Berani Masuk Reruntuhan artinya Berani Mati
Ambruknya musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo meninggalkan pilu duka. Namun, ada ratusan santri yang terselamatkan. Di balik upaya penyelamatan itu ada sosok relawan dari Kediri yang bergabung di dalamnya.
Senin malam (29/9), sekitar pukul 20.00, Imanuel Agus Dewo mendapat informasi yang menggetarkan hatinya. Menerima kabar ada bangunan yang musala ambruk di Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo. Tragisnya, pada saat ambruk ada ratusan santri yang sedang melaksanakan salat berjamaah.
Pria yang akrab disapa Mbah Dewo itupun tak berpikir panjang lagi. Langsung bersiap-siap berangkat melakukan penyelamatan. Maklum, selama ini dia tergabung dalam unit reaksi cepat barisan satuan relawan daerah (URC basarda)
“Saya langsung bilang oke siap. Itu belum lapor ke istri,” cerita Mbah Dewo saat ditemui di Rumah Kemanusiaan Gusdurian yang berada di Kecamatan Pare.
Kala itu Mbah Dewo hanya memiliki Rp 35 ribu di dompetnya. Lantaran keputusannya sudah bulat, dia tetap keukeuh berangkat. Hanya saja tidak langsung ke Sidoarjo. Melainkan ke basecamp yang berada di Kecamatan Pare. Berkumpul dengan rekan-rekan relawan lainnya.
“Ada lima orang yang berangkat,” bebernya sembari menyebut setiap orang iuran Rp 20 ribu untuk membeli solar.
Selanjutnya, Mbah Dewo dan rekan-rekannya sampai pada Selasa (30/9) dini hari. Seingatnya, sekitar pukul 03.00. Sudah banyak relawan yang datang. Namun tak semua relawan yang datang bisa ikut melakukan penyelamatan di antara reruntuhan gedung. Hanya para relawan yang berpengalaman dan memakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Salah satunya Mbah Dewo sendiri.
Bagi pria berusia 53 tahun itu, penyelamatan di Ponpes Al Khoziny memberikan kesan tersendiri. Apalagi baru pertamakali itu dia melakukan aksi penyelamatan dari reruntuhan gedung. Apalagi saat proses penyelamatan terhadap Haikal, salah satu santri di ponpes tersebut.
Ya, pada Selasa itu Mbah Dewo menyebut bahwa tim hendak melakukan penyelamatan kepada santri bernama Haikal. Posisi tim search and rescue (SAR) gabungan hanya berjarak sekitar 50 centimeter. Namun ternyata, tiba-tiba terjadi runtuhan susulan. Untuk menghindari adanya reruntuhan susulan, semua tim pun ditarik ke luar. Lokasi di reruntuhan harus steril kurang lebih selama dua jam.
“Di situ saya menangis. Nelangsa. Soalnya kurang sedikit itu tapi ada runtuhan susulan,” kenangnya.
Namun demikian, korban bernama Haikal itu akhirnya berhasil diselamatkan oleh tim SAR gabungan lainnya. Mbah Dewo mengaku saat itu dirinya sudah kembali ke Kediri.
“Di dalam reruntuhan itu sudah nggak pernah memikirkan keluarga. Tapi gimana bisa menyelamatkan nyawa orang,” tuturnya.
Menurutnya, situasi di dalam reruntuhan benar-benar tak bisa dilupakannya. Sesak, pengap, dan sudah tercium bau busuk. Sementara itu, tim SAR gabungan yang masuk dalam reruntuhan juga tidak bisa berlama-lama. Hanya bisa bertahan maksimal 15 menit. Sehingga, para tim SAR gabungan harus terus bergantian dalam melakukan penyelamatan tersebut.
“Lima belas menit itu udah sepert satu hari. Kepala mendongak itu saja nggak bisa. Harus merangkat. Yang berani masuk itu yang berani mati,” tambah Anugerah Yunianto yang saat itu mendampingi Mbah Dewo.
Ya, Anugrah Yunianto atau yang biasa disapa Anto itu juga turut terjun untuk melakukan aksi penyelamatan di ponpes tersebut. Hanya saja, dia tidak datang bersama Mbah Dewo. Melainkan datang dengan relawan yang lainnya.
“Mbah Dewo ini berangkat Senin malamnya. Nah kalau saya sampai di ponpes Selasa sorenya,” ungkapnya.
Baik Mbah Dewo, Anto, maupun relawan lainnya mengaku mereka datang karena memang panggilan dari hati. Tak pernah terbesit seberapa imbalan yang diberikan.
“Bisa menyelamatkan satu nyawa itu tidak ternilai harganya,” tandas Mbah Dewo. (*)
Editor : Mahfud