Kondisi tubuhnya yang tak sempurna sempat membuatnya rendah diri. Untungnya, dia segera keluar dari kungkungan rasa minder. Sukses bisnis rumahan hingga kini menghibur warga sekitar.
ASAD MS, Kabupaten JP Radar Kediri
Laki-laki berkumis tipis itu keluar dari ruangan dalam. Bergerak menuju ruang tamu.
Menemui Jawa Pos Radar Kediri yang sudah menunggu beberapa waktu.
Cara berjalannya tidak biasa. Lebih tepat disebut melompat. Menggunakan satu kaki saja.
Suprianto, demikian nama lelaki ini, memang terpaksa berjalan dengan cara melompat menggunakan kaki kirinya.
Sebab, kaki di sebelahnya sudah tidak ada. Terpotong hingga paha.
Warga Desa Tirukidul, Kecamatan Gurah ini memang seorang tuna daksa. Kaki diamputasi ketika remaja.
“Saat itu tahun 2003, usia saya 17 tahun,” cerita pria yang kini berusia 41 tahun tersebut.
Di tangan Suprianto terpegang bungkusan. Setelah duduk, dia menunjukkan isinya. Penuh dengan keping-keping emping melinjo.
Pria ini, sehari-hari, memang memiliki usaha kecil. Masuk dalam kelompok pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produknya adalah emping melinjo.
Meski berbalut UMKM, kepakan sayap bisnis emping melinjonya tak bisa dipandang sebelah mata.
Pasarnya tak hanya nasional. Produknya juga menyasar ke negara tetangga, sudah ekspor.
“Dulunya berawal dari kecil. Hanya jadi pekerjaan ibu saya,” terang Suprianto.
Ya, dia memang tidak dari awal menggeluti bisnis emping melinjo. Dulu, kegiatan itu adalah milik sang ibu.
Tentu saja skalanya juga kecil. Hanya bisnis rumahan yang produksi dan pemasarannya terbatas.
Ceritanya jadi lain ketika dia terkena musikah. Ketika kondisi fisiknya jadi tak sempurna, dia justru bisa menjadi pengusaha dengan omzet bisnis yang lumayan.
Tentu saja, itu tidak dilalui dengan tiba-tiba. Perlu proses yang panjang, terutama menghilangkan rasa minder akibat kaki yang cacat.
Pria kelahiran 1984 ini kemudian membuka lagi kenangan memilukan itu. Kejadian yang mengubah total jalan hidupnya.
Berawal ketika dia mengikuti satu acara di daerah Minggiran, Kecamatan Papar. Menumpang truk terbuka, naik di bak belakang. Pulangnya, kendaraan yang dia tumpangi kecelakaan.
"Ada mobil berhenti mendadak. (Sopir) truk berusaha menghindari mobil itu. Truknya abruk dan kaki saya kebrukan (tertindih bak truk, Red)," kenangnya.
Suprianto pun luka parah. Dia segera dibawa ke RSUD Kabupaten Kediri. Saat itu dokter sudah meminta agar kaki diamputasi.
“Otot besarnya sudah putus. Jadi harus dioperasi,” ucapnya.
Namun, sang ibu tak rela. Dia tak ingin anaknya tak memiliki kaki yang lengkap. Masa depan suram sudah membayang di benak sang orang tua.
Akhirnya, Anto-demikian pria ini biasa disapa-dibawa menjalani pengobatan alternatif.
Dibawa ke sangkal putung, sebutan untuk pemijat tradisional yang khusus menangani keluhan di tulang. Lokasinya di Kecamatan Semen.
Bukannya sembuh, luka itu justru menjadi infeksi, membusuk. Mau tak mau kembali dibawa ke rumah sakit.
Kali ini, rumah sakit yang dituju adalah RSUD Gambiran di Kota Kediri. Para dokter langsung memberi vonis akhir, harus diamputasi!
“Sudah pasrah karena sudah membusuk,” kenangnya.
Sejak saat itu dia harus rela kondisi fisiknya tidak sempurna. Kondisi yang membuatnya sempat merasa minder.
Masa-masa setelah amputasi merupakan periode berat bagi Anto. Dia jarang keluar rumah. Jarang berinteraksi dengan dunia luar. Hanya berdiam saja di dalam rumah.
"Tiduran saja. Sudah putus asa. Malu, apalagi sama teman-teman," akunya, mengungkapkan perasaannya kala itu.
Waktu yang harus dia lewati dengan perasaan seperti itu tak sebentar. Hampir dua tahun dia terjebak dalam perasaan rendah diri. Memilih berdiam di rumah dan tidak mau keluar karena malu.
Hingga suatu hari dia bertemu dengan salah seorang kerabatnya. Namanya Mbah Swarno.
Melihat kondisi pria yang juga masih tergolong cucunya itu, sang kerabat memberi motivasi. Memberi wejangan sekaligus diajari agar bisa hidup produktif.
Disarankan menjual kaset compact disc (CD) atau servis barang-barang elektronik.
" (Intinya) d ikasih kesibukan. Dibelajari bia gak di rumah saja. Biar belajar bersosialisasi, " cerita Anto .
Dari situlah dia mulai berani besosialisasi . Berani bertemu dengan orang.
Hingga bertemu dengan salah satu temannya yang mengubah jalan hidupnya hingga seperti sekarang.
“ Bertemu teman dan diajak ke pameran UMKM,” kenangnya.
Suprianto pun mulai mengenal mengenai produk-produk yang bisa dipasarkan dan menghasikan cuan.
Dia langsung terbayang sang ibu yang punya produksi emping me linjo kecil-kecilan.
Dia pun bertekat mengembangkan usaha tersebut . Agar lebih dikenal banyak orang.
Setelah banyak belajar, dia mendaftarkan agar produk itu legal. "Didaftarkan PIRT (sertifikat pangan industri rumah tangga, Red) , (sertifikasi) halal, NIB (nomor izin berusaha, Red) dan sebagainya," urainya, menceritakan beberapa persyaratan yang diurus saat itu .
Setelah itu, dia pun mencoba membawa produk emping itu ke pameran-pameran UMKM. Termasuk mencoba menjualnya di swalayan-swalayan.
Agar lebih menarik dia mencoba mengemasnya kebih baik dari sebelumnya. Dengan plastik yang lebih premium.
"Dikasih stiker gitu biar lebih menarik dan terlihat ada merknya," jelasnya.
Selain itu dia juga memberi varian rasa. Jika sebelumnya hanya original, saat ini juga ada rasa pedas manis.
“Biar orang tidak bosan,” dia beralasan .
Saat ini skala usahanya sudah lumayan. Produksinya juga relatif tingg i .
Sebelum ada pengembangan paling dia hanya bisa membuat 5 kilogram emping melinjo dalam seminggu.
Itupun paling banyak. Kini, setidaknya dia bisa memproduksi 20 kilogram dalam seminggu. Sekaligus bisa memberdayakan warga sekitar rumah.
“Kalau dulu ibu sendiri , kalau sekarang karena laku jadi menenangkan orang,” jelasnya.
Cakupan pasarnya juga semakin luas. Dia bisa kirim luar daerah hingga luar negeri.
"Ini juga kirim ke Malaysia , bisa 1 sampai 2 ku total per bulan. Bisa pesan juga ke rumah," jelasnya.
Apa yang dia lakukan tak sekadar mencari penghasilan semata. Namun, Suprianto menegaskan, yang dia lakukan juga sebagai pembuktian.
Bahwa disabilitas seperti dirinya juga bisa berkembang. Bisa menyejahterakan orang di sekitarnya.
Editor : rekian