KEDIRI, JP Radar Kediri - Laki-laki yang rambutnya penuh uban itu naik turun tangga yang ujung atasnya tersandar pada kayu-kayu rangka atap.
Mengambil genting yang pecah, membawanya turun.
Kemudian, dari bawah, gantian dia mengangkut genting baru. Memasangnya ke bagian yang lowong.
Sosok itu adalah kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Aswaja 1 Ahmad Hisbulloh Munir.
Gedung sekolah yang dia pimpin menjadi salah satu bangunan yang rusak akibat bencana hujan deras dan angin kencang yang terjadi Rabu sore (3/12).
“Lumayan, ini yang di depan beberapa rontok. Ada yang bagian belakang, sisi tengah itu sudah saya perbaiki,” terangnya, di sela-sela menyelesaikan pekerjaannya.
Usai berucap, pria yang disapa Munir itu kembali menaiki tangga. Meraih genting yang rusak kemudian menjatuhkan.
Menggantinya dengan yang utuh. Sembari menceritakan lagi kenangannya pada peristiwa sehari sebelumnya itu.
“Saya lihat dengan mata kepala sendiri. Anginnya putih kencang, muter-muter di dekat halaman sekolah,” ceritanya.
Sore itu Munir tengah bersantai di teras rumah.
Letaknya tidak jauh dari sekolah tempatnya bertugas, yang berada di depan Masjid Al Asy’ari.
Satu jam menjelang waktu salat Asar, hujan turun dengan deras.
Tak lama kemudian menyusul hujan es. Tak cukup dengan datangnya butiran es dari langit, angin kencang datang menyusul.
“Saya langsung lari, masuk ke dalam rumah. Terus nginceng dari jendela,” imbuhnya.
Pada saat itu, di Masjid Al Asy’ari berlangsung madrasah diniyah.
Selain siswa yang mengaji, juga ada tujuh pedagang jajanan.
Begitu angin kencang datang, para pedagang itu lari menyelamatkan diri.
Masuk ke dalam masjid, bersama anak-anak madin.
“Dagangannya ditinggal semua,” ucap pria 52 tahun ini.
Langit juga gelap pekat. Suara gemuruh angin membuat suasana terasa menegangkan.
Situasi kian mencekam ketika anak-anak mulai ada yang menangis, kemudian berteriak-teriak.
Para guru madin berusaha menenangkan.
Mengajak mereka menyuarakan takbir. Para pedagang pun melakukan hal serupa.
“Pohon di sebelah rumah saya juga langsung ambruk. Brukk! Saya kaget, ternyata dahannya kena ke garasi,” terangnya.
Kepanikan juga dirasakan Wahyono. Rumah pria ini juga tidak jauh dari masjid.
Mengetahui ada angin kencang dia langsung berlari masuk rumah. Berikutnya untuk menenangkan diri dia azan berulang kali.
“Azan ping telu gak terang-terang (azan tiga kali tidak kunjung reda, Red). Azan keempat baru terang (reda, Red),” jelas laki-laki 70 tahun itu. Genting bagian depan rumah lelaki ini banyak yang terbang terbawa angin.
Hujan disertai angin kencang itu tak terlalu lama. Hanya sekitar 30 menit saja. Namun, sudah mampu membuat kerusakan atap beberapa rumah.
Ketika hujan mulai reda, warga pun berhamburan keluar dari rumahnya masing-masing.
Termasuk pula anak-anak madin dan pedagang yang berlindung di masjid.
“Mereka penasaran dampak kejadian itu. Melihat apa saja yang kena. Termasuk langsung menggergaji batang pohon yang tumbang,” jelas Munir.
Akibat kejadian itu, atap garasi dari asbes milik Munir hancur tertimpa dahan pohon tumbang. Mobil di dalamnya tertimpa puing-puing atap.
“Alhamdulillah gak parah. Mobilnya juga aman,” ucapnya lega.
Genting bagian tepi gedung MI lantai dua juga beterbangan. Bagian ini menempel dengan bangunan milik raudhatul atfal (RA), sekolah setingkat taman kanak-kanak (TK).
Genting di gedung RA itu sebagian juga berjatuhan. Membuat bocor di sana-sini. Proses belajar pun terpaksa di luar ruangan.
“Karena dalam sebagian basah. Jadi tadi pagi kegiatan belajarnya di luar. Untuk besok sudah bisa dipakai,” terangnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil