Aral seperti tak bosan mendatanginya secara bertubi. Mulai ditinggal kedua orang tua saat kecil hingga perundungan yang dia terima. Semua itu justru menjadi inspirasinya menulis buku, yang akhirnya menjadi penyemangat mereka yang membaca karyanya.
HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Perempuan itu berusia 29 tahun. Kondisi tubuhnya tidak sempurna. Terlahir sebagai penyandang disabilitas. Bagian kaki cacat. Membuatnya tak bisa melakukan sesuatu dengan maksimal.
Di bawah pepohonan rindang wanita bernama Laila Nadhifa itu duduk. Di dalam lapak berjualan yang tak terlalu luas. Hanya berukuran 1,5 meter kali 2 meter. Bersanding dengan lapak-lapak lain, milik para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ya, Laila-demikian perempuan itu biasa disapa-merupakan seorang pedagang makanan. Lapaknya ada di pinggir lapangan Desa Gogorante, salah satu desa di Kecamatan Ngasem.
Makanan yang dia jual adalah ragam jajanan kekinian. Ada aroma pisang, ada pula pisang coklat.
“Saya berjualan ini mulai tahun 2022, setelah menikah,” ucap Laila, di sela-sela waktunya menunggu pembeli datang.
Baca Juga: Mbak Wali Serahkan Bantuan untuk Penyayang Disabilitas, Beri Motivasi agar Semangat Beraktivitas
Sebelumnya, perempuan ini adalah seorang penulis. Sudah tiga buku yang diterbitkan. Hebatnya, buku-buku itu tersebar hingga ke luar negeri.
“Buku saya juga beredar di Singapura, Malaysia, hingga Hongkong,” cerita penulis yang tinggal tak jauh dari tempatnya berjualan ini.
Sejurus kemudian, Laila menceritakan kisah hidupnya dan pilihannya menjadi sesorang penulis. Hingga terpaksa rehat dari aktivitas tersebut, beralih fokus pada usaha menjual makanan kekinian.
Proses kelahirannya yang prematur dia pilih mengawali kisah. Ketika dia yang berada di kandungan sang ibu harus lebih dini menghirup udara luar. Tepat di usia kehamilan enam bulan.
Laila memang lahir dari keluarga yang kemampuannya terbatas secara ekonomi. Tidak memiliki akses yang cukup terkait upaya kesehatan yang harus dilakukan oleh seorang ibu hamil. Termasuk bagaimana seharusnya harus mendapatkan imunisasi.
Lahir prematur itu membuatnya menjadi disabilitas daksa. Kedua kakinya tumbuh tak sempurna. Membuatnya sulit melakukan sesuatu dengan kedua kakinya tersebut.
Toh, kondisi itu tak membuat kasih sayang kedua orang tua berhenti tercurah. Sebaliknya, mereka merawatnya dengan penuh kasih dan syaang. Boleh dibilang sedikit protektif.
“Sejak kecil saya tidak boleh melakukan aktivitas berat,” kenang Laila.
Sayang, ujian hidup tak berhenti di situ. Kedua orang tuanya meninggal ketika dirinya masih kecil. Membuatnya seperti kehilangan harapan.
“Terbiasa dari kecil apa-apa tidak boleh, ketika ayah dan ibu meninggal seperti kehilangan salah satu jiwa saya,” akunya.
Saat itu Laila masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Dia juga memiliki satu orang adik. Tentu saja dia harus memutar otak agar bisa bertahan hidup. Dari situlah hobi menulisnya bermula.
"Sebenarnya saya hobi menulis sejak SD (sekolah dasar, Red). Hobi ini muncul karena tidak ada aktivitas yang bisa saya lakukan kecuali menulis. Di sekitar saya hanya ada laptop dan buku. Itu yang saya manfaatkan," kenangnya.
Karya yang ditulis dalam kesunyian itu lambat laun bertambah banyak. Agar bisa menjadi uang, dia berusaha mencari penerbit buku. Hingga akhirnya bertemu dengan seseorang yang membantu dengan tulus. Menerbitkan buku tersebut.
Buku itu berjudul “Aku Memang Berbeda”. Dia buat bukan tanpa alasan. Buku itu menjadi sarananya berbagi cerita. Tentang betapa sulitnya hidup sebagai seorang penyandang disabilitas. Mulai dari sering dianggap aneh di lingkungan tempat tinggalnya hingga diperlakukan berbeda di setiap kesempatan. Lebih parah lagi, tak jarang dia harus menjadi korban bullying , perundungan.
“Saat duduk di bangku SMP saya pernah di-bully. Pernah dikunci di kamar mandi,” ceritanya. Mata Laila berkaca-kaca ketika mengenang sepenggal kisah pilunya itu.
Sikap teman-temannya yang intoleran itu sempat membuatnya trauma. Takut berangkat ke sekolah. Namun, di lubuk hatinya yang dalam, dia berusaha bertahan. Ingin menjalani hidup untuk menyelesaikan mimpinya.
Dia pun tak memedulikan kata orang. Dia hanya ingin segera lulus. Setelah itu melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Sebagai seorang penyandang disabilitas dia memang tak memiliki banyak pilihan. Selain harus menjalani hari-hari penuh perjuangan dan tantangan.
“Saya sempat jadi guru disabilitas, pada tahun 2019. Karena hanya kontrak, jadi tidak bertahan lama,” ucapnya.
Hari-hari berat yang dilaluinya itulah yang terangkum secara detail dalam karyanya. Dia mengaku tak banyak tempat untuk bercerita suka duka yang dialaminya. Menulis adalah salah satu penawar ketika hidupnya tidak baik-baik saja.
“Buku ini sebenarnya sebagai penguatan untuk diri sendiri. Saya tidak pernah berpikir jika bisa menjadi dorongan semangat untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan,” ujarnya.
Buku 'Aku Memang Berbeda' itu satu di antara tiga buku yang berhasil diterbitkan. Sudah ada ribuan tirasnya. Tersebar di seluruh pelosok negeri. Hingga ke negeri seberang, Singapura, Malaysia, dan Hongkong.
“Dari tiga buku itu, yang paling viral ini.Terbit 2020, waktu (pandemi) Covid-19,” terangnya sambil menayangkan buku 'Aku Memang Beda'.
Saking viralnya, kisah dalam buku itu akhirnya difilmkan. Judulnya Laila, dan rilis pada tahun 2021. Sutradaranya berasal dari Kediri. Film ini berhasil mendapat penghargaan di beberapa festival. Seperti yang diadakan di Bandung, Malang, dan Jember.
Film tersebut mengangkat kisah nyata yang dialaminya. Sebagai penyandang disabilitas yang ditinggal orang tua. Namun tetap memiliki semangat untuk bertahan hidup.
Produktivitasnya dalam tulis-menulis kekecewaan ketika dia menikah, dengan Edi Priyo Sudariyanto, kemudian memiliki anak. Kesebukannya sebagai istri sekaligus ibu membuatnya kesulitan membagi waktu.
Baca Juga: Kisah Inspiratif, Pandu Laksono, Disabilitas Netra yang Piawai Memainkan Beragam Alat Musik
Akhirnya, Laila pun memilih kepentingan keluarga. Mendampingi suami sekaligus mengasuh sang anak yang menjadi prioritas. Meninggalkan aktivitasnya sebagai seorang penulis.
"Menikah dan memiliki anak tidak pernah ada dalam daftar mimpi saya. Tidak pernah terpikirkan oleh seorang penyandang disabilitas seperti saya bisa berkeluarga. Apalagi dihadiahkan buah hati yang lucu seperti itu," tuturnya sambil mengamati tingkah laku sang anak tunggalnya.
Baginya, ujian hidup yang dilaluinya bertahun-tahun seolah berakhir keitka dia memiliki keturunan. Dia percaya, kesabarannya selama ini menggantikan Tuhan dengan kebahagiaan yang tiada duanya.
Dia pun meyakinkan bahwa cacat itu bukan penyakit, bukan kekurangan, melainkan anugerah dari Allah. Sebagai manusia harus bisa berdamai dengan hal tersebut.
“Percaya pasti akan ada keajaiban.Setelah badai akan ada pelangi,” ucap Laila. Saat mengucapkan kata kiasan itu, air matanya menetes.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian