Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Inspiratif, Pandu Laksono, Disabilitas Netra yang Piawai Memainkan Beragam Alat Musik

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 1 Oktober 2025 | 16:35 WIB
Pandu Laksono,s seorang disabilitas netra, memainkan biola,
Pandu Laksono,s seorang disabilitas netra, memainkan biola,

Bikin Grup untuk Kampanyekan Ramah Disabilitas

 

Jalan hidup membuatnya kehilangan penglihatan di usia emas. Toh, kondisi itu tak mematahkan semangat hidupnya. Sebaliknya, dia piawai memainkan banyak alat musik.

 

Pria itu berjalan perlahan. Keluar dari satu ruangan di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kediri. Tangannya menggapai-gapai. Mencari tahu apakah ada sesuatu yang menghalangi.

Setibanya di ruangan yang dia tuju, pria ini mengambil tas biola. Masih dengan meraba-raba. Setelah bisa meraih, dia kemudian membuka tas tersebut. Mengeluarkan biola dan memainkannya.

Suara yang dihasilkan gesekan senar dengan stik terdengar merdu. Tak terdengar nada fals. Satu hal yang sangat luar biasa bila melihat fakta bahwa lelaki yang memainkan adalah penyandang tuna netra.

“Mainnya agak kaku,” ucap pria itu merendah, bersambut dengan tawa renyah.

Pria itu bernama lengkap Pandu Permadi Laksono. Dia memang bukan penyandang disabilitas netra sejak kecil. Melainkan karena terkena glaukoma saat usia 20-an.

Hebatnya, Pandu tak cuma jago biola. Hampir semua alat musik bisa dia mainkan. Organ, gitar, drum, bahkan peralatan untuk disc jockey (DJ).

 “Asalkan tahu rumus musik, main semua alat pasti bisa. Hanya tinggal penyesuaian saja,” aku pria kelahiran 1993 ini, masih dengan nada merendah.

Uniknya, Pandu bukanlah pemusik ketika belum hilang penglihatan dulu. Hingga kuliah di salah satu sekolah tinggi di Kediri, dia adalah penyuka sepak bola. Sering berlaga di banyak turnamen hingga level provinsi. Perannya juga tak ‘kaleng-kaleng’. Pandu adalah seorang kapten kesebelasan.

Kisah hidupnya  mulai berbelok ketika dia hendak mendaftarkan diri menjadi sekuriti di Bank Indonesia (BI). Sebelum itu dia mencoba mengecek kondisi kesehatannya. Ternyata, ketika salah satu matanya ditutup, dia tidak bisa melihat.

“Singkatnya, saya ternyata terkena glaukoma,” kenang Pandu sambil mengatakan bahwa dia saat itu sangat shock dan jatuh mentalnya.

Oleh dokter, Pandu sudah divonis bakal mengalami kebutaan. Toh, dia tetap nekat meneruskan kegemaran bermain sepak bola. “Pada-pada bakal butane, mending bal-balan ae (sama-sama akan buta, lebih baik sepak bola saja, Red),” ucapnya mengulang dalihnya saat itu.

Kenekatannya ternyata berbuah manis. Sebelum dia benar-benar kehilangan penghilatan, satu prestasi dia raih bersama kesebelasannya. Yaitu menjadi peringkat kedua dalam Wali Kota Cup 2012.

“Saat itu kondisi sudah parah. Lihat papan skor di Stadion Brawijaya itu sudah blur sekali. Mata kanan sudah tidak bisa melihat sama sekali, yang kiri sudah burem,” kenangnya.

Setelah itu, kondisi matanya memburuk. “Bangun tidur tambah gelap, tambah gelap. Ketika saya bangun kok tambah gelap, saya tidur lagi. Bangun kok semakin gelap, saya tidur lagi. Begitu terus. Dan saya baru tahu, oh begini ya rasanya buta, gelap banget,” cerita Pandu.

Pandu yang patah asa lebih sering menghabiskan waktu di tempat tidur. Sedangkan kedua orang tuanya, Hendrick Suwarsito dan Iriani, tak lelah mengupayakan pengobatan.

 “Orang tua selalu menangis (melihat kondisi saya),” lanjut bungsu dari tiga bersaudara itu.

Fase seperti itu berlangsung berbulan-bulan. Waktunya hanya dia habiskan bermain dengan kucing anggora piaraannya. Hingga akhirnya dia mulai berusaha menerima keadaan.

Berikutnya, dia mencoba kesibukan lain, bermain sound system. Mencoba belajar dan merakit sound system.

“Kadang kesetrum, kadang bledos. Dibantu oleh orang tua juga,” ucapnya, menceritakan upayanya saat itu.

Pada 2016, Pandu melakukan rehabilitasi di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra (RSBN) Malang. Di tempat inilah menjadi titik balik pandangannya pada kondisi yang menimpa dirinya. Dia tercengang karena melihat ada banyak yang senasib dengannya.

“Saya kepikiran, wah mereka ini besok jadi apa ya,” ucapnya, menceritakan kembali keheranannya saat itu.

Singkat kisah, Pandu banyak belajar. Termasuk dari luar panti rehab. Dia bertemu banyak orang. Salah satunya seniman dan budayawan bernama Aji Prasetyo.

Sosok itulah yang hingga saat ini jadi inspirasinya. Juga mengajari bermusik. “Awal mula saya belajar musik dari beliau. Diawali dengan belajar biola,” jelasnya.

Pandu adalah sosok yang tekun. Dia terus mengasah kemampuannya. Selain itu, Pandu juga orang yang suka mencoba banyak hal. dia pun mencoba. Dan belajar semua alat musik.

Dari kemampuannya itu, Pandu juga membentuk grup musik. Salah satu tujuannya untuk mengampanyekan ramah disabilitas.

Setelah sempat lama di Malang, Pandu pun memutuskan untuk pulang ke Kediri. Ternyata,  karena konsentrasinya di bidang pemberdayaan disabilitas, di Kediri dia diterima untuk bergabung di Dinsos Kota Kediri. Menjadi staf bidang rehabilitasi sosial. Statusnya saat ini adalah pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) paruh waktu.

Hingga kini, selain menekuni pekerjaannya itu, di luar pekerjaan dia juga terus memberdayakan teman-teman disabilitas. Mengajak para disabilitas untuk terus semangat.

Salah satunya dengan mengkampanyekan ramah disabilitas di panggung-panggung. “Sering kami teman-teman disabilitas membawakan lagu di Brantas. Dan itu selalu didukung. Bahkan ketika persiapan-persiapan, misal angkat-angkat sound atau menata-menata itu juga dibantu oleh pengunjung,” jelasnya.(*)

Editor : Mahfud
#Disabilitas Netra #musik