Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Tragis! Awalnya Ingin FOMO ABG-ABG Ini Harus Ujian dari Balik Jeruji Besi

Hilda Nurmala Risani • Kamis, 2 Oktober 2025 | 17:44 WIB
Siswa yang terpaksa ujian di lapas setelah jadi tersangka penjarahan.
Siswa yang terpaksa ujian di lapas setelah jadi tersangka penjarahan.

Pesan dari Wali Kelas Jadi Pembangkit Semangat

 

Semula, mereka larut dalam hiruk pikuk demonstrasi yang berakhir rusuh. Ikut-ikutan melakukan penjarahan. Nahasnya, harga yang harus mereka bayar sangatlah mahal.

------------------------------------

 Empat anak baru gede (ABG) duduk rapi di ruangan kecil berukuran 4x4 meter. Di kursi plastik warna putih. Menghadap meja kayu yang berlapis taplak meja hitam di bagian atas. Kemudian, kain merah bermotif batik membalut di setiap sisinya, menutupi kaki-kaki meja.

Anak-anak itu adalah pelajar di salah satu SMP di Kabupaten Kediri. Bersiap mengikuti ujian tengah semester (UTS). Namun, bukan di sekolah melainkan di salah satu ruangan milik Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri.

Di ruangan yang berfungsi sebagai perpustakaan itu juga ada petugas lapas dan penasihat hukum (PH) para bocah yang jadi tersangka kasus kerusuhan dan  penjarahan 30 Agustus silam itu. Rofian, sang PH, mendatangi salah seorang anak yang akan ikut UTS. Menyodorkan handphone yang ada di tangannya ke bocah bernama CF.

Piye nak kabare, arep ujian ya iki (bagaimana nak kabarnya, mau ujian ya ini, Red)?” suara terdengar dari handphone. Singkat namun sangat menyentuh hati.

Bocah berusia 14 tahun itu menjawab. Suaranya terdengar bergetar. “Apik (baik, Red),” ucapnya singkat tapi sudah mampu menenangkan hati keluarga yang menunggu kepulangannya di rumah.

Tak menunggu lama, petugas dari Lapas pun memberikan alat tulis berupa bolpoin kepada masing-masing terdakwa. Hanya berbekal bolpoin dan satu lembar kertas kosong mereka mulai mengerjakan satu per satu soal yang dibawakan oleh Rofian dari sekolah.

“Sebelum ke sini (Lapas Kelas II A, Red) saya ke sekolah anak-anak terlebih dahulu untuk mengambil soal ujian,” terang Rofian kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.

Di bawah pandangan petugas dan tim PH, anak-anak itu masih menunjukkan semangat. Menuntaskan tanggung jawabnya sebagai pelajar.

Tiga puluh menit berjalan, mereka berempat mulai terlihat kesusahan menjawab soal bahasa Indonesia dan PAI. Di sela-sela waktu tersebut PH pun membangkitkan semangat dengan membacakan surat dari wali kelasnya.

Anakku sehat-sehat ya kalian di sana. Ibu dan teman-teman kalian sudah menunggu kepulanganmu. Saat ini sedang ada kegiatan UTS. Nanti setelahnya ada KTS. Gunakan waktu untuk ibadah. Semoga dapat jalan terbaik dari Allah

Saat pesan tersebut dibacakan, ada senyum tipis di raut muka mereka berempat. Mata salah satu anak itu juga berkaca-kaca. Seakan membayangkan betapa bahagianya bisa ikut berkegiatan dengan teman-teman sebayanya di sekolah.

“Saya kapok dan menyesal. Tidak akan mengulanginya lagi,” jawab mereka serentak ketika ditanya sang penasihat hukum.

 Baca Juga: Polisi Tetapkan Puluhan Tersangka Kerusuhan di Kantor DPRD, Pemkab, dan Samsat Kediri

Setelah selesai mengerjakan soal, salah satu terdakwa berinisial DR mengaku kesusahan menjawab soalnya. “Soalnya sulit karena tidak sempat belajar,” ungkapnya dengan lirih.

Menurutnya, kesulitannya ini dilatarbelakangi karena jadwal sidang yang cukup padat. Sehingga tidak sempat untuk menyisihkan waktu belajar.

Apalagi sejak masuk di dalam Lapas dia harus beradaptasi terlebih dahulu. Mulai dari tempat dan kegiatan sehari-harinya. Seperti kegiatan keagamaan hingga kegiatan jasmani.

“Sebelumnya saya tidak dikasih tahu. Jadi gak belajar,” terang pemuda asal Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri itu.

Pantauan koran ini, meskipun mereka berempat tampak kesusahan. Tapi tak ada satu soal yang terlewat. Mereka tetap menjawabnya meskipun tidak tahu pasti jawabannya.

Di lain sisi, tim PH berupaya memberikan reward dengan menanyakan satu per satu makanan yang sedang diinginkan. Nantinya akan disampaikan orang tuanya agar dibawakan ketika sedang menjenguk.

“Saya pengen donat,” tutur DA, yang juga rumahnya di Kecamatan Ngancar. Pernyataan itu pun disusul oleh terdakwa lainnya.

Permintaan makanan tersebut memang sederhana. Namun bagi mereka yang tinggal dengan segala keterbatasan pasti terasa lebih enak. Apalagi di usianya yang masih muda mereka harus merasakan ujian hidup yang berat akibat FOMO melakukan tindakan buruk.

“Kami juga menyampaikan kepada mereka agar menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran. Ini adalah risiko yang harus dijalani akibat perbuatannya. Semoga setelah keluar nanti mereka bisa menjadi pribadi lebih baik,” pungkas Rofian.

Salah satu pelajaran penting yang dapat diambil adalah peran keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh. Sebab salah pergaulan dan kurang pengawasan orang tua akan mengakibatkan masa depan anak menjadi rusak.(*)

 

Editor : Mahfud
#lapas #penjarahan #UTS #tersangka