Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Inspiratif Sri Ayuni : Memadukan Bisnis dan Peduli Lingkungan dengan Batik Ecoprint

Diana Yunita Sari • Kamis, 27 November 2025 | 20:03 WIB
Sri Ayuni menunjukkan berbagai jenis kreasi topi dan baju berbahan batik ecoprint buatannya.
Sri Ayuni menunjukkan berbagai jenis kreasi topi dan baju berbahan batik ecoprint buatannya.

Daunnya Jadi Motif, Sampahnya untuk Pupuk

Bagi perempuan ini, memadukan hobi dan bisnis bukan sesuatu yang sulit. Termasuk mengaitkan dengan sikap peduli lingkungannya. Hasilnya adalah mengubah produksi batik yang dia tekuni menjadi berbahan ecoprint.

 Sri Ayuni bergerak cepat. Berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Mengambil produk yang dia pajang di rak, kemudian menunjukkan ke calon pembeli.

Pagi itu, seperti rutinitasnya di setiap  Minggu, dia membuka lapak di arena car free day (CFD) di Jalan Dhoho. Sejak pukul 6.00 hingga pukul 9.30

Di kepalanya terpasang topi rimba. Bermotif batik ecoprint buatannya. Dan, seperti topi itu, barang-barang yang dia pasarkan adalah batik berpewarna ramah lingkungan tersebut.

“Saya rutin buka lapak di CFD jika tidak ada acara mendesak. Sekaligus memperkenalkan produk ramah lingkungan,” ungkap wanita berusia 58 tahun tersebut.

Ayuni, sapaan akrabnya, telah memulai bisnis batik ecoprint sejak 2016. Meskipun dunia batik tulis sudah dia kenal sejak 2014. Keinginannya beralih ke bahan yang ramah lingkungan membuatnya menjajal batik ecoprint.

Teknik batik ini dilakukan dengan cara memindahkan pigmen warna dari bahan-bahan alami. Seperti daun, bunga, dan batang ke kain. Hasilnya menciptakan corak yang unik, artistik, namun tetap ramah lingkungan.

Ia menceritakan bahwa di rumahnya, di Kelurahan Bandarlor Gang 11, ada berbagai jenis tumbuhan seperti kenikir, jati, dan jarak. Tanaman itu sengaja dia tanam. Tujuannya, daun-daunnya nanti dia petik setiap pagi. Dijadikan pola batik.

Keunikan batik ecoprint adalah pola dan warna yang dihasilkan selalu berbeda. Meskipun bahan yang digunakan serupa. Kekurangan dari batik ini menurut Ayuni, adalah warnanya yang kurang keluar alias ngejreng. Namun, ia menjamin ketika dicuci tidak luntur dan tidak mencemari lingkungan dengan bahan-bahan kimia seperti pewarna kain lain.

“Bahannya dari alam. Sisanya seperti daun atau kayu bekas saya pakai untuk pupuk,” jelasnya.

Produksi batik dilakukan di rumahnya, yang juga terdapat toko kecil tempat ia memajang produk jadi. Ayuni tidak memproduksi setiap hari. Melainkan sekitar seminggu sekali. Jika pesanan ramai, ia bisa memproduksi dua kali seminggu. Dalam satu kali produksi, Ayuni bisa menghasilkan 6-10 lembar kain berukuran 2 sampai 2,5 meter. Kain yang digunakan juga beragam. Mulai dari katun, sutra, hingga kulit sintetis.

Bagi Ayuni, menekuni batik ecoprint bukan hanya sekadar bisnis dan hobi. Namun ada kepuasan pribadi saat karyanya dilihat dan disukai orang.

“Karya dipamerkan, lalu ada yang tertarik dan tanya-tanya itu kebahagiaan tersendiri. Saya kasih kartu nama, kelak pasti akan kembali lagi,” ungkapnya penuh semangat.

Selain menjual produk, Ayuni juga fokus memberikan pelatihan ke sekolah-sekolah. Atau mengisi pameran UMKM di Kediri. Tempat usahanya juga sering menjadi jujukan siswa atau mahasiswa untuk praktik kerja lapangan (PKL). Karena rumah produksinya belum besar, ia terkadang memilih untuk mendatangi sekolah karena tempatnya tidak mencukupi.

“Cari rezeki itu harus ada rasa cinta. Seberapapun hasilnya jika didasari perasaan cinta, maka menjalaninya tidak susah,” ucapnya.

Dari lembaran kain tersebut, Ayuni kini mengubahnya menjadi berbagai barang fashion seperti tas, topi, dan pakaian. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 30 ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung bahan dan teknik yang digunakan.

Ayuni menyebut penjualan batiknya sudah merambah luar daerah. Seperti Jakarta, Sulawesi, dan Kalimantan. Produknya bahkan pernah menarik minat tamu luar negeri dari Filipina dan Singapura saat pameran.

Dulu di awal produksi, Ayuni hanya mampu membuat sedikit batik yang hanya berupa kain. Saat ini, penjualan memanfaatkan media sosial seperti grup WhatsApp, Facebook, dan Instagram.

Editor : Mahfud
#ramah lingkungan #car free day #batik ecoprint #Lapak