Ramp Walk-nya Cantik meski Tak Dengar Musik
Keterbatasan secara fisik tak mengerdilkan semangat hidupnya. Rundungan yang datang bertubi pun tak menggoyahkan tekadnya. Berprestasi di jalur yang terlihat mustahil bagi orang sepertinya, modeling!
Tangannya sibuk mengetik di gawainya. Menulis sebaris kata-kata. Namun, usai menyelesaikan kalimatnya, dia tidak menekan tombol kirim. Melainkan memberikan gawai itu kepada Jawa Pos Radar Kediri. Meminta untuk membacanya.
Ya, itu memang caranya berkomunikasi. Terutama yang tidak bisa berbahasa isyarat. Sebab, gadis cantik bernama lengkap Selvi Mulyasari itu memang penyandang disabilitas pendengaran. Kekurangan fisik yang dia derita sejak balita.
“Boleh cerita tapi aku ngga kuat (menceritakan). Aku pernah dibuli.”
Kalimat-kalimat itu yang dia tulis di gawainya. Yang ditunjukkan kepada Jawa Pos Radar Kediri. Menunjukkan sepenggal kisah hidupnya yang diwarnai perasaan kelam akibat perundungan. Ketika menyodorkan kata-kata itu, mata Selvi-sapaan sehari-harinya-berkaca-kaca.
Ya, perjalanan hidup gadis 18 tahun ini memang diwarnai kepedihan. Kerap hatinya dilanda frustasi. Penyebabnya adalah sikap sebagian teman sebayanya yang tidak bersahabat. Sering melakukan perundungan.
“Dulu saat kecil sering di-bully. Dikatain budeg (tak bisa mendengar, Red). Ga usah sama Selvi karena budeg,” timpal Nurlaeli, ibu Selvi, menjelaskan maksud tulisan sang anak.
Ketika sang ibu berbicara dengan Jawa Pos Radar Kediri, Selvi menghidupkan Transkripsi Instan, aplikasi yang dibuat Google untuk menerjemahkan perkataan menjadi tulisan. Cara ini dia pakai untuk memahami obrolan orang di sekitarnya.
Rundungan secara verbal seperti itu memang kerap dia dapatkan. Tentu saja pemicuknya karena kondisi fisiknya. Dan, dia mengakui, situasi tersebut menggoyahkan perasaannya. Untungnya, dukungan kedua orang tuanya sangat besar. Memubatnya bisa terus bangkit ketika mulai terpuruk.
“Saya dalam di hatiku, dan peluk hatiku harus kuat. Aku meluruskan menjalankan dengan Allah, wajib ingat Allah dan orang tua, juga dan saya sampai kuat kalau dibuli, tapi Allah melindungi ke saya,” tulis Selvi di gawai.
Tulisan itu adalah cara gadis tersebut memotivasi dirinya sendiri. Tekad yang dia tanamkan di hati agar selalu mendekatkan diri pada Sang Khalik.
Sang ibu memang selalu mendampingi buah hatinya dengan sabar dan tanpa lelah. Memberinya semangat dan motivasi hidup ketika mendapat tekanan seperti itu.
“Kalau tuli ada prestasi, banyak yang suka. Tapi kalau bodoh (tidak punya prestasi, Red), walaupun kondisinya sesempurna apapun, yang suka (temannya, Red) sedikit,” ucap Nurlaeli, mengulang pesan yang diberikan kepada sang anak ketika frustasi akibat perundungan.
Berkat kekuatan hatinya, serta dukungan orang tua, gadis kelahiran 2007 ini bisa menelurkan banyak prestasi. Utamanya di dunia modeling, foto, dan videografi.
Di antaranya adalah lomba fashion Show di Tulungagung pada 2023. Anak tunggal pasangan Mulyadi-Nurlaeli ini meraih juara favorit utama. Pernah pula jadi model terfavorit dalam event Komunitas Desain Kediri (KDK) 2023.
Ada pula juara harapan 1 dalam Festival Anak Sholeh Muslimah Beauty Contest 2024. Atau, The Best Fotogenic Model Star Jawa Timur 2024 di Surabaya. Itu hanya sebagian dari berbagai penghargaan yang dia peroleh di ajang fashion, model, dan fotografi.
“Yang pertama saat SD, acara sekolahku di SLB (sekolah luar biasa, Red) Grogol tahun 2014/2015,” tulis Selvi terkait ajang lomba fashion show pertama yang dia ikuti.
Setelah menulis kalimat itu, Selvi beranjak dari tempat duduk. Menunjukkan berbagai piala yang dipajang di etalase ruang tamu. Juga berbagai sertifikat dan piagam yang disimpan dalam album.
Selvi punya ketertarikan di dunia model sejak belia. Saat kecil, ketika ada back ground yang indah, dia suka bergaya.
“Dulu saya suka pose gayanya fashion show. Nah kan itu sejak kecil pas TK sedikit paham gaya pose,” jelasnya dalam pesan di HP yang dia tunjukkan. Berikutnya, disusul dengan tawa renyahnya.
Untuk mengasah diri, dia belajar secara otodidak. Hanya melihat orang lain ber-ramp walk-cara model berjalan di catwalk-saat fashion show. Atau melihat contoh dari juri ketika Selvi ikut event.
“Saya pengalaman latihan fashion di rumah sendiri tanpa latihan modeling. Pas itu (di)contohkan,” jelas gadis asal Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto ini.
Tentu, bukan pekerjaan mudah bagi seorang disabilitas bisu tuli memeragakan ramp walk atau runway walk yang cantik. Sebab, agar bisa melakukan itu setiap langkah model harus selaras dengan musik yang mengalun. Padahal, Selvi tentu saja tak bisa mendengar alunan irama musim yang diputar.
Toh, penampilannya tetap memukau. Gaya berjalannya di catwalk pun terbilang cantik. Terbukti berbagai penghargaan yang dia dapatkan.
“Saya nggak dengerinnya audio (musik iringan saat catwalk, Red). Kalau mau ikut fashion show tanpa suara. Saya hanya lihat itu, jalur dan penonton saja, tanpa dengerin. Yang penting percaya diri,” jelas gadis yang juga punya banyak penghargaan lomba merias, cerdas cermat kajian islam, dan lomba lainnya tersebut.
Selain pandai modeling, Selvi juga pintar mempersiapkan masa depannya. Uang hadiah dari berbagai lomba tidak dia buang-buang percuma. Melainkan dia investasikan untuk merintis persewaan kostum. Selain tetap mengasah kemampuannya di berbagai bidang, terutama modeling, gadis ini ingin berwira usaha. Membuka usaha penyewaan pakaian dan kostum.
“Saat ini kegiatan sehari-hari belajar, menambah skill, ngaji khusus isyarat tuna rungu. Ikut organisasi Gerkatin (gerakan kegiatan tuna rungu, Red) ikut kepemudaan tuna rungu. Ikut ekstra rohis di sekolah dan ikut kegiatan kemasyarakatan di rumah,” jelas siswa kelas XII di SMKN Ngasem ini.(*)
Editor : Mahfud