang, diadopsi sebagai ornamen pilar Jembatan Brawijaya.

Prasasti yang berada di Dusun Mojoinggi tidak hanya menunjukkan kepedulian penguasa terhadap perbaikan infrastruktur.

Melainkan juga menunjukkan bahwa sejak ribuan tahun lalu, para leluhur di era Jawa kuno sudah menunjukkan perilaku menghargai alam. Salah satunya melalui penanaman pohon yang juga sarat kultur spiritual tersebut.

“Maknanya pemerintah kerajaan pada saat itu (memiliki) kepedulian terhadap infrastruktur, masyarakat, ternyata tidak hanya di era sekarang.Tetapi sejak dulu memang ada. Dan kita kenal di Kediri saat itu banyak peran pemerintah di dalam upaya pelestarian alam. Atau bahasa sekarang konsep ekoteolog yang tidak hanya berkonsep konservasi, tetapi juga integrasi dengan spiritual,” bebernya.

Dia menilai, konsep itu akan tetap relevan. Termasuk saat ini di mana bencana ekologi banyak terjadi di Indonesia.

Baca Juga: Lestarikan Cagar Budaya, Gus Qowim Ajak Warga Kota Kediri Jaga Jembatan Lama

Merujuk konsep ekoteologis itu, banyak disebutkan dalam kitab-kitab suci bahwa kehancuran alam juga terjadi akibat ulah tangan manusia.

Sehingga, perlunya kepedulian masyarakat maupun pemerintah untuk menjaga alam. serupa yang sudah dicontohkan leluhur di masa kerajaan klasik tentang ajakan menanam pohon.

“Dan kita jelas punya referensi jauh sebelum era sekarang. Dulu sejak zaman kerajaan Jawa Timur sudah ada komitmen dari pemerintah kerajaan untuk upaya pelestarian alam,” tandasnya.

Masih menurut Fachris, hal serupa pernah dilakukan Bagawanta Bhari saat membangun sistem irigasi di Harinjing. Upaya itu juga berkiblat pada pelestarian alam. Jejak itu kemudian menjadi simbol hari jadi Kabupaten Kediri.

Ironisnya, jejak simbol pelestarian alam yang termuat dalam prasasti itu justru berada di tengah kegiatan pembukaan lahan yang luas. Prasasti itu dikelilingi oleh lahan yang difungsikan sebagai persawahan. Lokasinya yang terpencil di tengah sawah juga membuat tak banyak masyarakat yang mengetahui objek bangunan cagar budaya tersebut.

Baca Juga: Pemkot Usulkan BI Kediri Jadi Cagar Budaya, Kantor Kecamatan Mojoroto dan SMPN 1 Kota Kediri Masih Dikaji 

Saat ini, prasasti batu tulis itu dikonservasi dengan dibangunkan pagar di sekelilingnya. Termasuk atap genting yang kokoh. Di bagian luarnya, terdapat papan pemberitahuan nama prasasti serta aturan dan sanksi untuk perusak objek tersebut.

Fachris menilai, upaya konservasi yang dilakukan pemerintah daerah sudah cukup baik dalam mempertahankan jejak sejarah itu. Saat ini, tinggal memperluas edukasi kepada masyarakat tentang objek sejarah yang pertama kali ditemukan pada tahun 1888 itu.

“Yang perlu kita tanamkan adalah pengenalan situs yang mungkin kurang masif. Bahwasanya Kediri itu memiliki sebuah prasasti prasasti itu. Dan pengenalan literasi ini untuk generasi muda sangat penting,” terangnya. 

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

         

 

 

 

 

 

Editor : rekian
#prasasti #kabupaten kediri #kediri #wisata religi #Pohsarang #cagar budaya