Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ilham Budi Susilo sang Petani Gen-Z, Tanamnya Pakai Teknologi Jualannya Model Kekinian

Ayu Ismawati • Jumat, 17 Oktober 2025 | 22:24 WIB

 

 

Ilham Budi Susilo, Gen Z yang jadi petani modern
Ilham Budi Susilo, Gen Z yang jadi petani modern

JP Radar Kediri - Di dalam greenhouse berukuran 10 x 70 meter itu Ilham Budi Susilo menunjukkan beberapa hasil jerih payahnya. Menunjuk beberapa varietas melon. Ithanon, Sweet Net, Lavender, Sweet Hami, hingga Fujisawa. Semuanya adalah hasil budi daya pemuda berusia 29 tahun ini. 

Sesaat kemudian, pemuda yang akrab disapa Ilham ini mendekati melon yang dia sebut dengan nama Diva 99. Ini adalah varietas yang baru pertama kali dia coba.

“Jenis ini karakteristik daging buah yang renyah dan (rasanya)  manis. Ini berhasil tumbuh dengan baik,” jelasnya bangga.

Seakan tak ingin dianggap membual, Ilham mengambil refractometer, alat untuk mengukur tingkat kemanisa buah melon. Hasilnya, ketika diuji dengan alat itu, melon dengan kulit buah warna putih itu menunjukkan angka 14.

“Artinya, sudah sangat manis bagi lidah normal,” jelasnya lagi.

Ilham bisa dengan mahir menerangkan tentang hal tersebut. Semuanya tak lepas kesehariannya yang menekuni dunia bercocok tanam. Khususnya budi daya melon greenhouse.

Sebenarnya, belum terlalu lama dia terjun di bidang pertanian. Baru dalam hitungan dua tahun. Namun, sesingkat itu dia sudah bisa mengubah lahan pertanian milik ayahnya yang  semula kurang profit menjadi lebih menguntungkan.

“Dulu di lahan ini ditanami tebu,” kenangnya.

Mengapa Ilham mau bergulat dengan panas dan berkotor tanah sebagai petani? “Saya sudah hobi merawat tanaman sejak bangku kuliah,” aku pemuda alumnus Universitas Jember ini.

Kebetulan, jurusan yang dia ambil juga related dengan pilihan pekerjaannya saat ini. Ilham adalah jebolan program studi Agroteknologi. Kemudian, dia juga besar di keluarga petani.

Sebagai generasi Z, dia melihat lahan pertanian milik sang ayah masih bisa dioptimalkan lagi. Agar bisa menuai hasil yang lebih baik lagi. Pilihannya adalah bertani tanaman melon dengan metode greenhouse.

“Karena melon ini harganya stabil. Dan, menggunakan greenhouse itu juga untuk (membuat) serangan hama dan penyakit itu minim. Jadi gimana caranya bisa memanfaatkan lahan dengan luas yang sama tapi dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi,” beber pemuda asal Kelurahan Manisrenggo itu, menjlentrehkan pilihannya bertanam melon greenhouse.

Latar belakang keilmuannya menjadi bekalnya dalam merintis bisnis di bidang pertanian. Membantunya menghadirkan inovasi. Di antaranya beralih dari pestisida kimia ke bahan alami untuk budidaya melonnya.

“Penyiraman kami juga sudah pakai fertigasi (metode penyiraman dan pemupukan yang dilakukan sekaligus, Red). Jadi dari tandon langsung ke lubang tanam itu tidak pakai pompa. Lebih irit penggunaan listrik,” urainya, terkait inovasi yang dia kembangkan dari hasil pelatihan dan diskusi yang dia ikuti.

Inovasi juga dia hadirkan agar pertanian modernnya itu berkelanjutan. Alih-alih menggunakan pestisida kimia, Ilham mulai menerapkan pestisida dari bahan-bahan alami, dengan pestisida nabati. Tidak hanya lebih ramah lingkungan tetapi juga memastikan produk pertaniannya bebas residu kimia.

“Untuk penyerbukannya saya juga pakai lebah. Sebelumnya manual dikawinkan satu-satu. Tapi kemudian saya mulai pakai lebah dengan menghadirkan koloni lebah,” bebernya.

Meski menggunakan greenhouse, lokasi lahan tanam Ilham terbilang unik. Greenhouse itu berada di tengah persawahan. Tepatnya di tengah-tengah perkebunan tebu. Dikelilingi tanaman tebu milik petani-petani lain.

Justru, menurut pemuda ini, hal itu menjadi salah satu keunggulannya. Melonnya lebih kecil kemungkinannya diserang hama.

“Serangan hamanya kan beda. Justru pertanian melon kalau bisa tidak di dekat tanaman hortikultura. Kalau tebu malah lebih aman. Paling hanya kendala kalau hujan dan angin kencang saja bikin tebunya jatuh ke greenhouse,” ungkap Ilham.

Sebagai seorang Gen Z, tak hanya inovasi pertanian modern saja yang dia adaptasi. Melainkan juga teknik pemasarannya yang kekinian. Ilham banyak memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk melon premiumnya. Dari unggahan Instagram dan Facebook, hasil pertaniannya itu bisa sampai ke luar kota, bahkan hingga luar pulau.

“Sering kirim ke Jakarta, Bali, Jawa Barat juga. Biasanya pengiriman dengan bus, kereta, atau travel,” sambungnya.

Bagi Ilham, tantangan mengembangkan pertanian saat ini ada pada sumber daya manusia (SDM). Menurutnya untuk mencetak SDM yang unggul di bidang pertanian masih relatif sulit. Apalagi dari kalanan anak-anak muda.

“Karena seiring waktu tidak banyak yang melirik ke bidang pertanian. Lebih milih ke perkantoran atau bidang industri dan sebagainya,” akunya.

 

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#petani #kediri #pertanian #Gen Z #petani kediri